KEUTAMAAN BERJEMAAH DAN PERTANIAN ORGANIK

LM 3 MODEL PONDOK PESANTREN PABELAN

Sulit mencari kotoran sapi,” ujar Triyandono, wakil ketua Kelompok Tani  “Rukun Tani” Desa Baturono, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Padahal, paparnya, kotoran sapi sangat diperlukan untuk pupuk dalam sistem pertanian organik. Triyandono dan sekitar 30 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani “Rukun Tani” dengan luas hamparan sekitar 17 hektar, sudah sejak setahun lalu menerapkan pertanian organik dengan metode SRI (System of Rice Intensification). Ini setelah ia dan kawan-kawannya bergabung dengan LM3 Pondok Pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang.

Begitu vitalnya kotoran sapi bagi mereka. Karena itu tidak berlebihan jika mereka berharap pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian (Deptan), memberi bantuan sapi kepada mereka. “Kami ingin memperoleh bantuan sapi,” kata Ketua Kelompok Tani “Rukun Tani”, Sukisno, polos.

Triyandono menyebutkan, sebelum menerapkan SRI rata-rata lahannya menghasilkan 5 kw padi per 1.000 m2 (1 kiso). Dengan SRI  produktivitasnya meningkat menjdi 6 kw. “Satu kiso saya biasanya memperoleh Rp 1,25 juta, sekarang bisa Rp 1,6 juta,” paparnya.

Hal senada dikatakan Muslichun. Menurut Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Hijau Kuning Desa Kalijoso, Kecamatan Secang, itu para petani yang dipimpinnya sudah menerapkan metode SRI dan pertanian organik sejak tiga tahun silam. Sejak itu hasil padi petani meningkat. Jika sebelumnya produksi petani cuma 4 kw per kiso, sekarang menjadi 5-6 kw. “Pengetahuan dan pengalaman kami juga bertambah,” ujar Muslichun yang memimpin lima kelompok tani –satu kelompok 10-15 petani.

Ia menyebutkan, dari 150 hektar hamparan sawah petani, baru 25 hektar yang bergabung dengan LM3 Pabelan. Awalnya hanya 15 petani yang bergabung, sekarang sudah ada 70 petani. “Makin lama makin banyak yang bergabung karena pertanian menjadi lebih gampang dan lebih menguntungkan,” papar Muslichun.

Tidak hanya penghasilan yang meningkat. Dengan SRI pemakaian benih padipun bisa dihemat. Selain itu, karena pertanian organik, petani tidak lagi membutuhkan pupuk-pupuk kimia seperti urea, TSP, dan lain-lain. Juga tidak membutuhkan obat-obat kimia seperti pestisida, hermisida, insektisida, dan lainnya. Dengan kata lain ongkos produksi bisa ditekan. “Kebutuhan urea yang biasanya 50 kg, kini jadi 10 kg,” terang Triyandono yang mengaku belum bisa sepenuhnya menerapkan sistem organik. Tapi ia yakin lambat laun dirinya akan beralih sepenuhnya ke pertanian organik.  Muslichun menambahkan, kebutuhan benih padi yang semula 35 kg per hektar, kini cuma 10 kg per hektar.

Menurut Sukisno, LM3 Pabelan telah mengajari petani cara membuat pupuk cair, kompos, dan obatanobatan organik. “Kami banyak memanfaatkan buah mojo yang rasanya pahit untuk campuran membuat obat,” ujarnya penuh semangat. Gadung dan mahkota dewa juga kerap dijadikan campuran untuk obat-obatan organik.

Sukisno merasa beruntung telah bergabung dengan LM3 Pabelan. Melalui pertemuan rutin yang diadakan tiap bulan di hari Rabu yang mereka namakan selapanan itu,para petani banyak memperoleh tambahan ilmu dan pengetahuan. “Wawasan kami makin terbuka. Tidak hanya soal cara bertani organik, kami juga memperoleh pengetahuan tentang pascapanen, cara beternak, memelihara ikan,” aku Sukisno.

Menurutnya, ia dan kawan-kawan beralih ke pertanian organik dan sekaligus menerapkan metode SRI karena melihat keberhasilan LM3 Pabelan mengembangkan teknologi ini. “Saat pertama kali menerapkan cara ini memang sulit, tapi setelah terbiasa petani kok malah ketagihan,” tuturnya sembari tertawa.

Hal ini tak lepas dari tradisi petani yang secara turun temurun telah menerapkan pertanian sistem konvensional. Misalnya: menanam padi dengan jarak rapat (20×20 cm2), sawah harus selalu tergenang air, dan satu lubang bisa diisi 5 bibit. Karena itu mereka tidak gampang menerima begitu saja ketika teknologi SRI diperkenalkan oleh Nunun Nuki Aminten, manajer LM3 Pabelan.

“Tidak gampang mengubah perilaku dan kebiasaan petani,” ujar Nunun Nuki Aminten yang akrab disapa Nuki.  Menurut Nuki, cara cepat dan jitu mengubah perilaku petani adalah dengan contoh. Jika ada petani yang berhasil dengan teknologi baru, maka serta merta petani akan menirunya.

Metode SRI

LM3 Pondok Pesantren Pabelan, Desa Pabelan,  Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, dengan motor penggeraknya Nuki, adalah pelopor sistem penanaman padi dengan metode SRI. Awalnya hanya 11 kelompok tani yang mengikuti jejak Nuki. Sekarang sudah ada sekitar 30 kelompok tani yang menerapkan metode SRI.  Semuanya petani yang berdomisili di Kabupaten  Magelang. “Mereka bergabung dengan LM3 setelah  melihat keberhasilan petani lain,” ujar istri salah satu Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan, KH Ahmad  Musthofa.

Tidak hanya petani atau kelompok tani yang  mengikuti jejak Nuki menerapkan metode SRI. Para PPL  (Penyuluh Pertanian Lapangan) dan PPS (Penyuluh  Pertanian Swadaya) juga mengikuti jejak putri sastrawan Ajip Rosyidi ini.

Sebelum mengajak orang lain (petani lain), Nuki  sendiri telah menanam padi dengan metode SRI. Dengan  metode ini bibit padi sudah ditanam saat berumur muda  (6-8 hari) -–petani biasanya menanam setelah bibit tua  (lebih dari 12 hari, bahkan ada yang menanamnya setelah  bibit berumur 30-35 hari)—, tanam dangkal, jarak tanam  lebar (25×25 cm2 atau 30×30 cm2) –petani biasanya  menanam dengan jarak 20×20 cm2, dan air tidak  menggenang (macak-macak) – petani biasanya menggenangi sawahnya. Eksperimen Nuki ini sukses.  Kesuksesan inilah yang membuatnya gampang mengajak  petani lain menerapkan teknologi/metode serupa.

Dari 369 desa/21 kecamatan yang ada di  Kabupaten Magelang, sebanyak 20 desa/6 kecamatan telah  menerapkan metode SRI plus pertanian organik. “Saya  ingin 50% desa di Magelang sudah mengadopsi pertanian  organik,” harap wanita yang ramah tapi tegas itu. Nuki  optimis pertanian organik makin diminati petani. Apalagi  jika terbukti memberikan hasil lebih kepada petani. Untuk  itu Nuki tak segan-segan membantu petani.

LM3 yang dipimpinnya memberikan penyuluhan  dan pembinaan kepada para petani. Bahkan ia  menyediakan modul-modul pelatihan/cara bertani dengan  metode SRI, cara pertanian organik, cara membuat pupuk  cair, kompos, dan obat-obatan organik.   Uniknya, Nuki rajin mendatangi petani untuk  memastikan bahwa petani menerapkan secara benar  metode SRI dan pertanian organik malai panjang petani  untung yang diperkenalkannya. Ia juga mengajak para PPL  dan PPS untuk bersatu padu menyejahterakan petani.

Menurutnya, Islam mengajarkan umatnya untuk  berjamaah. Shalat berjamah lebih afdhol ketimbang shalat  sendiri-sendiri. Ini maknanya segala aktivitas, termasuk  bertani lebih bagus kalau dilakukan secara bersama-sama.  “Keutamaan berjamaah tidak hanya untuk shalat, tapi juga  untuk pertanian. Bertani dengan berkelompok lebih baik  dan lebih barokah,” ujar wanita kelahiran Majalengka, 20  April 1956, itu.

Nuki menuturkan, jika kita menanam padi dan  berhasil memanennya, itu tentu bagus. Tapi, andaikata  tidak berhasil, misalnya karena padinya dimakan wereng,  kita harus ikhlas sebab wereng juga makhluk Allah.  “Bertani itu penuh dengan barokah karena ada hal-hal yang  tidak bisa dikalkulasi dengan rasio kita,” terang wanita yang  menjadi santri Pabelan selepas SMP.

Nuki yang mengaku mengenal metode SRI dan  pertanian organik dari buku-buku/majalah yang pernah  dibacanya itu, mengatakan kendala bagi pengembangan  metode SRI dan pertanian organik adalah ketersediaan modal dan pembimbingan. Karena itulah ia meminta  kepada petani yang sukses untuk menularkan ilmunya  kepada petani yang lain.

Menurut Nuki, petani harus peduli dengan  kesuburan tanah yang menjadi tempat bercocok tanam  sepanjang masa. Sebelum ada LM3, ia sudah 2-3 kali  mencoba menanam dengan sistem organik agar petani juga  mau mencobanya. Dan hasil ujicobanya ini baru terlihat  beberapa tahun kemudian. Setelah berhasil, barulah para petani menirunya.

“Di pesantren, kita mengajarkan hal-hal yang praktis dan nyata. Tadinya mereka tidak percaya menanam satu bibit bisa tumbuh anak sampai 30,” kenang Nuki.

Mantan Kepala Desa (Kades) Pabelan, 1989-2007,  itu juga membuat pupuk organik, obat-obatan organik, dan  juga membuat starter pupuk organik yang diberi nama  Power. Pengalaman ini kemudian ia tularkan kepada petani, baik secara individu maupun melalui kelompok tani binaan seperti yang terdapat di Desa Baturono.

Nuki mengaku tidak gampang mengubah perilaku  petani yang sudah puluhan tahun menerapkan metode  pertanian konvensional. Karena itulah ia tidak  mengharuskan petani binaannya untuk mengikuti semua ketentuan yang berlaku dalam metode SRI. Penggunaan pupuk urea, misalnya, tidak perlu langsung dihilangkan sama sekali.

Tapi sedikit demi sedikit dikurangi. Baru setelah  3-5 kali musim tanam, pupuk organik diterapkan sepenuhnya. Selain itu, jarak tanam juga tidak perlu langsung jarang. Jika petani merasa jarak tanam yang ia anjurkan (30×30 cm2) dinilai masih meninggalkan ruang ‘kosong’, petani tak mengapa menanam dengan jarak tanam 20×20 cm2. Sebab Nuki yakin kalau petani sudah menerapkan tanam tunggal dengan air macak-macak,

maka petani akan melihat rumpun padi yang banyak dan saling  berdesakan’ sehingga pada musim tanam berikutnya petani akan menjarangkan jarak tanamnya.

Upaya Nuki menyebarkan teknologi pertanian yang ramah lingkungan didukung oleh para PPL dan PPS  yang ada di wilayah itu. Demikianlah usaha keras dan dilakukan bersama-sama akan menuai hasil.

About dmulyadi

Nama saya dedi mulyadi dilahirkan di ciamis 29 Agustus 1962. Bekerja di Kementerian Pertanian Jakarta. Tinggal di Ciawi Bogor
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s