DUA HEKTAR YANG MENDUNIA

LM3 MODEL  PURA SUBAK WONGAYA BETAN

Segelas teh manis sore itu, seolah segera menggantikan tenaga yang terkuras saat mencapai lokasi Subak Wongaya Betan di Desa Mangesta, Kecamatan Panebel, Kabupaten Tabanan, Bali ini. Tak hanya jaraknya yang 55 kilometer dari Denpasar, situasi jalannya pun berliku dan naik turun. Tak heran jika pertama kali menuju lokasi ini, energi seolah tersedot. Ketika minuman itu dihirup ternyata aromanya sangat khas. Ternyata ‘teh’ yang disajikan itu bukan sembarang teh. Tapi minuman yang terbuat dari seduhan beras merah.

“Ini hasil inovasi terbaru kami pada 2009 ini,” ujar I Nengah Suarsana dari Subak Wongaya Betan. Beras merah dari Kecamatan Panebel memang terkenal di negeri ini. Kandungan vitamin B nya yang tinggi, aromanya yang khas, rasanya pun sangat pulen. Tak heran jika ada petinggi di negeri ini menjadi pelanggan tetap beras khas Panebel ini. Sejak awal dibentuk, Subak yang satu ini memang mengunggulkan beras merah. Istimewanya cara tanamnya menggunakan konsep pertanian alami yang berkelanjutan dengan sistem subak. Subak sendiri dikenal sebagai suatu organisasi pemakai air di Bali dan terkait dengan aspek pertanian.

Subak telah dikenal sejak pertengahan abad XI Masehi dengan filosofi Tri Hita Karana (THK). Yaitu tiga sumber penyebab kesejahteraan dan kebahagiaan atau kerahayuan dalam kehidupan semua machluk Tuhan. Karena itulah Subak bukanlah sekadar ‘lukisan’ hamparan sawah yang memesona dengan sistem teraseringnya. Tapi juga memiliki nilai manajemen, musyawarah, demokrasi, partisipasi, keuletan, keadilan, dan ketebalan rasa kebersamaan.

Sewajarnya, jika sistem pertanian alami yang berkelanjutan ini sudah ada dalam subak itu. Karena seperti yang disebut Nengah konsepnya menyatu dengan Agama Hindu, yang ada hubungannya dengan alam, dengan manusia, dan dengan Tuhan. “Tiga hal itu pada hakekatnya adalah pertanian berkelanjutan,” ujarnya. Sayangnya, sistem itu kemudian dilupakan, apalagi saat penggunaan pupuk kimia mulai menyeruak. “Saat itu saya merasakan ada yang dilupakan. Terutama menyangkut perhatian pada alamnya,” ujar Nengah. Pada 2004, Nengah menyaksikan kondisi alam di sekitarnya begitu memprihatinkan garagara penggunaan pestisida.

“Tak ada lagi katak, cacing di sawah kami,” kisah Nengah. Tanda itu, menurutnya berarti tanahnya sudah kritis, tak ada lagi rantai kehidupan yang menyuburkan tanah tempatnya mencari hidup. Tak gampang, mengubah pola pikir yang sudah terlanjur dibentuk para rekan sesama petani di daerahnya. Akhirnya pada 2004 bersama I Nyoman Suarya, seorang pensiunan TNI yang kini menjadi petani, dan dua teman lainnya, Nengah kemudian mengolah sawah mereka seluas dua hektar.

Bersamaan dengan itu, pada tahun 2005, wilayah tempatnya tinggal menghadapi masalah menyangkut limbah peternakan ayam ras petelur yang mencemari lingkungan di Dusun Wongaya Betan. Di daerahnya, ternak juga merupakan komoditas pertanian yang menjadi andalan bagi masyarakat Wongaya Betan. Tak heran jika hampir setiap rumah tangga memiliki ternak, terutama sapi, ayam dan babi. Ayam ras petelur milik masyarakat menghasilkan limbah terutama feses yang sangat banyak. Yaitu sekitar 3-4 ton per hari (hanya di dusun Wongaya Betan). Jumlah yang cukup banyak dan menimbulkan berbagai masalah lingkungan.

Untuk mengatasi masalah lingkungan yang berimbas pada masalah  kesehatan, sosial dan ekonomi itu,  pada tahun 2005 mereka berusaha mencari teknologi untuk jalan keluarnya. Akhirnya bertemu dengan seorang Penyuluh Pertanian dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Wayan Alit Artha Wiguna.

Sosok yang akrab dipanggil Pak Alit inilah yang kemudian mengajarkan beberapa anggota subak Wangaya Betan mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik dan memanfaatkannya dalam sistem budidaya padi. “Ketika itu hanya empat orang petani, termasuk saya, yang bersedia melakukan-nya,” ujar Nengah. Beruntung percobaan yang mereka lakukan hasilnya sangat memuaskan.

Produksi padi meningkat cukup tajam, dari rata-rata 4 ton menjadi 5,2 ton per ha. Pada awal tahun 2006, jumlah petani yang mengikuti jejak Nengah menjadi 10 orang, hasilnya pun sangat mengembirakan, bahkan beberapa anggota subak mampu menghasilkan 6,7 ton per ha Gabah Kering Panen (GKP). Kelompok tani mulai terbentuk, termasuk jalur permintaan bantuan pada pemerintah.

Sambil terus bergerak, kelompok tani ini membangun secara swadaya sebuah ruangan kelas di atas tanah bekas kandang ayam. Ruang yang luasnya 16 x 6 meter ini menjadi prioritas karena menurut Nengah, diperlukan untuk menjadi tempat berlatih para generasi tua yang menaruh perhatian konsep bertani alami yang dicanangkan di desa tersebut. Untuk melengkapi kelasnya itu, kemudian Nengah mengajukan bantuan melalui LM3. LM3 atau Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat adalah dasar pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis dari Kementerian Pertanian yang sudah dilaksanakan beberapa tahun lalu untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran di pedesaan.

Pada akhir tahun 2006, tepatnya bulan Nopember  2006 LM3 Subak Wongaya Betan mendapatkan bantuan dana dari Badan SDM Pertanian melalui Balai Diklat Pertanian NTT, untuk pengadaan 90 ekor sapi, sehingga seluruh anggota LM3 memiliki sapi dalam rangka pengembangan pertanian organik. Selain itu juga diberikan bantuan dana dari sumber yang sama dalam rangka pengadaan fasilitas belajar, berupa komputer, meja, kursi, LCD, perpustakaan dan lainnya. Arah menuju produk pertanian organik, pun segera disiapkan. Antara lain dengan mengembangkan Internal Control System (ICS) melalui kerjasama dengan Bali Organic Association (BOA). Hal yang dipantau adalah tanah sawah, air irigasi, pupuk organik yang dibuat petani baik yang padat maupun yang cair (biourine) serta beras yang dihasilkan. Pada awal kajian yang dilakukan BPTP kandungan bahan organik tanah sawah rata-rata kurang dari satu persen.

Tapi, kini setelah hampir tiga tahun atau enam musim tanam menggunakan pupuk organik, ternyata bahan organik tanah sawah meningkat menjadi lebih dari 2-3 persen. Selain itu hasil analisis pada September 2008, yang dilakukan BPTP di Laboratorium Scofindo, mendapatkan bahwa semua jenis padi lokal yang dihasilkan di kasawan LM3 Subak Wongaya Betan telah bebas dari residu pestisida organochlorine. Kondisi tersebut mampu memberikan nilai tambah dalam pengembangan agribisnis padi organik bagi LM3 Subak Wongaya Betan Waktu pun berjalan, perilaku yang dicontohkan para pendiri subak ini kemudian dalam waktu relatif cepat mulai menular dari dusun ke desa, antar kabupaten, provinsi, bahkan ke luar sendiri. Tercatat, ada LM3 di Banten, Goa, Biak bahkan Timor Leste. Pelatihan di kelas itu berlangsung, paling tidak 6 kali setiap bulannya. Ini belum termasuk kunjungan dan petani yang langsung datang sendiri-sendiri untuk melakukan konsultasi.

Semua yang datang belajar dan berkunjung mengaku puas. Ini terlihat dari respon bahwa banyak yang datang mengundang anggota LM3 subak ini sebagai pembicara atau nara sumber di daerah mantan para peserta yang pernah dilatih di Subak Wongaya Betan ini. Belum lagi, dibanggakan oleh mantan peserta di sebuah forum resmi. Seperti yang terjadi pada 2008 saat menjadi narasumber di sebuah seminar yang digelar di Gedung Bappeda Provinsi Bali.

Seorang peserta berkomentar jika ingin pertanian Bali maju seharusnya datang ke Subak Wongaya Betan. “Bangga hati saya mendengar komentar itu,” katan Nengah yang saat itu menjadi narasumber . Respon lain dari mantan peserta ada di daerah Banten, ternyata juga membangun

kelas, meski di atas kolam ikan. Ukuran dan bentuknya sama persis engan ruang kelas di Wongaya Betan. Kini, konon pertanian/perikanannya di Banten itu sudah maju.

Di Timor Leste, pesertanya pun yang sudah belajar sampai Korea mengakui puas dengan cara pelatihan yang digelar di Wangaya Betan. Proses teknologinya dengan mudah diaplikasikan di daerah yang pernah bergabung dengan negeri ini Kepuasan itu pun dibuktikan dengan para peserta yang berkali-kali datang untuk mempelajari lagi teknologi lain yang diaplikasikan di sini, bahkan beberapa bupati dari Timor Leste pun ikut datang ke berkunjung ke Tabanan ini. Yang menarik, subak ini juga sering menjadi proyek percontohan para peneliti dari luar negeri, seperti Australia, New Zealand, Filipina, Korea, juga Amerika. Bahkan, kini bekerjasama dengan Universitas Amazona untuk teknologi pertanian alami ini.

Tentu selain karena bantuan yang ada, subak ini pun beruntung memiliki petani unggul yang tahan banting dan piawai dalam menerapkan teknologi baru dan menjaga konsistensi konsep pertanian berkelanjutan ini. Jadi selain sudah berpengalaman, Nengah dan Nyoman, misalnya, selalu melakukan penyegaran soal teknologi baru dengan cara tak bosan mengikuti pelatihan dari BPTP (Badan Pengkajian Teknologi Pertanian) Bali, juga Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, bahkan dengan Lembaga Swadaya masyarakat atau LSM yang memiliki minat serupa, juga dengan sesama LM3 Model yang ada di daerah lain.

Dari sisi fisik, konsep yang diterapkan secara konsisten itu pun hasilnya telah terlihat nyata. Hasil panen misalnya, kini telah berhasil mencapai angka 10-12 ton per hektar, (sebelumnya kurang dari empat ton per hektar). Sementara itu lahan yang dikelola langsung pun meluas dari hanya dua hektarsawah kini ada 45 hektar.  Istimewanya, kini hampir seluruh Bali sudah mengaplikasikannya. bahkan di seluruh Indonesia. Yaitu Bogor, Aceh, Sulawesi, Kalimantan, juga Papua, bahkan negara tetangga Timor Leste).

Meski konsep pelatihan ini ada ‘ruh’ Balinya tapi ternyata cocok digunakan di mana-mana, walaupun aplikasinya kemudian ke perikanan, palawija, juga tanaman sagu.  Perkembangan fantastis ini, tak lepas dari peran pelatihan yang dilakukan LM3 itu. Awalnya yaitu dengan digelar Sekolah Lapang atau SL. Teknologi yang diajarkan adalah soal pembagian air di lahan pertanian yang dibagikan secara adil. Ini mulai soal bagaimana mengatur air, cara membaginya. Topik inilah yang paling banyak diberikan pada peserta pelatihan, dan lalu berlanjut pada pembuatan kompos, pupuk yang berasal dari kotoran hewan ternak.

Inovasi pun terus bergulir di sini. Antara lain pembuatan teh dari beras merah. Poses produksinya tak sulit, hanya dengan menyangrai — atau menggoreng tanpa minyakberas merahnya lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik. Ongkos produksinya tak begitu mahal, tapi harga jual beras merah yang satu ini kemudian berlipat dua. Sementara itu, harga beras merah kini beranjak naik dari Rp 6000 per kilogram, menjadi 10 ribu -Rp 12 ribu per kilogramnya. Sementara teh beras merah untuk teh menjadi  25 ribu per kilogram.

Inovasi lain juga digulirkan Kelompok Wanita Tani (KWT)nya. Yaitu kopi beras merah. Meski pembuatannya adalah perpaduan kopi dan beras merah 50-50persen, ternyata kelezatan kopi beras merah itu sama dengan nikmatnya kopi tulen

Bidang peternakan, pun menjadi perhatian istimewa. “Ini karena pertanian berkelanjutan yang alami selalu. Kondisi tersebut memberikan keyakinan pada anggota subak Wongaya Betan, bahwa pupuk organik mampu memberikan hasil lebih baik. Selain hasilnya meningkat, penggunaan pupuk kimia juga semakin berkurang, bahkan beberapa anggota subak sama sekali tidak memakai pupuk anorganik dalam budidaya padi.

Tapi perjalanan memang tak semulus yang dibayangkan. Konsep bertani yang menantang arus itu sempat membuat mereka di’musuhi’ rekan-rekan petani yang sudah terlanjur yakin dengan keampuhan pestisida. Bahkan juga oleh para pejabat setempat yang takut gara-gara konsep bertani kembali ke alam itu membuat produktivitas pertanian menurun. Para pejabat tak ada yang mau datang ke tempat kami, kata Nengah dan Nyoman berkisah. Belum lagi, bahan baku untuk pembuatan pupuk mulai kritis. “Karena ‘pabrik’ pupuk alias sapinya terbatas jumlahnya,” tambahnya.

Nengah tak putus asa. Adalah Forum Koordinasi Nasional (Fornas) 2006 di Malang, Jawa Timur yang ikut mengenjot Subak di Desa Panebelan ini. Dari pertemuan itu, Nengah tahu bahwa padi produksinya sangat berharga. Dari sana pulalah, kemudian jaringanterkait pada peternakan yang nota bene adalah penghasil pupuk alam,” ujar Nyoman. Selain poduksi kompos yang terus meningkat, urusan pakan pun terus dilakukan pembaharuan meski tetap berbasis pada alam sekitar. Kini sedang digulirkan proses fermentasi basah. Dengan pakan ternak basah itu, ternak bisa menyerap makanan secara lebih cepat, sehingga cepat kenyang, dan penghematan jumlah pakan ternak bisa 25persen lebih hemat.

Sebelumnya, Subak ini pun telah melakukan terobosan besar dalam pembuatan konsentrat. Bahannya bukan menunggu impor dari luar negeri, tapi memanfaatkan limbah yang ada di sekitar. Seperti kulit kopi, tongkol  jagung, serbuk kelapa, kulit kacang, bungkil kelapa, Efeknya pun tak kalah populer, yaitu berat potongnya meningkat 0,7persen.

Dengan adanya konsentrat ini akan memudahkan petani dari sisi pembuatannya. Sehingga kini setiap petani bisa memelihara 10 ekor, sebelumnya kurang dari empat ekor. Selain ternak potong, kini mereka juga sedang mengembangkan pembibitan sapi. Untuk teknologi ini, Nengah dan Nyoman berlatih di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Provinsi Bali.Dengan proses pemeliharaan yang serius, dari breeding sampai pola makan ternaknya, maka tak heran jika ternak sapi di Tabanan ini menyabet gelar juara nasional (kriterianya pakan ternak kering, basah, juga pembuatan konsentratnya) pada 2007. Sekarang karena terganjal proses administrasi cukup termasuk pada 10 besar saja. Tak heran jika subak ini pun terpilih menjadi LM3 model di Tabanan. Seperti kita tahu bahwa LM3 Model adalah LM3 unggulan yang memiliki potensi untuk menjadi Pusat Informasi dan Pembelajaran dalam pengembangan agribisnis (Centre of excelence) bagi LM3 lainnya dan masyarakat sekitar dan didirikan, dimiliki, dan dikelola oleh pengelola LM3 secara swadaya.

LM3 MODEL yang terbentuk dari, oleh dan untuk masyarakat lebih menekankan pada kemandirian dan pemberdayaan serta keswadayaan potensi masyarakat. Proses penumbuhan LM3 MODEL merupakan serangkaian kegiatan untuk memotivasi dan  mendorong terbentuknya LM3 MODEL melalui berbagai kegiatan bimbingan dan pelatihan.

Efek positif dari keberhasilan ini. ama daerahnya kini telah terkenal di mana-mana. Bahkan salah seorang peserta yang pernah dilatihnya memasukan Subak Wongaya Betan ini di internet. Tak heran jika subak di Desa  Panebelan ini sering dijadikan tempat untuk studi banding dari luar negeri. Bahkan jurnalis dari Swiss pernah meliput kegiatan LM3 ini. “Paling tidak, desa ini juga akhirnya punya peran untuk dunia pariwisata di negeri ini,” ujar Nengah sedikit bangga. Hamparan sawah yang subur dan indah dengan teraseringnya, memang terlalu sayang dilewatkan bagi para turis yang datang ke Bali. Semua keberhasilan boleh jadi sudah ada dalam genggaman. Paling tidak efeknya bagi anak-anak yang ada di dusun tersebut kini tak ada lagi yang putus sekolah. Rumah tinggal penduduk sekitar pun pelanpelan sudah berubah lebih permanen.

Acara keagamaan seperti ngaben yang dulu jarang diadakan, kini hampir setiap warga mampu melakukannya jika ada kerabatnya yang meninggal dunia. Padahal biayanya tak murah, minimal Rp25 juta. Selain krisis  moneter yang membuat hasil perkebunan dinilai lebih mahal dan membuat kehidupan masyarakat lebih sejahtera. tapi LM3 membuat kesejahteraan itu meningkat lebih cepat, terutama kearifaan para penduduk desa ini pada alam lingkungannya. “LM3 membuat semuanya berubah lebih cepat,” ujar Nengah.

Satu hal yang masih menjadi ganjalan adalah pemasaran, pasca produksi dan modal. Contohnya pemasaran teh beras merah ini, sejauh ini, baru bisa dilakukan di daerah Bali saja. Tapi, bukan berarti mereka berdiam diri, Kini mereka mencoba bekerjasama dengan rekan sesama LM3, pemerintah juga dengan swasta seperti BOA (Bali Organic Association) dan salah sat perusahaan Jerman yang memang memiliki minat untuk memajukan pertanian organik. “November ini, hasil pertanian kami full organik. tak lagi menggunakan pupuk berimbang,” ujar Nengah

Impian lain adalah menciptakan produk pasca produksi lainnya. “Saya kagum pada teman-teman di Jawa yang telah mengolah pasca produksinya dengan baik. Seperti kripik apel dan lain sebaganya,” katanya. Kelak mungkin selain teh dan kopi beras merah, bakal ada juga kripik cokelat, tanaman palawija yang mula dikembangkan.Kini, yang pasti

subak ini sedang berusaha menggoalkan cita-citanya untuk mendapatkan hak paten pada produksi beras merah organiknya. “Mudah-mudahan November ini keluar sertifikasinya, ujar Nyoman dan Nengah. Semoga saja segera harapan itusegera terlaksana, sehingga kekayaan warisan leluhur ini tak diambil alih negara lain. Nah sertifikasi ini pun selain memberikan berkah tapi ada konsekuensi lain, yaitu harus mampu  menyediakan dana untuk membeli setiap hasil panennya. Usaha mencari bantuan sudah digulirkan. Ini diakui Nengah sebagai kendala klasik yang selalu menghambat usaha seperti agribisnis ini. Tapi tak ada kata putus asa, Nengah dan teman-temannya punya strategi lain yaitu menggulirkan

sistem kontrak pada penjual dan pembelinya. “Mungkin itu jalan yang bisa dilakukan tanpa menggantungkan pada orang atau pihak lain. Tak hanya satu kan jalan menuju Roma, hahaha.,” ujarnya.

Paling tidak, kini yang sedang dijalankan adalah pengembangan penelitian yang dilakukan dengan BPTP Bali terutama dalam pemanfaatan berbagai limbah pertanian menjadi produk yang memiliki nilai tambah yang tinggi, seperti pakan ternak dan pupuk organik. Lalu pengembangan teknologi pembibitan sapi melakukan kerjasama dengan Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Bali, yang kini menjadikan Wangaya Betan sebagai Village Breeding Centre.

Berikutnya adalah pemasaran pupuk organik dilakukan kerjasama dengan Perwakilan PT. Lembah Hijau Multi Farm, Solo yang ada di Bali.  Selanjutnya menuju ke  sertifikasi produk organik tadi yang dilakukan kerjasama dengan Bali Organic Association (BOA) dan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan. Juga melakukan pengembangan pemasaran beras organik dengan PT. Management Subak Bali. Tak dilupakan adalah pengembangan energi Bio-gas bersama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Tabanan.

Cara lain dan inovasi memang terus digulirkan. Keuntungan yang diperoleh pun tak digunakan untuk hal yang tak penting. Terakhir, subak ini telah berhasil memperbaharui mesin penggilingannya. Kalau dulu hanya mampu 2 ton per hari, kini mereka siap menggiling padi sebanyak 10 ton per hari. Kalau sudah begitu, Subak Wongaya Betan dari Dusun Panebelan ini, memang pantas menjadi LM3 MODEL.

Tak hanya  penularan teknologinya yang sudah mendunia (karena tak digenggamnya sendiri), proses kreatif dan inovasinya pun pantas dicontoh.Tak heran jika kemajuan yang meniupkan angin segar di negeri ini, menjadikan teh beras merah sore itu, membuat tenggorokan siapapun yang meminumnya menjadi hangat dan lega.

(sumber directory LM3, 2009)

About dmulyadi

Nama saya dedi mulyadi dilahirkan di ciamis 29 Agustus 1962. Bekerja di Kementerian Pertanian Jakarta. Tinggal di Ciawi Bogor
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s