Cetak Generasi Religius Kuasai Teknologi

Pondok Pesantren Sunan Drajat mempunyai unit usaha–unit usaha yang dikelola secara profesional  dan produk yang dihasilkan didistribusikan untuk masyarakat luas.

Usianya sudah 63 tahun, namun Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Drajat (PPSD) Lamongan, Dr  KH Abdul Ghofur, masih tampak gesit. “Mari saya antar keliling pondok,” ujarnya mengajak penulis. Kiai Ghofur sendiri yang mengemudikan mobilnya. Sementara saya duduk di sampingnya, dan di  jok belakang ada sekretaris pondok dan seorang ustadz. Sembari mengemudi, Kiai menjelaskan  obyek-obyek yang tampak di depan kami.

“Pondok ini dibangun dengan kemandirian. Nggak perlu minta bantuan kepada wali santri,” ujar  Kiai Ghofur mengawali ‘ekspedisi’ menyusuri pesantren seluas 60 hektar dengan santri lebih dari  9.000 orang. Saat merintis pesantren peninggalan Sunan Drajat –salah satu dari Walisongo—pada  tahun 1985, lahan milik pesantren cuma seperempat hektar dan santri hanya lima orang.

Sasaran pertama yang dituju adalah pabrik air minum dalam kemasan bermerek “Aidrat” (Air Asli Sunan Drajat). Ia menjelaskan, seluruh kebutuhan air minum pesantren, termasuk untuk para  tamu, disuplai dari sini. Kebutuhan untuk  masyarakat sekitar pondok juga dicukupi dari pabrik ini.  Aidrat bahkan merambah pasar di Lamongan dan Kabupaten Tuban. “Dari Aidrat inilah kami bisa  membayar gaji untuk guru,” papar Kiai Ghofur. Selain memproduksi air minum dalam  kemasan gelas dan botol, Aidrat juga memproduksi dalam kemasan galon. Sortiran kemasan gelas dan botol dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri, termasuk untuk menjamu para tamu.

Kendaraan pick-up dan truk milik pondok hilir  mudik mengangkut Aidrat untuk didistribusikan  ke luar pondok. “Di sini Aqua saya ‘haramkan’ karena itu yang punya orang asing,” tandas Kiai Ghofur.

Selain pabrik air minum dalam kemasan, Pondok Pesantren Sunan Drajat juga  memiliki beberapa unit usaha. Antara lain pabrik pupuk, jus mengkudu (pace), garam beryodium, madu asma, usaha penggemukan sapi dan kambing, dan koperasi pondok pesantren yang menyediakan aneka bahan kebutuhan sehari-hari untuk santri dan masyarakat sekitar.

Kiai Ghofur kemudian membawa kami ke “Kisda” (Kawasan Industri Sunan Drajat). Letaknya tak jauh dari kompleks pemakaman Sunan Drajat yang selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah bahkan dari mancanegara. Ini adalah kawasan seluas sekitar 50 hektar yang menyimpan bahan baku untuk pupuk (phospat dan nitrogen). Penambangan bahan baku ini dilakukan oleh para santri. “Itu dulunya preman kemudian kita bina dan bekerja di sini,” ujar Kiai sembari menunjuk ke arah laki-laki yang berdiri di atas truk besar pengangkut galian tambang.  PPSD bekerjasama dengan PT Sang Hyang Seri untuk memproduksi pupuk phospat dan nitrogen.

Selain itu, PPSD juga memiliki stasiun radio, stasiun televisi, majalah dan percetakan.  Media ini sangat efektif membantu pesantren menjalankan program-program dakwahnya. Tak hanya itu, PPSD juga memiliki pabrik  bakso Nurjat (Nur Sunan Drajat) dan restoran Jasudra (Jasa Sunan Drajat) di Malaysia. Ketika ditanya mengapa membuka bisnis rumah makan di negeri jiran, Ghofur menjawab, “Di Malaysia itu banyak orang Lamongan dan Tuban.”

LM3

 Di bidang peternakan, PPSD memiliki unit usaha penggemukan kambing dan sapi. Saat ini ada sekitar 100 ekor sapi dan sekitar 500 ekor kambing. Kotoran ternak itu, dicampur dengan kangkung dan rumput gajah yang telah dikeringkan, digunakan untuk pupuk. “Kami membutuhkan 20-40 ton kangkung per bulan,” terang Kiai Ghofur yang mengharamkan rokok untuk para santrinya. Tak hanya rokok yang diharamkan, para santri juga tidak boleh memiliki handphone. Kecuali para mahasiswa.

Lokasi peternakan itu sekitar 70 km dari pondok, tepatnya di daerah Trawas. Unit usaha peternakan itu berada di areal seluas 20 hektar. Peternakan ini bekerjasama dengan PT Agrindo yang direkturnya lulusan PPSD. Setiap tahun PPSD menghasilkan lulusan sebanyak 2000 orang. “Sudah banyak alumni PPSD yang menjadi pejabat,” aku Kiai Ghofur.  Sedangkan di bidang pertanian, PPSD mengembangkan budidaya kemiri sunan yang bisa hidup  ratusan tahun. Kemiri ini dimanfaatkan untuk energi alternatif pengganti bahan bakar minyak  (BBM). “Kami memiliki jutaan bibit kemiri sunan,” ujar Kiai Ghofur.

Menurutnya, kandungan minyak kemiri sunan lebih banyak ketimbang buah jarak dan kelapa sawit. Karena itu kemiri sunan sangat layak dikembangkan sebagai tanaman penghasil energi.  PPSD juga menanam mengkudu dan buahnya dimanfaatkan untuk obat herbal (Javanoni). Ada  100 hektar lahan untuk mengkudu ini.  Bagi Kiai Ghofur menanam sama dengan ibadah. “Menanam itu merupakan amal jariah yang pahalanya terus mengalir,” paparnya.

Sembari mengutip sebuah hadis ia mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk umat. “Saya ingin menjadi orang seperti itu,” ujarnya.  PPSD, lanjutnya, ingin membantu pemerintah mengembangkan pertanian dan siap menjadi percontohan. Karena alasan itu pula PPSD memiliki sekolah pertanian. Menurut Kiai Ghofur, PPSD mengembangkan pertanian karena 70 persen wali santri hidup dari pertanian.

Pada tahun 2006 PPSD mendapat bantuan dari program LM3 (Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat) Kementerian Pertanian sebesar Rp 230 juta. Bantuan ini dibelikan 34 ekor sapi, dan sekarang sudah berkembang menjadi 55 ekor.

Tahun 2011 PPSD kembali menerima bantuan dari Kementerian Pertanian sebesar Rp 100 juta. Kali ini bantuan untuk program LM3 Model. Dengan bantuan ini PPSD menggelar sejumlah pelatihan pertanian. Peserta pelatihan dari dalam pondok pesantren sendiri.

Kiai Ghofur mengatakan, sudah selayaknya pemerintah banyak membantu pondok pesantren. Sebab, bantuan kepada pesantren akan tepat sasaran dan bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat. Apalagi jika bantuan itu dalam bentuk uang (fresh money). Karena itulah pihaknya  sangat senang jika menerima bantuan dalam bentuk uang, bukan barang, agar sesuai dengan kebutuhan. “Pondok pesantren itu kurang uang, jadi sangat pas kalau bantuan dalam bentuk uang,”  papar ayah tujuh anak itu.

Ia pernah menerima bantuan berupa mesin pembuat roti. Tapi, ternyata mesin tersebut tidak bisa dipakai. Di lain waktu ia juga pernah menerima bantuan berupa peralatan yang harganya telah di-mark-up. Tentu saja ia tidak mau menerima bantuan seperti itu. “Peralatan itu biar kami beli sendiri saja, nanti kalau uang dari bantuan itu kurang, akan saya tambah dari kantong sendiri,” tandasnya.

 Sejarah Pesantren

 Berawal dari obsesi besar untuk membangun kembali pondok pesantren peninggalan Sunan  Drajat, dan dengan orientasi menciptakan pesantren berkualitas yang mempunyai kemampuan  multidimensi, pada tahun 1985 Ghofur mulai merintis didirikannya tempat untuk mengkaji dan  mendalami ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Ia mendekati masyarakat dengan media seni  dan budaya. Salah satunya dengan cara mengajarkan seni bela diri (pencak silat) dan permainan

musik tradisional. Lambat laun orang-orang yang belajar semakin banyak dan  atang dari berbagai daerah.

Seiring dengan bertambahnya santri, dibangunlah asrama-asrama permanen yang dapat menampung ribuan santri. Dua bangunan besar berlantai dua untuk santri putra berdiri kokoh di antara taman-taman yang asri. Asrama-asrama itu diberi nama Al-Hambali, Al-Hanafi, Al-Maliki,  As-Syafi’i, Al-Ghozali, dan Walisongo.  Sedangkan untuk santri putri ada asrama Al-Fatimah, Az- Zahro, Al-Lathifiyah, Al-Khumairo’, dan Az-Zakiyah.

Selain itu juga ada aula besar yang dapat menampung ribuan santri. Di tengah komplek pondok pesantren berdiri megah Masjid Agung Sunan Drajat sebagai pusat peribadatan santri.  PPSD kemudian dilengkapi dengan lembaga-lembaga pendidikan formal seperti TK Al-Mu’awanah, MI Al-Mu’awanah, MTs Al-Muawanah, Madrasah Mu’alimin-Mu’alimat, Madrasah Aliyah Ma’arif 07 (ada tiga jurusan: IPA, IPS dan Bahasa, termasuk bahasa Jepang), SMP Negeri Sunan Drajat, SMK dengan 14 jurusan seperti multimedia, otomotif, teknik komputer dan jaringan, dan pelayaran,  Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM), dan STAIRA (Sekolah Tinggi Agama Islam Raden Qosim) dengan jurusan Ekonomi Syariah, Bahasa Arab, dan Tarbiyah.

Setiap santri hanya dipungut biaya Rp 200 ribu per bulan. Ini sudah termasuk biaya untuk pendidikan, uang asrama, dan makan dua kali sehari. Namun, santri yang tidak mampu secara ekonomi, dibebaskan dari biaya apapun. Saat ini terdapat sekitar 700 santri yang dibebaskan dari kewajiban membayar alias gratis.

Tidak hanya mereka yang tidak mampu yang gratis, santri-santri dari daerah tertentu seperti Papua dan Kalimantan juga gratis. “Orang-orang Papua dan Dayak juga gratis kalau mau nyantri di sini,” ujar Ghofur.

Para santri menjalani aktivitas penuh selama 24 jam sehari di pondok. Aktivitas harian santri PPSD seperti disajikan dalam Tabel berikut: Selain aktivitas harian, santri juga memiliki aktivitas mingguan, bulanan, dan tahunan. Aktivitas mingguan meliputi: istighatsah, pengajian umum, khitobiyah, dhibaiyah, qori’ah Qur’an, musyawarah kitab, pencak silat, sepak bola, kaligrafi, meeting bahasa asing, Jumat bersih, dan seni shalawat. Sedangkan aktivitas bulanan meliputi jamaah manaqib, musyawarah kubro (khusus untuk para guru), dan kegiatan Orda. Aktivitas tahunan meliputi haul akbar, peringatan hari besar Islam/nasional, milad pesantren, penerimaan santri baru, dan orientasi.

PPSD dirancang sebagai sarana pendidikan yang mempunyai cita–cita luhur. Selain mendidik para santri di kelas dengan berbagai ilmu pengetahuan agama dan umum, PPSD juga membekalinya dengan berbagai keterampilan sekaligus mengembangkan unit-unit usaha milik pondok. Sebagai kiai yang berpandangan luas, Ghofur menginginkan agar para santri nantinya mendapatkan bekal agama yang kuat serta dapat mengikuti kemajuan teknologi. Ia ingin mencetak generasi religius yang menguasai teknologi modern.

About dmulyadi

Nama saya dedi mulyadi dilahirkan di ciamis 29 Agustus 1962. Bekerja di Kementerian Pertanian Jakarta. Tinggal di Ciawi Bogor
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s