LM3 Model Yayasan Darul Ihasan Sukabumi – Mengelola Susu Olahan untuk Sekolah

LM3 YAYASAN DARUL IHSAN Jalan Sukabumi Cianjur Km 12 Kp. Ciburial RT 02/11,Desa Cimangkok Kec. Sukalarang, Kab. Sukabumi Telp. 0815 63200801 (Neneng Siti Rahma)

Yayasan Pendidikan Darul Ihsan yang berlokasi di Jalan Sukabumi Cianjur Km 12 Ciburial RT 02/11 Desa Cimangkok Kecamatan Sukalarang Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat, ini didirikan pada 2 Oktober 2006, oleh E.D. Muhyiddin. Yayasan tak hanya menggelar pendidikan tapi juga menjalankan agribisnis, terutama di bidang peternakan sapi perah. Susu yang diperoleh dari peternakan diolah menjadi yoghurt kemasan botol dan susu pasteurisasi kemasan bantal dengan merk Hasmilk. Pengelolaannya dikomandani seorang ibu rumah tangga yang juga berperan sebagai Ketua LM3 Darul Ihsan, Neneng Siti Rahma. Sebetulnya pengolahan susunya sendiri dimulai sejak 2005, sebelum Yayasan Darul Ihsan berdiri. Ini  berawal kepedulian dari sang pengelola terhadap pendidikan anak-anak di lingkungannya. “Minimal mereka sekolah sampai sekolah lanjutan atas lah,” ujarnya berkisah.

Saat itu, sosok yang baru pindah ke Sukabumi pada 2003, prihatin pada anak-anak di sekelilingnya yang menganggur, tak sekolah. Banyak dari mereka dituntut orang tuanya membantu perekonomian keluarga. Mereka memaksakan anaknya bekerja di pabrik, yang menerima seorang karyawan di bawah umur dan memperbolehkan menggunakan ijazah palsu untuk menjadi karyawan pada perusahaan tersebut. Di sisi lain, Neneng melihat ada potensi pengolahan susu yang bisa membantu anak-anak itu bekerja sekaligus melanjutkan sekolahnya.

Tapi untuk memulainya, memang tak mudah. Terutama dari sisi penguatan produksi dan kualitas. Dan perempuan ini tak putus asa, terus belajar, termasuk mengikuti pelatihan pembuatan yoghurt yang diprakasai Kementerian Pertanian di Cinagara, pada 2005. Padahal saat itu baru melahirkan anak ke-3, “Saya tidak merasa malu anak dibawa ke tempat pelatihan sambil menyusui,” kenangnya.

Semangatnya menciptakan produk olahan susu yang terbaik pun tak pernah padam, meski berulang kali gagal. Sampai akhirnya berhasil membuatnya. Pertamakali hasilnya yang dibuat dari lima liter susu itu, dibagikan kepada teman sekolah anaknya, tetangga, dan teman dekat. Beberapa waktu kemudian, seorang ibu memesan yoghurt. “Saat itulah saya bertanya pada diri sendiri, apakah yoghurt buatan saya sudah layak dijual?” ungkapnya. Begitulah, dari lima liter, pesanannya pelan-pelan bertambah menjadi 10 liter. Kini, Neneng telah berhasil memasarkan produknya sebanyak 400 liter per harinya.

Di antara waktu itu, pada 2008, usahanya kemudian bergabung dengan Yayasan Darul Ihsan. Bergabungnya usaha yoghurtnya dengan yayasan, memberikan hasil positif untuk dua belah pihak. Karena penggabungan tersebut, membuat usaha pengolahan susunya mendapat bantuan dari program LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat) dari Kementerian Pertanian, yayasan pun terbantu dalam soal keuangan. Bantuan dari LM3 diberikan dua tahap. Pertama pada Oktober 2008, dan yang kedua pada November 2010.

Manajemen peternakan terpisah dengan LM3 maupun yayasan, karena peternakan dikelola koperasi peternak Gunung Gede. Kerjasama antara LM3 dan koperasi diikat dengan MOU. Sementara ini pengolahan susu Hasmilk dijalankan di atas lahan seluas 300 meter, dengan peternakannya di lahan dua Hektare. Usaha ini pun masih menampung susu dari petani ternak lainnya melalui koperasi. Sistemnya, kemudian LM3 membeli susu dari koperasi.

Pengelolaan peternakan dikerjakan masyarakat sekitar yang dikelola koperasi. Untuk meningkatkan kualitas, LM3 bekerjasama dengan koperasi untuk menyiapkan kandang. Ada 50 ekor sapi yang berada di kandang yang disiapkan LM3, dan 50 ekor lagi dikelola oleh masing-masing peternak di rumahnya masing-masing. Satu kepala rumah tangga rata-rata memelihara sapi 3-4 ekor.

Saat ini ada seribu liter per hari susu sapi segar yang ditampung koperasi. Sebanyak 250-400 liter dipasok ke pengolahan susu Hasmilk, sisanya dipasok ke perusahaan susu seperti perusahaan pembuatan keju dan susu kental. “Harga jual Rp 4000 per liter,” kata Iwan Ramkar, ketua koperasi peternak Gunung Gede yang juga ketua 1 pengurus Yayasan Darul Ihsan. “Keuntungan usaha olahan susu ini dibagi dengan yayasan. Sehingga yayasan bisa membayar gaji guru, THR guru, dan disisihkan juga untuk tabungan anak-anak,” ungkapnya senang.

Saat ini Yayasan Darul Ihsan memiliki 28 orang guru. Sementara perusahaan pengolahan susu ini, kini operasionalnya dibantu para siswa dan para pekerja, untuk jasa pengiriman dua orang, penjaga outlet satu orang, dan satu orang lagi di bagian keuangan. Para siswa Yayasan Darul Ihsan bergabung di perusahannya saat bantuan modal dari LM3 yang pertama datang. Di sini para siswa belajar pengolahan susu sambil berkarya. Beruntung perusahaan ini memiliki alat pengolahan susu yang cukup lengkap. Sehingga siswa sekolah yang magang, mendapatkan materi lengkap. Dari bagaimana menangani sapi melahirkan, pemberian rumput sampai memerah susu sekaligus pengolahannya. Bahkan, secara finansial, mereka pun terbantu bisa meneruskan sekolah, juga uang saku dan uang tabungan yang bisa diambil setelah mereka lulus sekolah. Tentu saja, banyak siswa yang ikut membantu di perusahaan ini sumringah. Siti Suryani, siswi, kelas 12 di yayasan Darul Ihsan, misalnya. Sebelum  sekolah pukul 12 siang, paginya Siti bekerja di pengolahan susu tersebut. Meski baru tiga bulan bergabung, Siti sudah merasakan manfaatnya. “Senang bisa meringankan beban orang tua,” katanya polos.

Sementara Yati, juga siswi kelas 12, sudah bergabung selama satu tahun. “Sebelum bergabung di perusahann ini, rasanya saya tak mungkin untuk terus sekolah,” katanya. Apalagi saat itu ayahnya meninggal dunia. Yati beruntung bertemu Neneng, yang tak henti memberi semangat dan memotivasi untuk terus belajar, dan bekerja keras. “Kini saya bisa tetap sekolah dengan gratis, dapat uang jajan pula,” ujar Yati senang.

Kendala yang dihadapi saat ini adalah faktor orang tua yang menginginkan anak-anaknya bekerja di pabrik. Padahal dari usia, mereka tidak pantas bekerja. Sementara jika sekolah di Yayasan Darul Ihsan, para siswa bisa terus melanjutkan sekolahnya sambil menimba keterampilan di pengolahan susunya. “Tak ada paksaan bagi para siswa untuk bergabung di pengolahan susu ini,” ujarnya. Tapi seperti Yati dan Siti yang waktu luangnya dipergunakan untuk membantu di pengolahan susu tersebut, mereka bisa terbantu uang jajan, makan dan tabungannya, selain keterampilan berwirausaha pun semakin piawai.

Untuk siswa yang tidak mondok di yayasan, dan rumahnya jauh, Neneng pun memberi peluang untuk tinggal di rumahnya. “Pintu rumah saya terbuka 24 jam untuk mereka,” ujarnya. Kini ada dua orang, 1 laki-laki, 1 perempuan, yang tinggal bersamanya.

Sebagian mimpi Neneng telah menjadi kenyataan. Meskipun, semula sosok ini agak ragu dengan niat baiknya membantu siswa-siswa kurang mampu tersebut. Apalagi jumlah siswa sekolah di yayasan tersebut terus bertambah. “Bagaimana kami mengurusnya, sementara penjualannya masih belum maksimal,” katanya berkisah. Tapi bukan Neneng namanya kalau menyerah.

“Apapun caranya saya lakukan demi sekolah anak-anak itu,” ujarnya penuh semangat. Pemasaran digenjot di sana sini. Termasuk mengembangkan hasil olahannya, selain menjadi yoghurt, juga menjadi karamel, dodol dan moci. Jaringan pemasaran pun diperluas, ke swalayan juga supermarket. Meski di toko yang satu ini, pembayaran baru dilakukan dua minggu kemudian, itupun hanya yang lakunya yang dibayar. Beruntung, selama ini, menurut pengakuannya, produk yoghurt hampir tidak ada retur (kembali/tidak laku). Lain lagi dengan produk jenis karamel, pasti ada retur, karena lamanya atau kadaluarsanya hanya dua bulan. Kalau tidak laku dalam periode itu, terpaksa ditarik kembali.

Strategi marketing lain yang dilakukan adalah membuka kedai dan mengikuti pameran. Dengan adanya market pameran membuat orang bisa mengenal produk Hasmilk. Kedai yang dikelola beberapa siswa binaannya sudah masuk ke berbagai pasar modern dan pasar tradisional yang terletak di kota Sukabumi, seperti Jogja Store, Tiara, Selamat Store.

Perusahaan ini juga kini sudah memiliki satu unit kendaraan untuk jasa pengiriman yang sudah menjangkau daerah Padalarang, Sukabumi, Bandung, dan Cianjur.

Untuk mendapatkan hasil terbaik, perusahaan Hasmilk ini betul-betul menjaga kualitas susunya. “Setiap pagi, kami memeriksa kualitas susu hasil perahan dengan mesin penguji. Dalam 30 detik hasilnya akan keluar. Yaitu temperaturnya, kekentalannya, kadar protein, lemak, dan sebagainya,” ujarnya. Encer sedikit saja, maka hasil olahan susunya tidak akan bagus. Untuk menjaga kepercayaan konsumen, perusahaan ini pun harus rela, misalnya membuang 80 liter susu, karena tidak memenuhi standar yang sudah ditetapkan.

Kegagalan adalah hal biasa untuk Neneng. “Terpenting adalah tidak mengecewakan konsumen dengan produk yang kita buat,” ujarnya serius. Tak cuma konsumen yang senang. Partner usahanya pun ikut gembira.

Kini, Yayasan Darul Ihsan tak hanya memiliki siswa yang terus bertambah dengan finansial terjamin. Paling tidak, kini tak ada lagi siswa  yang menunggak bayaran sekolah. Guru-guru pun terjamin gaji dan THR-nya. Begitu juga kini dengan kualitas gedungnya yang semakin lama semakin layak ditempati. Neneng Siti Rahma yang juga sebagai penanggung jawab usaha yayasan merasa prihatin waktu pertama melihat tempat belajar yang konon seperti kandang ayam. “Sekarang , Alhamdulilah fasilitas sekolah sudah berkembang secara bertahap tempat belajarnyapun sudah pantas,” ujarnya. Neneng pun berharap bisa membuka cabang di daerah Depok. Sehingga para siswa pun kelak bisa melanjutkan kuliah di Depok. Sementara ini pengolahan susunya sudah menerima siswa untuk dilatih. Pelatihan diberikan pada minimal per kelompok 10 orang, Biasanya dilakukan di setiap hari dari pagi sampai sore. Tapi kalau ingin belajar di peternakannya ada program selama satu minggu. Di sana para siswa akan diperkenalkan aktivitas dari peternakan, memandikan sapi, memerah susu, sampai ke pengolahan susu. Itupun harus buat janji terlebih dahulu untuk penjadwalannya. Kini yang juga sedang serius dikembangkan adalah wisata edukasi. Sambutannya cukup lumayan. Rata-rata ada empat sekolah dalam satu bulan yang ikut program ini. Mereka melakukan wisata edukasi satu hari dengan sistem paket, mulai Rp. 25, 30, 40, dan 50 ribu perorang. Itu tergantung produk yang

akan dibawa. Rata-rata yang melakukan wisata edukasi dikenakan paket murah dengan pulang membawa susu dan yoghurt dengan harga Rp. 25 ribu sudah termasuk welcome drink, diajak wisata ke peternakan dan ke pengolahan.

Pelan tapi pasti usaha pengolahan susu ini semakin berkembang dan dikenal banyak orang. Tak heran jika kelak Sukabumi pun bakal terkenal dengan produk olahan susu dari Yayasan Darul Ihsan. Dan akan semakin banyak pula siswa yang terbantu sekolahnya. (Directory LM3 2010, dari akar Religi Menjadi Gerakan Agribisnis yang Mengakar di Masyarakat, BPPDMP, 2011).

About dmulyadi

Nama saya dedi mulyadi dilahirkan di ciamis 29 Agustus 1962. Bekerja di Kementerian Pertanian Jakarta. Tinggal di Ciawi Bogor
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s