Profil Pondok Pesantren Ash-Sidiqqiyah 7

Sejarah dan Pendirian
Pondok Pesantren Ash-Sidiqqiyah 7 (PAS7) merupakan salah satu pondok pesantren yang mendapat pemberdayaan melalui Program LM3. PAS7 didirikan pada 2006 di Desa Cijeruk, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Jumlah santri yang sekarang belajar di PAS 7 ini mencapai 41 orang, putra putri. Para santri umumnya berusia remaja; dan akan mendapat peyanan pendidikan di PAS7 selama 4 tahun. Selama masa belajar para santri tinggal di lingkungan PAS7. PAS7 didirikan untuk melayani masyarakat di bidang “keimanan” (Islam) dan pelayanan kemanusiaan melalui kegiatan belajar dan mengajar mengikuti model kebanyakan pesantren salafiyah.
Sebagai bagian dari “Shiddiqiyah” kegiatan PAS7 ini adalah dalam rangka memberikan amal atau santunan bagi para santri atau calon santri yang berlatar belakang dari keluarga tidak mampu. Memberikan santunan, khususnya melalui pendidikan di pesantren, merupakan bagian dari agenda wajib di lingkungan Shidiqqiyah. PAS7 dapat digolongkan sebagai pesantren yang memberikan pendidikan di bidang agribisnis. Dalam memberikan pengajaran kepada para santri, PAS7 tidak memungut biaya dari keluarga para santri. Syarat menjadi santri hanya ada 2 (dua) hal, yaitu: dari kalangan keluarga tidak mampu dan mempunyai keimanan. (Jaringan pesantren AS-Shidiqqiyah tersebar di seluruh tanah air, mencakup 17 provinsi. Jaringan di luar negeri; yaitu Malaysia dan Singapura).
Sejak 2006 PAS7 sudah dilibatkan dalam pemberdayaan melalui Program LM3. Selama terlibat dalam Program LM3, kinerja PAS7 dinilai baik. Pada tahun 2009 PAS7 dikatagorikan sebagai LM3 Model. PS7 telah mempunyai prasarana (lahan, kolam, kandang, gedung, dan sarana fisik lain yang memadai) untuk menyelenggarakan kursus pertanian bagi masyarakat sekitar atau masyarakat petani yang memerlukan. PS7 telah menyelenggarkan beberapa kali pelatihan, baik secara formal maupun informal kepada para santri dari berbagai tempat (antara lain; Bogor, Jakarta, Cianjur, Sukabumi, Bandung, dan Lampung). Sebagai gambaran belum lama ini PAS7 telah melatih 40 santri dari Lampung.
PAS7 didirikan untuk memberikan pelayanan pendidikan agama dan agribisnis untuk berbagai kalangan, terutama bagi para santri yang berasal dari pedesaan dan masyarakat pertanian pedesaan setempat. Porsi yang diajarkan di PAS7 30 persen berupa materi di kelas, 70 persen di lapangan. Selain itu para santri diberi kesempatan untuk mendapat materi pendidikan dari pendidikan umum. Pendidikan PAS7 adalah setingkat madrasah tsanawiyah (MTs). PAS7 ini adalah cabang dari Pesantren Ash-Shidiqiyah yang dipimpin oleh KH Nur Iskandar SQ. Pemberian angka “7” menunjukkan pendirian yang ke 7. Induk organisasi pesantren As-Shidiqqiyah berada di Jakarta.
Visi dan Misi
Setiap pesantren atau jaringan pesantren umumnya mempunyai kekhasan. Kekhasan PAS7 dicerminkan dalam visi dan misi. Visi PAS7 adalah menghasilkan santri yang mandiri di bidang ekonomi. Selain memberikan pengetahuan agama, bahasa Arab, dan pengetahuan umum; PAS7 mengajarkan bagaimana menjalankan usaha agribisnis yang sehat. Sebagai jaringan Pesantren As-Shidiqqiyah, pesantren salafiyah, ada tiga hal yang secara khas diajarkan PAS7 kepada para santrinya, yaitu: mempelajari kitab (ulama) salaf, bahasa Arab, dan beragribisnis. (Sebagian besar para santri berasal dari desa dan berlatar belakang petani tradisional, yang kehidupan keluarganya dengan mengolah lahan pertanian di pedesaan). Misi PAS7 adalah selain menghasilkan santri yang kuat dalam pengetahuan agama, juga santri yang menjaga kehormatan Islam saat menjalankan kegiatan sehari-hari dan melakukan dakwah.
PAS7 mencoba mensenyawakan antara santri dan wirausaha. Pengurus PAS7 menyadari bahwa penilaian masyarakat terhadap lulusan pondok pesantren tidaklah selalu baik. Penilaian bahwa lulusan pondok “ngaji” (baca ayat Al-Qur’an) untuk amplop telah berkembang di masyarakat. Salah satu tujuan PAS7 adalah untuk mengubah pandangan “jelek” yang beredar di masyarakat, bahwa apa yang dilakukan anak alumni pondok PAS7 tidak semata-mata berorientasi berburu berkat atau untuk mendapat “amplop”. Pemahaman yang ditanamkan pada para santri (tamatan) PAS7 jangan sampai dikenal sebagai ustad atau santri pemburu amplop. Saat berdakwah para santri lulusan PAS7 diharapkan mempunyai bekal kemandirian ekonomi, sehingga tidak memberatkan masyarakat.
Lokasi dan Lingkungan
Sekitar PAS7 berlokasi di daerah pertanian pedesaan. Walaupun cenderung dapat dikatakan di pedesaan, lokasi PAS7 berada pada kombinasi daerah pedesaan dan perkotaan. Untuk menuju lokasi PAS7 tidaklah sulit. Sarana transportasi umum, sejenis minibus (dikenal sebagai Angkot, angkutan kota), tersedia hampir 24 jam dan mudah diperoleh. Bagi orang luar yang ingin mengunjungi PAS7 pun relatif mudah, yaitu dengan menanyakan pada penduduk sekitar. PAS7 cukup dikenal oleh penduduk Desa Cijeruk, Kecamatan Caringin.
Lokasi PAS7 berada di lereng (sebelah timur) Gunung Salak. Suasana kehidupan PAS7 menggambarkan kehidupan agraris pedesaan; menyatu dengan alam dan menghormati kehidupan kemanusiaan. Agroekosistem lahan kering bergelombang, bersuasana iklim perbukitan, dan keragaman tanaman musiman dan tahunan; kesemuanya ikut mewarnai lingkungan kehidupan PAS7. Suasana kehidupan pedesaan sangat terasa. Pada siang hari sejuknya semilir angin pegunungan menjadikan suasana nyaman untuk belajar. Pada malam hari udara terasa lebih dingin dan agak lembab, dan kurang baik untuk menjalankan aktivitas di luar ruangan. (Sebagian besar proses belajar para santri dilakukan di dalam ruangan dan di bawah atap).
Air untuk menghidupi kegiatan PAS7 sangat mencukupi. Sepertinya pemilihan lokasi PAS7 memperhitungkan suasana yang sangat bersahabat dengan alam. Suara gemericik air gunung, yang melintasi kawasan PAS7, tidak pernah henti. Hal ini membuat suasana psikologis pesantren jauh dari ketegangan dan juga jauh memancing suasana hati yang diliputi kemarahan. Air pegunungan melintas PAS7 dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk pengembangan budidaya kolam air tawar dan menyiram tanaman.
Santri dan masyarakat ibarat dua sisi dari sebuah koin. Seharusnya antara kehidupan para santri dan masyarakat sekitar tidak ada perbedaan. Para santri PAS7 (seharusnya) adalah bagian dari masyarakat sekitar. Secara mental tidak ada ketegangan hubungan antara masyarakat yang tinggal di sekitar PAS7 di satu sisi, dengan para santri dan penghuni PAS lainnya. Yang membedakan antara penghuni PAS7 dan masyarakat sekitar adalah kegiatan sehari-hari. Penghuni PAS7 lebih banyak melakukan kegiatan belajar-mengajar; sedangkan masyarakat sekitar melakukan akitivitas usaha pertanian (ekonomi keluarga) dan kegiatan sosial kemasyarkatan.
Menyatu dengan masyarakat sekitar adalah bagian esensial dari penyelenggaraan pondok pesantren. Menyatu tidak harus menjadi satu secara fisik. Pemisahan secara fisik dimungkinkan, selama orientasi dan visi tetap sejalan. Antara kehidupan PAS7 dan masyarakat sekitar dipisahkan oleh pagar; pada bagian depan dengan pagar tembok, pada bagian belakang dengan pagar kayu. Interaksi antara masyarakat sekitar dengan PAS7 tidak terlalu intensif, walaupun tidak berarti terjadi ketegangan. Ketika ada anggota masyarakat sekitar mempunyai hajat, umumnya Ustad dari PAS7 diundang untuk memimpin doa atau acara pengajian. Masyarakat sekitar umumnya menghormati santri dan pengelola PAS7 karena aktifitas pendidikan keagamaan (Islam) yang dijalankan.
Bidang Usaha
Mengembangan usaha agribisnis yang sehat merupakan salah satu obsesi dari penyelenggaraan PAS7. Jika pesantren di pedesaan tidak mampu melakukan dan mengembangan usaha agribisnis yang sehat maka kehadiran pesantern akan menjadi “tidak terhormat” di mata masyarakat. Masyarakat pedesaan tidak hanya memerlukan pengetahuan tentang agama, melainkan juga tentang bagaimana dapat mengembangakan kemandiriannya di bidang ekonomi melalui usaha agribisnis. PAS7 yang hadir di tengah-tengah masyarakat pedesaan diharapkan mampu memberikan contoh dan sekaligus bimbingan bagi para santri lain dan masyarakat pedesaan agar mampu membangun usaha agribisnis secara sehat dan kuat.
Sejak dini para santri dididik dan diperkenalkan dengan (usaha) agribisnis, tujuannya agar para satri terdidik dan mengenal jiwa kewirausahaan. Pada saat masuk para santri diwajibkan menanam pohon sengon, yang dalam 4 (empat) tahun sudah siap dipanen. Sebagai gambaran, pada tahun pertama masuk seorang santri diwajibkan menanam 50 pohon sengon. (Dalam PAS7 tersedia lahan pertanian sekitar 3 ha). Pada saat awal tumbuh, setiap hari para santri harus merawat pohon yang telah ditanam, termasuk dipupuk dengan kotoran ternak. Pada tahun ke-4, setiap pohon sengon dapat dijual dengan harga Rp 6-7 ratus ribu per batang. (Pada saat akhir sekolah, seorang santri dapat memperoleh uang sekitar Rp 30 juta.
Selama belajar di PAS7 para santri diperkenalkan dengan beberapa usaha agribisnis, antara lain: berkebun, beternak, usaha perikanan darat, dan jual beli hasil pertanian. Dengan cara seperti ini setiap santri dapat mengenal dan mencintai usaha agribisnis, termasuk mengasah minatnya terhadap jenis agribisnis tertentu. Sebagai gambaran, para santri diwajibkan memberi makan ikan di kolam secara bergantian (sesuai jadwal). Ada beberapa jenis usaha ikan kolam, yaitu: ikan mas, lele, nila, bawal, dan campuran. (Dari hasil ikan ini digunakan untuk menyelenggarakan PAS7, termasuk para santri meperoleh makan dan lauk pauk).
Usaha agribisnis yang dikembangkan cukup bervariasi, hal inidiharpkan dapat membekali para santri pada saat menghadapi berbagai kondisi yang berbeda. Usaha agribisnis yang dikembangan adalah usaha menanam jeruk, hortikultura, beternak kambing (peranakan Etawa), dan sapi potong. Semua kegiatan usaha agribisnis tersebut dilakukan para santri di lingkungan PAS7. Pengelola PAS7 telah menyediakan sarana belajar berusaha agribisnis berupa lahan, kolam (untuk usaha ikan air tawar), kandang (kambing dan sapi), lahan kebun (untuk tanaman hortikultura dan …), serta tempat pengolah hasil pertanian. Selain itu para santri juga dibekali dengan keahlian untuk tidak tergantung pada input produksi yang berasal dari luar. Sejauh mungkin para santri dapat menghasilkan sendiri input usaha pertanian dan menjalankan usaha agribisnis hingga di tingkat hilir. Mereka diajarkan membuat pupuk organik, alat pertanian sederhana, dan melakukan kegiatan pengolahan hasil pertanian, dan memasarkan produk yang mereka hasilkan. Melalui program ini para santri diharapkan menjadi penguasaha agribisnis yang andal dan juga mampu mengajarkan keahlian agribisnis kepada masyarakat pedesaan. (Pada saat kunjungan di PAS7, aktivitas usaha ternak sapi ditekankan pada jual-beli atau trading. Usha ini dipilih karena dinilai lebih menguntungkan dibandingkan dengan pemeliharaan atau usaha penggemukan).
Para santri dididik untuk memiliki kemandirian di bidang ekonomi, yaitu dengan cara memberi bekal berbagai pengetahuan (dan praktek) tentang bagaimana suatu sistem agribisnis dijalankan; dari hulu hingga hilir. Namun demikian, selama belajar para santri tidak dibebani untuk dapat menghidupi dirinya sendiri. Pengelola PAS7 melakukan berbagai usaha agribisnis agar pembiayaan penyelenggaraan pesantren dapat tertutupi tanpa membebani para santri. Sebagai gambaran setiap bulan PAS7 dapat menghasilkan pendapatan dari keuntungan usaha sekitar Rp25-30 juta per bulan. Perolehan uang tersebut utamanya didapatkan dari hasil usaha ternak dan ikan air tawar. Sebagai gambaran, setiap hari PAS7 dapat menyembelih 3-4 ekor sapi, dan daging ataui karkasnyadijual ke pasar. Pada waktu tertentu, misalnya Idhul Adha, pada tahun 2010 PAS7 melakukan usaha jualan kambing (1300 ekor) dan sapi (200 ekor) untuk hewan kurban. Usaha kambing peranakan Etawa tidak hanya untuk menghasilkan susu, melainkan juga dalam bentuk kambing. Sebagai gambaran pada tahun 2007, PAS7 telah berhasil mengekspor 800 ekor kambing Etawa ke Malaysia. Menurut habib Alawi, dari usaha susu kambing saja sebenarnyaa sudah dapat dihasilkan keuntungan. (Harga 1 liter susu mencapai Rp12ribu per liter; seekor kambing dapat menghasilkan 2 liter per hari. Sebagai perbandingan harga susu sapi Rp3ribu per liter; seekor sampi dapat menghasilkan 10-15 liter per hari). Melalui model PAS7 (peternakan susu kambing) seharusnya pemerintah dapat mengembangkan bisnis susu kambing, atau setidak-tidaknya membuat percontohan usaha, melalui pesantren agribisnis di seluruh tanah air. Dengan jaringan usaha personal yang dikuasasi, PAS7 ini secara rutin dalam 1-2 minggu dapat menjual sekitar 120 ekor kambing dan 16 ekor sapi. Usaha jual beli ternak lintas provinsi ini lebih disebabkan pada kepiawaian personal “sang tokoh” (Habib Alawi) yang dipercaya oleh KH Nur Iskandar SQ. Kepiawaian personal ini belum dapat ditularkan kepada para santri atau penghuni PAS7 lainnya. Bidang usaha “trading” ternak ini seakan-akan masih tergantung sekali pada ‘sang tokoh” kepercayaan KH Nur Iskandar SQ. Mekanisme penularan kepiawaian kewirausahaan ini belum dapat diajarkan dengan baik di lingkungan PAS7.Kelembagaan Usaha Ada jargon yang dikembangkan pengelola PAS7: “petani jangan disuruh mikir bagaimana menjual hasil pertaniannya?”. Petani sudah cukup capek bekerja secara fisik di lapangan. Wilayah kerja petani hanya sebatas bagaimana menghasilkan produk pertanian. Sangat sering terjadi bahwa produk pertanian yang dihasilkan petani “tidak nyambung” dengan permintaan pasar, sehingga harga yang diterima pertani relatif rendah. Kelembagaana usaha atau pemasaran merupakan salah titik lemah sistem usaha agribisnis di pedesaan. Oleh sebab itu, selain mengembangkan usaha agribisnis di pedesaan yang sehat, PAS7 berusaha mengembangan kelembagaan usaha agribisnis dengan melibatkaan para petani atau peternak sekitar. Kelembagaan usaha yang dibangun PAS7 antara lain menampung hasil produk pertanian dari petani sekitar, dan menggalang kerja sama usaha dengan para petani di sekitar PAS7. Produk pertanian yang dikelola oleh PAS7 masih sebatas dari usaha ternak. Kelembagaan usaha yang berkembang masih sebatas pada sistem gaduhan atau bagi hasil (“keuntungan”) dari usaha pemeliharaan ternak kambing. Siklus usaha gaduhan ini adalah sekitar 4 bulan. Untuk kasus pemeliharaan atau penggemukan sapi belum dilakukan mengingat tingkat ketrampilan petani sekitar dianggap belum memadai. Kelembagaan usaha berbadan hukum koperasi belum dikenal mendalam. Badan hukum Pondok Pesantren Ash-Shidiqqiyah yang digunakan saat ini adalah CV. Kelembagaan ini bersifat perorangan, bukan kolektif berbasis keanggotaan. PAS7 yang mulai menjalankan usaha agribisnis (ternak dan tanaman hortikultura) tahun 2006 bernaung di bawah badan hukum CV (CV Ash-Shidiqqiyah). Jika arah ke depan kelembagaan usaha agribisnis PAS7 ini adalah berbasis masyarakat atau berbasis anggota (membership organization), maka kelembahaan usaha yang sesuai adalah yang mengunakan badan hukum koperasi. Pemahaman tentang badan hukum koperasi tampaknya masih lemah, sehingga pembelajaran koperasi pada para santri di PAS7 belum diberikan.
Dengan besarnya jaringan pesantren Ash-Shidiqqiyah di banyak tempat, pengembangan kelembagaan koperasi sangat sesuai dan dimungkinkan. Hanya saja, pengetahuan tentang badan hukum koperasi untuk pengelolaan usaha PAS7 di kalangan pengelola pondok pesantren masih lemah. Menggunakan kelembagaan badan hukum CV untuk PAS7 sangat jauh dari nuansa ekonomi syariah. Sebagai akibatnya, kekuatan individu pemimpin pondok pesantren yang terlalu besar dan menjadi sulit dikontrol oleh anggota pesantren. Mengelola urusan agama dan usaha ekonomi tidak dapat dilakukan secara simultan tanpa payung kelembagaan badan hukum koperasi.
Ketika usaha ekonomi PAS7 masih berskala kecil, maka hal itu masih dapat ditangani oleh satu atau 2 orang orang kepercayaan pimpinan pondok pesantren. Namun ketika usaha pesantren nantinya berkembang, maka pengelolaannya tidak lagi dapat dilakukan secara perorangan. Andaikata masih dikelola secara perorangan, yang terjadi bukan sebatas tidak akan berkembangnya usaha agrbisinis, melainkan juga pondok pesantren dapat dinilai gagal dalam membangun sistem kelembagaan usaha yang bersifat kolektif, akuntabel, rasional, dan dapat ditiru oleh kelompok usaha atau pesantren agribisnis lain.
Struktur Keorganisasian Pesantren
Struktur usaha LM3 pada PAS7 masih diwarnai budaya keorganisasian pesanten, dimana seorang pimpinan pondok pesantren (KH Nur Iskandar) adalah sebagai tokoh utama. Seorang pemimpin pondok pesantren, dalam sistem pemerintahan, seringkali mirip dengan penguasa tunggal. Struktur organisasi pesatren umumnya berpola sentralistik, di mana pimpinan pondok pesantren sebagai tokoh panutan tunggal. Tidak ada keputusan apapun yang besifat strategis tanpa persetujuan pimpinan pondok pesantren. Orang yang dipercaya pimpinan pondok, yang dalam hal ini dalah Habib Alawy, tidak mempunyai keleluasaan dalam pengambilan keputusan. Semua hal harus dikomunikasikan kepada pimpinan pondok (KH Nur Iskandar SQ), dan pengambilan keputusan terpusat pada pimpinan pondok pesanten. Struktur keorganisasian yang bersifat terpusat ini dilatar-belakangi oleh budaya patronase. Hampir semua pondok pesanten salafiyah menganut struktur keorganisasian yang demikian. Interdependensi antara manajer lapangan dan pimpinan pondok bersifat sangat asimetris, di mana kekuatan pimpinan pondok pesantren dalam pengambilan keputusan hampir bersifat mutlak. Struktur keorganisasian usaha seperti ini sebenarnya jauh dari efisien dan akuntabel. Hanya saja, mengingat masih adanya unsur pengabdian (“altruistik”) yang kuat pada diri pimpinan pondok pesantren, maka kelemahan struktur keorganisasian seperti ini tidak terlalu memberikan dampak usaha yang negatif. PAS7 adalah bagian dari jaringan pondok pesantren Ash-Shidiqqiyah yang tersebar di hampir semua provinsi di Indonesia. Bahkan (mungkin) bagian dari kelembagaan Toriqoh Ash-Shidiqqiyah. Dalam mengelola jaringan pesanten Ash-Shidiqqiyah, yang berukuran rekatif besar, seharusnya sistem patronase (yang berpusat pada pimpinan pondok pesantren) perlu dikurangi. Mengingat semangat dari pengembanan Pondok Pesantren Ash-Shidiqqiyah ini adalah untuk menghasilkan santri yang berakhlaq dan piawai mengelola kegiatan agribisnis yang berdaya saing tinggi, maka pola pembagian kerja yang bersifat organik dan rasional perlu dikembangkan. Secara berangsur-angsur pola ini menggantikan pola pembagian kerja yang besifat mekanik dan mengandalkan hubungan bernuansa romantisme askriptif. Di tingkat pengelola PAS7 pola keorganisasian usaha yang bersifat rasional-modern masih belum diterapkan. Bagi para santri sangat mungkin tertanam pemahaman bahwa apa yang diterapkan di pesantren sudah dianggap sudah sebagai hal yang terbaik. Dengan gambaran seperti ini sangat mungkin pengembangan usaha agribisnis akan terganjal oleh pola keorganisasian. Pola keorganisasian seperti ini. Pemahaman tentang hak-hak anggota dalam keorganisasain usaha yang seharusnya menjunjung rasionalitas dalam penerapan sharing system menjadi hal yang tidak mudah sampai kepada santri. Pendeknya, para santri kemungkinan besar akan menganggap bahwa pola keorganisasisn pesanten yang tidak mengedepankan pembagian kerja dan hasil yang adil dan rasional tidak pelu dipermasalahkan. Jika hal ini terjadi akan sulit bagi program LM3 akan mampu membangun sistem keorganisasian pesantren yang handal dalam menjalankan usaha ekonomi di era pasar bebas.
Manajemen dan Kepemimpinan
Obsesi pimpinan pesantren Ash-Shidiqqiyah: “didiklah para santri sehingga mereka menguasai 2 pengetahuan sekaligus, yaitu akhlak (agama) dan kewirausahaan (agribisnis)”. Akhlak dan kewirausahaan harus dikuasai secara bersamaan. Dari PAS7 harus dapat dilahirkan santri berakhlak dan piawai dalam wirausaha agribisnis. Untuk mewujudkan obsesi ini pada tahap awal memang diperlukan gaya manajemen dan kepemimpinan yang bersifat “tangan besi”. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya gaya tangan besi ini berangsur-angsur perlu dikurangi, dan diarahkan menjadi yang bersifat lebih demokratis, rasional, dan aspiratif.
Dalam mengelola dan mendidik santri digunakan jargon: seseorang akan bekerja bagus jika suasana hatinya nyaman. Dalam menjalankan dunia usaha diperlukan krativitas dan inspirasi; yang keduanya akan muncul jika suasana hati seseorang terasa nyaman. Orang tidak akan kerja dengan baik apabila merasa diawasi dan dikontrol dengan ketat. Secara intenal pengelola PAS7 dicoba menerapkan gaya manajemen “pegang sabun”; di antara kendali kencang dan kendor. Jangan terlalu kencang, karena akan menyebabkan “sabun” bisa pecah. Jangan terlalu kendor, karena akan menyebabkan “sabun” lepas. Istilah “sabun” sebagai pengibaratan mental dan kreativitas para santri dan pengelola PAS7 yang keduanya diharapkan akan menjadi wirausahawan hebat di bidang agribisnis.
Diakui oleh pengelola PAS7 bahwa kebanyakan pondok pesantren masih menganut sistem manajeman sak karepe dhewe, manajeman suka-suka Pak Kyai. Dari segi keprasaranaan, sistem manajeman usaha PAS7 sedikit lebih maju, yaitu sudah memanfaatkan alat komunikasi modern telepon seluler (Hand Phone; HP). Sistem manajemen PAS7 belum banyak bergerak dari manajemen tradisional pesantren salafiyah. Ketergantungan hampir mutlah pada Sang Kyai masih sulit dihindarkan. Sistem manajemen PAS7 sedikit banyak berimpit dengan sistem kepemimpinan pesantren, yaitu patronase dan sentralistik.
Secara operasional pengelola PAS7 diberi kewenangan untuk merancang program untuk para santri, perencanaan bisnis, dan perencanaan pemasaran agribisnis. Sedikit banyak sudah ada ruang manajemen profesional untuk diterapkan, terutama dalam pemasaran dan pengembangan usaha agribisnis di lingkungan PAS7. Penerapan manajemen yang sedikit bernuansa profesional baru pada tingkat pendelegasian kewenangan dari pimpinan pondok pesantren (Sang Kyai) kepada pengelola PAS7. Hampir semua keputusan yang bersifat strategis masih berada pada pimpinan pondok pesantren. Yang menjadi masalah bahwa pimpinan pondok pesantren tidak berada di lingkungan PAS7, sehingga masih ada kesenjangan situasional dalam pengambilan kebijakan. Titik lemah lain yang sangat terasa di PAS7 adalah pada manajemen pemasaran. Sumberdaya yang ada di PAS7, khususnya lahan (mencakup air), bangunan, sarana transportasi, dan usaha agribisnis di tingkat hulu telah memadai. Kemampuan pemetaan pasar terhadap produk agribisnis masih sangat tidak memadai, sehingga pemanfaatan sumberdaya PAS7 masih jauh dari optimal. Selain dibutuhkan kepiawaian dalam pemetaan pasar dan sistem akuntasi usaha, dukungan sarana di bidang prosesing dan pemasaran sangat diperlukan. Pimpinan pondok pesantren belum mampu mengembangkan manajemen pemasaran agribisnis yang visioner. Hingga saat ini manajemen usaha masih menganut mengikuti angin (“pasar”) yang ada, belum mampu membujuk orang tertarik untuk membeli produk agribisnis yang dihasilkan PAS7. (Harus ada produk unggulan yang menantang konsumen berdaya beli relatif tinggi). Dilihat dari segi pengembangan kewirausahaan dan pengembangan usaha, sistem kepemimpinan pada PAS7 belum sepenuhnya mengikuti ciri kepemimpinan progresif. Beberapa hal yang menjelaskan hal tersebut adalah: pertama, penggunaan ruang untuk dialog dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dalam pengembangan usaha agribisnis masih belum banyak dilakukan. Kedua, pimpinan pondok belum memberikan ruang kreativitas bagi pengelola untuk ikut andil dan berinisiatif dalam merancang pengembangan usaha agribisnis berdasarkan hasil analisis kritis, penelitian, serta pengujian spesifik lokasi. Ketiga, ruang demokratisasi dan otonomi dalam pengelolaan PAS7 masih terbelenggu oleh suasana kebatinan pimpinan pondok pesantren di Jakarta.
Penanaman Nilai Kewirausahaan Kolektif
Kekhasan kehidupan pesantren adalah pada penanaman nilai-nilai kehidupan yang baik dan mulia. Tata nilai (kewirausahaan) dan budaya kepemimpinan pada pondok pesantren hingga kini merupakan penggerak dinamika kehidupan dan pengembangan usaha agribisnis PAS7. Sebagai contoh, pada PAS7 diberlakukan jargon: “santri tamatan PAS7 haruslah santri yang mandiri dan terhormat”. Denan kata lain, santri yang berburu “amplop” adalah santri yang tidak punya harga diri, apalagi jika disertai dengan mengatasnamakan amat Nabi Muhammad SAW. Untuk menjadi santri terhormat, selain harus menguasai keilmuan (secara kognitif) tentang akhlak keagamaan, juga harus memiliki kemandirian dan kepiawaian di bidang usaha (ekonomi).
Dalam berdakwah seharusnya berlaku jargon: “sesungguhnya aku menyampaikan dakwah ini bukan dalam rangka meminta imbalan atau upah dari kamu sekalian, … cukuplah bagiku balasan kebaikan dari Allah SWT …” Semangat atau tata nilai yang harus ditanamkan kepada para diri santri dan seluruh penghuni pesantren adalah kewirausahaan dalam arti luas, yaitu berbisnis dengan Allah SWT dan berbisnis berpedoman dengan apa yang diajarkan oleh mantan wirausahawan yang hebat (Nabi Muhammad SW). Nilai kerja keras, rajin, disiplin, menghargai (tepat) waktu, punya rasa malu, tidak konsumtif, tidak suka pamer, empati, jujur, sabar, rasional, jangka panjang, dan kerja sistematik berbasis pemikiran rasional merupakan tata nilai santri yang kompetitif, terhormat, dan berwibawa.
Penanaman nilai kewirausahaan seyogyanya tidak terbatas pada pengetahuan dan tindakan individu, melainkan juga harus secara kolektif yang teroganisir. Nilai atau semangat jamaah dan ukuwah tidak dipandang hanya berlaku dalam ibadah ritual, melainkan juga harus dipandang sebagai aset strategis (“soft power”) kaum beragama (Islam) dalam menjalankan kegiatan sehari-hari di bidang sosial ekonomi. Penanaman tata nilai kewirausahaan secara kolektif, misalnya melalui penanaman pemahaman tentang keunggulan usaha bersama (“koperasi”) pada para santri merupakan hal penting. Hanya saja, penanaman tata nilai ekonomi dan kepengusahaan secara kolektif kepada para santri belum dikembangkan. Nilai-nilai kebersamaan (“jamaah” dan “ukuwah”) yang diperkenalkan dalam kehidupan ritual dan sosial seharusnya dapat dikonversikan dalam kegiatan usaha dan daya saing usaha secara kolektif.
Dalam belajar di PAS7, sejak dini para santri sudah ditanamkan tentang kerajinan, kerja keras, disiplin waktu, rajin, sabar, tertib aturan, dan kerja kolektif. Nilai-nilai ini adalah bagian dari pembentukan santri yang mempunyai daya saing dan penanaman kehormatan atau harga diri di tengah-tengah pergaulan bebas di masyarakat. Sebagai gambaran, mengerjakan shalat wajib lima waktu merupakan bagian dari penanaman disiplin waktu, tertib aturan, dan kerja kolektif (jamaah). Bangun malam untuk mengerjakan sholat tahajud merupakan bagianm dari penanaman kesabaran, tidak manja, dan tidak malas. Merawat tanaman dengan tertib, menjalankan giliran dalam memberi makan ikan di kolam, serta mengingatkan teman untuk mejalankan tugas dan kewajiban merupakan bagian dalam mengamalkan tata nilai dan keteraturan hidup secara kolektif.Disiplin dan Penegakkan Hukum Pada akhirnya para santri harus terjun di ruang publik, dalam arti terjun dan bergaul di tengah-tengah masyarakat. Sebelum terjun di tengah-tengah masyarakat para santri harus membentuk diri sebagai manusia yang terhormat dan berdaya saing tinggi. Oleh sebab itu, sejak dini para santri secara individual dan kolektif dipersiapkan untuk membiasakan diri menjalankan kehidupan yang baik, teratur, dan menjaga kehormatan diri. Penyiapan melalui pembiasaan diri tesebut ditempuh selama menjalankan kehidupan di pesantren. Kesemuanya ini perlu dilakukan para santri (dan penghuni pesantren lainnya) dengan pendisiplinan diri dan pembiasaan dalam penegakkan hukum.
Idealnya santri harus bisa menjadi “obor” dalam kehidupan. Santri bukan saja harus mampu menjadi penuntun (dalam omongan), melainkan juga memberikan keteladanan pada banyak aspek dalam kehidupan masyarakat. Keteladanan harus ditunjukkan dalam bersikap dan bertingkah laku; tidak hanya dalam omongan. Sebagai gambaran, santri tidak boleh menuntut orang lain bertingkah laku baik sebelum dirinya memberikan contok dalam berbuat baik. Tingkah laku baik tidak tiba-tiba “turun dari langit” melainkan melalui proses yang memerlukan waktu, kesabaran, ketekunan, dan kedisplinan. Untuk mewujudkan hal itu perlu dilakukan pengawalan bersama dalam bentuk penerapan ajaran (pencerahan) moral, etika dalam pergaulan, dan ketaatan pada hukum. Belajar menepati aturan atau kesepakatan yang dibuat bersama merupakan bagian dari pendisiplinan diri dan pendisiplinan secara kolektif. Dalam kehidupan santri di PAS7 ada ketentuan bahwa seorang santri laki-laki dilarang mengunjungi tempat pemondokan para santri perempuan, dan demikian pula sebaliknya. Ketentuan ini akan sama sekali menjadi tidak bermakna ketika terjadi pelanggaran tidak dilakukan atau tidak diikuti dengan tindakan (hukuman) terhadap pelanggar. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dikenakan tindakan (sanksi), bahwa pelanggar harus membaca Surat Yasin sambil berdiri di tepi kolam ikan. Untuk memberikan efek jera dan mendidik, pelanggar menjalankan sanksi dengan disaksikan rekan-rekan sesama santri.
Menurut Habib Alawy pembentukan disiplin tidak akan efektif jika tidak disertai dengan pemberian sanksi (hukuman) terhadap pelanggar disiplin. Penegakkan disiplin identik dengan pembelajaran kepada para santri untuk taat pada budaya penegakkan hukum. Seorang santri (baik laki-laki maupun wanita) akan dikenai sanksi ketika melakukan pelanggaran disiplin. Jenis sanksi yang dikenakan disesuaikan dengan jenis disiplin yang dilanggar. Penegakkan disiplin tidak akan efektif manakala mengabaikan prinsip kesetaraan dan keadilan. Denan kata lain, penegakkan sanksi tidak boleh bersifat diskriminatif.
Hal-hal Lain yang Perlu Dilakukan Perbaikan
Hampir selalu berlaku pepatah: “tiada gading yang tak retak”. Setiap ihtiyar manusia akan selalu mengandung kelemahan. Pepatah ini juga berlaku terhadap PAS7 dalam menjalankan program LM3. Seyogyanya bebagai kelemahan yang ditemukan bukan dimaknai sebagai ruang untuk dilakukan penghujatan, melainkan untuk dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.
Beberapa hal yang perlu dilakukan perbaikan dan penyempurnaan terhadap program LM3 adalah sebagai berikut:(1) Pengembangan agribisnis melalui program LM-3 masih sebatas untuk menghasilkan produk pertanian yang belum terolah; masih dalam bentuk bahan mentah bernilai tambah rendah. Program LM3 ke depan hendaknya diintegrasikan untuk mewujudkan industrialisasi pedesaan, yang hasilnya dapat dilihat dari produk akhir pertanian di pedesaan yang bernilai tambah tinggi, seluruhnya atau sebagian besar diselenggarakan oleh kelembagaan atauLM3 di pedesaan, dilakukan oleh pelaku ekonomi di pedesaan, serta seluruh tubuh jaringan industri pertanian dikuasai oleh LM3 atau masyarakat pedesaan secara kolektif.(2) Penguatan industri pertanian di pedesaan belum menjadi prioritas dan fokus Program LM3. Akibatnya, Program LM3 tidak berdampak cukup signifikan terhadap daya saing, peningkatan nilat tambah, dan pendapatan masyarakat pedesaan. Program LM3 ke depan hendaknya langsung diarahkan pada indsutrialisassi pertanian dan dilengkapi dengan penguatan keorganisasian petani (kelembagaan LM3 atau asosiasi LM3) setempat. (3) Bahaya konsentrasi kapital pada pelaku agribisnis di luar desa belum teratasi oleh Program LM3. Di masa datang sejauh mungkin perlu dihindari adanya konsentrasi kekuatan (misalnya dalam penguasaan modal finansial) pada satu atau beberapa pelaku usaha. Pemberdayaan LM3 pelu diperkuat dengan pemberian badan hukum koperasi. Selain kelembagaan LM3 akan merepresentasi kepentingan kolektivitas petani di pedesaan, juga dapat digunakan untuk menjalin kerjasama dengan kelembagaan publik secra simetris dan atas dasar rasionalitas yang saling menguntungkan. (4) Dilihat dari keutuhan sistem agribisnis, apa yang dikejakan LM3 masih parsial dan tersekat-sekat. Akibatnya, efisiensi dan daya saing LM3 tidak dapat ditingkatkan secara signifikan. Di masa datang, pemberdayaan LM3 diarahkan juga untuk mewujudkan jaringan usaha agribisnis industrial yang utuh di pedesaan. Dengan cara kerja demikian biaya transaksi, akibat dari segmentasi usaha (usahatani, pengolahan dan pemasaran), dapat ditekan serendah mungkin. Medlalui pendekatan seperti ini, daya saing usaha pertanian industrial di pedesaan akan lebih meyakinkan, dan selanjutnya lebih siap dalam menghadapi ”pasar bebas”. (5) Struktur keorganisasian LM3 tidak mampu interdependensi antar pelaku usaha secara simetris. Akibatnya, sharing system untuk menghasilkan pembagian peran dan penerimaan manfaat secara lebih adil sulit diwujudkan. Dimasa datang melalui Program LM3 perlu dibangun sistem kepemilikan usaha bersifat kolektif dengan interdependensi bersifat simetris; sehingga dapat diwujudkan sharing system yang relatif adil. (6) Secara intenal, LM3 belum mampu membangun sistem managemen berasas good governance, sehingga secara intenal manajemen usaha LM3 cenderung tidak kompetitif. Ke depan, dengan memadukan kekuatan kearifan lokal dan inovasi profesionalisme, sistem manajemen usaha LM3 perlu mengakomodasi prinsip transparansi, taat aturan (hukum dan ilmu pengetahuan), demokrasi, open audit, serta keadilan (punish and reward).(7) Program pemberdayaan LM3 belum disertai sistem pelatihan dan pendampingan yang lebih fokus dan terarah pada transformasi ke arah industrialisasi pertanian pedesaan berkelanjutan. Peyelenggaraan Program LM-3 ke depan perlu disertai sistem pelatihan dan pendampingan yang terstruktur dan akuntabel. Program pendampingan juga perlu memperhatikan kempetensi tenaga pendamping dan sistem penyuluhan yang sesuai.
(Naskah ini merupakan tulisan yang disusun oleh Dr Ir Tri Pranadji, MSi, APU, merupakan contoh untuk penulisan publikasi LM3 yang disusun berdasarkan kunjungan lapangan)

About dmulyadi

Nama saya dedi mulyadi dilahirkan di ciamis 29 Agustus 1962. Bekerja di Kementerian Pertanian Jakarta. Tinggal di Ciawi Bogor
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s