Rektor IPB Arif Satria: Petani di Era Generasi Millennial

“Terus yang ingin jadi petani siapa? Ini pertanyaan yang harus dijawab oleh mahasiswa-mahasiswa,” begitu sindir Presiden Joko Widodo saat Sidang Terbuka Dies Natalis IPB ke-54 di Kampus Institut Pertanian Bogor , Bogor awal September 2017.

Jokowi bertanya itu setelah mendapatkan data lulusan IPB sebagai kampus petanian yang bekerja di perbankan. Jokowi ingin lulusan IPB terjun langsung ke sektor pertanian dan mengembangkan teknologi pertanian.

Arif Satria , sebagai nahkoda baru IPB menjawab kritik Jokowi itu. Arif Satria terpilih menjadi Rektor IPB Periode 2017-2022 pada 15 November lalu.

Suara.com menemui Arif di Kampus IPB Dramaga pekan lalu. Dia masih berkantor di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB sembari menunggu pelantikan resmi dirinya sebagai Rektor IPB pada 15 Desember mendatang.

Sebagai Rektor IPB, Arif mempunyai tantangan besar mencetak lulusan sarjana pertanian masa kini yang akan mengembangkan sektor pertanian di Indonesia. Bagaimana mendorong generasi millennial untuk menjadi petani atau bekerja di sektor pertanian?

Arif juga bercerita tentang penurunan jumlah petani. Selain itu pengaruhnya terhadap pasokan pangan di masa depan.

Saat ini, lelaki kelahiran Pekalongan, 17 September 1971 itu menjadi penasihat untuk Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Dia salah satu pencetus konsep ekonomi hijau dalam kebijakan negara. Seperti apa ekonomi hijau itu?

Simak wawancara suara.com selengkapnya dengan Arif Satria berikut ini:

Dari data BPS per Febuari 2017 mencatat jumlah petani Indonesia tinggal 36 juta orang, turun 1,2 juta sejak Febuari 2014. Sementara di lihat dari target tangkapan ikan sampai oktober lalu baru mencapai target 75-an persen dari target 7,8 juta ton ikan. Bahkan garam saat ini Indonesia sudah impor. Bagaimana Anda memandang data ini?

Penurunan jumlah petani sesuatu yang biasa saja, di mana pun begitu. Dalam transformasi struktur ekonomi secara balance itu adalah kalau jumlah sumber daya manusianya menurun, tapi konstribusi dia terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat.

Jangan sampai share terhadap tenaga kerja itu besar, tapi share terhadap PDB makin lama menurun.

Jadi struktur ekonomi yang bagus, jika tenaga kerja menurun, tapi share PDB-nya meningkat agar satuan persen tenaga kerja menyumbang sekian PDB.

Jadi kalau jumlah petani menurun adalah trend yang biasa saja. Tidak perlu dirisaukan. Kita bisa risau jika petani yang ada tidak produktif, baru akan jadi persoalan. Tidak produktif itu artinya inovasi lemah dan berusia tua. Maka kita harus menyiapkan generasi petani baru.

Apa yang menyebabkan jumlah petani di Indonesia berkurang?

Banyak variable, mungkin karena gengsi, orang lebih suka bekerja di bidang non pertanian. Tapi jika pertanian dikemas lebih modern dan menarik, orang-orang akan tertarik masuk pertanian.

Tapi, pekerjaan sebagai petani dianggap kurang menarik adalah tren di dunia, itu tantangan besar.

Apakah dengan kurangnya petani akan mempengaruhi ketersediaan pangan?

Akan menjadi bahaya jika masalahnya produktivitas rendah.

Tapi lihat saja di Jepang, jumlah petaninya kurang dari 200 ribu orang. Jumlah petani di Jepang tidak ada 10 persen dari jumlah peduduknya. Tapi pertanian di Jepang sudah menggunakan teknologi yang tinggi, sehingga tidak memerlukan jumlah petani yang banyak.

Bagaimana di sektor kelautan?

Jumlah nelayan juga tidak perlu terlalu banyak asal menggunakan teknologi canggih dalam menangkap ikan. Kalau dilihat dari struktur demokrafis nelayan Indonesia tidak terlalu bermasalah. Karena nelayan muda masih banyak.

Sementara di sektor pertanian didominasi petani berusia tua, yang muda hanya 39 persen.

Apakah ada contoh negara maju yang mempunyai generasi muda yang tertarik di sektor pertanian?

Di Australia, teknologi pertanian sudah canggih sekali. Sehingga anak muda tertarik. Di sana semua menggunakan robot. Kalau di Indonesia, belum sampai ke sana.

Sejauhmana tantangan pengelolaan sumber daya pertanian dan perikanan di era saat ini. Terlebih era di mana generasi millenial mulai eksis dan lulus kuliah?

Generasi millenial merupakan orang yang memang digital native, berbeda dengan saya yang digital migration. Generasi digital native sudah berkembang di era digital. Pola pikirnya sangat berbeda, dia lebih cepat, lincah dan lebih terbuka, dan sebagainya.

Mereka melek teknologi, itu lah yang membuat mereka lebih adaptif terhadap perubahan.

Itu lah yang membuat IPB harus bisa menyesuaikan dengan gaya mereka. Teknologi kami juga harus menunjang untuk itu.

Sehingga kuliah online harus semakin banyak, untuk menyikapi tren generasi milenial.

Bagaimana Anda menjawab kritikan Presiden Joko Widodo soal lulusan IPB banyak bekerja di bank?

Sebanyak 73 persen alumni IPB sesuai dengan bidangnya, itu hasil riset kami. Oleh karena itu dari 73 persen itu, yang bergerak di bidang wirausaha pertanian ada 7 persen. Sisanya, bisa menjadi pegawai di perusahaan, profesional, dan pegawai negeri sipil. Tapi itu semua relevan dengan bidangnya.

Tapi yang menjadi pengusaha hanya 7 persen.

Maka tantangan ke depan sebenarnya, bagaimana membuat dan mendorong orang-orang itu menjadi teknopreneur di bidang pertanian. Maka itu saya merancang, ada start upschool yang akan menggodok calon entrepreneur baru di bidang pertanian. Ini langkah baru.

Selama ini, mereka yang lulus dan bekerja karena by accident. Sekarang ini kami ingin menyiapkan by desain. Supaya muncul pengusaha-pengusaha baru bidangnya, pertanian khsusnya.

Kami ada kerjasama dengan perusahaan, atau bisa juga dilakukan secara mandiri.

Ilmuan di kampus Indonesia dikritik minim menghasilkan jurnal ilmiah, tapi IPB termasuk yang paling banyak menghasilkan setelah ITB dan UI. Sebagai rektor, bagaimana inovasi Anda untuk mendorong ilmuwan di IPB sering melakukan riset?

Di program saya, ada insentif untuk mereka agar bisa produktif dalam menghasilkan karya-karya dari hasil riset. Karya itu ada yang ke arah memberikan masukan untuk membuat kebijakan publik. Selain itu ada juga untuk kepentingan akademik.

Karena itu penting, karena kami ikut andil dalam mengembangkan keilmuan. Kami juga akan memberikan insentif untuk ilmuan yang berkarir masyarkat dan melakukan riset, selama ini kan belum mendapatkan pengakuan.

Berapa anggaran untuk memfasilitasi riset itu?

Ke depan, ilmuan dalam negeri harus berkolaborasi dengan lembaga di luar negeri untuk mendukung risetnya. Tapi saat ini pemerintah juga mempunyai keinginan besar untuk bisa memberikan dukungan dana. Dengan catatan ilmuan itu harus mempunyai persiapan yang cukup.

Selama ini dana riset dari kementerian sudah besar. Nilai total kerjasama IPB dengan Dikti, 20 persen dari anggaran riset dan kerjasama yang besarny Rp1,2 triliun.

Apakah nilai itu cukup?

Kalau kurang, yah selalu kurang, tapi tergantung apa targetnya.

Sebagai kampus yang banyak melakukan riset seputar pangan, sejauhmana tantangan untuk menjadikan hasil riset menjadi produk komersil, minimal prototype?

Sebenarnya tidak harus langsung menghasilkan sebuah produk dan dinikmati masyarakat. Ada riset dalam kategori akademik yang menghasilkan paper atau jurnal ilmiah.

Ada juga riset yang arahnya menghasilkan produk untuk masyarakat yang bentuknya komersialisasi dan sebagainya. Da ada juga lembaga akademik, riset inovatif dan pusat inkubasi inovasi yang mengarah ke komersial, lalu ada juga yang teknopark yang melahirkan calon pengusaha baru.

Sebagai penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan, apa fokus masukan yang Anda berikan untuk sektor kelautan?

Saya masih jadi penasihat KKP. Sebagai penasihat memberikan masukan terhadap kebijakan dan langkah yang harus diambil.

Anda sebagai sosok di balik pengeluaran kebijakan KKP. Anda juga termasuk pelopor Penyusunan Konsep Ekonomi Biru. Sejauh mana konsep ekonomi biru sudah dijalankan pemerintah?

Ekonomi biru di Indonesia belum jalan, tapi pemikiran Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sudah menggambarkan ekonomi biru.

Seperti apa konsep ekonomi biru?

Prinsipnya kan zero waste, kemudian ramah lingkungan. Cara berpikirnya berbeda dengan konvensional.

Dalam kelautan, konsep itu misalnya menangkap ikan tanpa menggunakan bahan bakar. Karena kolam yang ada sudah diciptakan alam, ikan tak perlu dikasih makan.

Ekonomi biru di Indonesia sudah berkembang, tapi saat ini tidak tahu persis seperti apa perkembangannya.

Segara Anakan, Jawa Timur sudah ada contoh penerapan ekonomi biru. Ada tambak tanpa menggunakan pakan. Untuk makanan ikan di sana menggunakan daun mangrove. Jadi memanfaatkan dari yang ada di alam. Sebab alam mempunyai sistem kerja sendiri.

Bagaimana Anda memandang reklamasi Teluk Jakarta dan proyek reklamasi di daerah lainnya? Kebanyakan pakar menentang. Bagaimana dengan Anda?

Ini case by case, tidak bisa dikatakan reklamasi setuju atau tidak setuju. Tergantung reklamasi seperti apa?

Di Jepang, semua reklamasi karena lahannya sudah habis. Mereka reklamasi sebagian konteksnya untuk rehabilitasi yang sudah rusak. Sementara reklamasi untuk tujuan investasi jarang sekali di Jepang.

Jadi saya tidak bisa mengatakan reklamasi itu jelek atau bagus. Tergantung reklamasi untuk apa? Bagaimana? Dan tujuannya apa?

Bagaimana untuk konteks reklamasi di Jakarta?

Jakarta saya belum pelajari, saya berkomentar kalau punya hasil risetnya. Kembalikan saja pada regulasi yang ada. Saya yang juga ikut dalam membuat aturan itu juga.

Karena aturan untuk reklamasi tidak mudah. Jika sudah lolos izin, berarti sudah memenuhi tahap-tahap yang sangat rumit.

Reklamasi bisa dilakukan jika daya dukungnya terpenuhi, seperti kajian lingkungan hidup secara strategis. Itu sangat perlu.

Biografi singkat Arif Satria

Arif Satria lahir di Pekalongan, 17 September 1971. Sebelum diangkat sebagai Rektor IPB, dia memimpin Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB. Dia menyandang Dekan termuda di IPB saat itu.

Arif menyelesaikan gelar sarjananya di Institut Pertanian Bogor di bidang Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Di kampus yang sama dia juga menyelesaikan master di bidang Sosiologi Pedesaan. Namun gelar doktornya dia dapat di bidang kebijakan kelautan di Kagoshima University Jepang.

Arif termasuk ilmuwan yang aktif menulis buku. Di antaranya ‘Pengantar Sosiologi Pesisir, Pesisir dan Laut Untuk Rakyat’, ‘Ekologi Politik Nelayan’, ‘Globalisasi Perikanan: Reposisi Indonesia’, serta buku internasional ‘Managing Coastal and Inland Waters’ yang diterbitkan Springer Belanda. Penasinat Menteri Perikanan dan Kelautan itu juga terlibat aktif dalam penyusunan berbagai kebijakan kelautan dan perikanan sejak tahun 2002. Penyusunan UU Perikanan Nomor 31 Tahun 2004, Revisi UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Penyusunan Konsep Ekonomi Biru, dan sejumlah Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri.

Pada tahun 2009, ia meraih penghargaan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Bidang Ilmu Pengetahuan dari Menteri Pendidikan Nasional. Tahun 2008, Penghargaan Internasional: Yamamoto Award-2008. The First Winner of the JIFRS Yamamoto Prize for the Best Paper, pada International Institute of Fisheries Economics and Trade (IIFET) Conference, Juli 2008, di Nha Trang Vietnam. IIFET adalah organisasi profesi bidang sosial ekonomi perikanan yang sekretariatnya di Oregon State University, USA. Tahun 2013, Penghargaan Akademisi Peduli Penyuluhan dan SDM Perikanan, Kementrian Kelautan dan Perikanan. Urusan akademik, tak menjadi persoalan bagi Arif Satria. Di tahun 2017 ini, Arif Satria menjadi dosen yang meraih nilai EPBM tertinggi.

(Pebriansyah Ariefana,  Rektor IPB Arif Satria. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)  Senin, 27 November 2017 | 07:00 WIB)

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kementan Garap Digitalisasi Wirausaha Muda Pertanian

Kementerian Pertanian menggarap digitalisasi pertanian dalam rangka mendukung program kewirausahaan petani muda. Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Andriko Noto Susanto, mengatakan digitalisasi pertanian merupakan salah satu visi BPPSDMP dalam mewujudkan tahun SDM.
Menurut Andriko, digitalisasi dilakukan dengan memanfaatkan era keberlimpahan (abandent era), baik itu IT dalam membangun bisnis proses baru, brand baru, konsumen baru, dengan mendisrupsi system lama yang sudah tidak dapat dipertahankan. Salah satunya digitalisasi Pertanian Pangan melalui tumpeng sari.

“Digitalisasi dilakukan untuk merespon keterbatasan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, serta membangun bisnis proses baru, value baru, konsumen baru, untuk menghasilkan produk baru yang mampu men-disruptive teknologi budidaya konvensional. Melalui precisions farming, marketing on line, selain dapat menekan biaya produksi dan pemasaran sangat signifikan juga akan membuka akses pasar tanpa batas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (8/1/2019).
Selain itu, jelas Andriko melalui digitalisasi, petani dapat melakukan otomatisasi dalam panen, pengolahan tanah, tanam, pengendalian gulma dan organisme pengganggu tanaman, serta pemupukan. Biaya produksi yang rendah akibat mekanisasi memungkinkan petani mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan cara konvensional.
“Ini dapat memberikan insentif yang lebih baik bagi pemuda milenial yang mengelola lahannya,” ucapnya.
Andriko pun menjelaskan insentif pendapatan yang menarik tanpa harus terkena panas, hujan dan lumpur akan mendorong minat generasi muda milenial turun ke sawah karena sangat menjanjikan. Implikasinya, petani milenial akan lebih inovatif, kreatif, responsif terhadap perubahan dan tidak pernah puas dengan apa yang sudah dicapai.
“Inilah awal dari modernisasi pertanian yang kita dambakan,” katanya.
Andriko menilai pemasaran online dan offline generasi milenial memungkin akses penjualan semakin terbuka, sehingga dapat menghasilkan harga terbaik. Bagi konsumen, harga tersebut menjadi harga premium karena barangnya baru, segar dan dari tangan pertama belum kena charge perantara atau yang dikenal sebagai middleman.
“Pemutusan rantai pemasaran ini penting karena selama ini keuntungan terbesar bukan diterima petani. Harga mahal yang ditanggung konsumen juga tidak dinikmati produsen,” ujarnya.

Lebih lanjut Andriko mengungkapkan, digitalisasi memungkinkan ada breakthrough pemasaran indirect market ke direct market. Kondisi ini menguntungkan produsen dan konsumen, sehingga dapat membuka peluang kerjasama langsung antara produsen generasi milenial dengan konsumen milenialnya, sesuai dengan syarat, kondisi dan requirement masing-masing.
“Digitalisasi wirausaha ini akan dapat mempercepat peningkatan kesejahteran petani pada era digital secara terintegrasi sehingga pada gilirannya, dapat mengurangi kemiskinan,” ungkap dia.
Pemerintah berupaya terus mengakselerasi pembangunan infrastruktur agar dapat menciptakan sistem distribusi pangan yang efisien dan efektif, dalam pencapaian swasembada pangan di seluruh daerah dan tingkat nasional.
“Upaya menjadikan petani muda menjadi bahan bakar pembangunan pertanian akan terus dilakukan oleh BPPSDMP dalam upaya menyambut generasi emas Indonesia 2045,” pungkasnya. (Sudarsono, SindoNews.Com,  Rabu, 9 Januari 2019)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Doa Indah Aa Gym

Ya Allah,..Duhai zat yang mendetakkan jantung ini,
Duhai zat yang selalu memberikan makan kepada hamba-hambanya yang lapar,
Duhai yang memberikan air yang sejuk di kala kami dahaga,
Duhai yang mengaruniakan kantuk di kala kami lelah,
Duhai yang selalu menjaga dan mengurus kami kala kami tertidur,
Hanya Engkaulah Yang Maha Agung.. hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa..

Ya Allah, betapapun kami menghianatiMu setiap waktu tapi tiada suatu saat pun terputus Engkau memberi nikmat kepada kami,

Ya Allah jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala kebusukan kami.
Penghapus bagi seluruh dosa-dosa kami, hari dimana Engkau singkapkan tabir dari hati kami, hari dimana Engkau gantikan segala kegelapan dengan cahaya ilahiyahMu di qolbu ini.

Ya Afuw ya ghafur..
ampuni kami… Engkau Yang maha mengerti tentang kami..
tubuh kami kotor penuh dosa, hidup kami berseliMut aib.. kini kami berada di hadapanMu… Ampuni yaa Allah sebusuk apapun masa lalu yang pernah kami lalui .. Ampuni sebanyak apapun dosa-dosa yang meluMuri tubuh ini.. Hapuskan yaa Allah sekelam apapun masa lalu kami..
Ya Allah.. Duhai zat Yang maha Pengampun .. kami datang padaMu…

Ya Allah, kami ingin hidup kami berubah, gantikan segala kebusukan kami menjadi kesucian dalam pandanganMu. gantikan segala kegelapan dengan cahayaMu.. gantikan segala kedzaliman kami menjadi hidayah taufikMu.. gantikan Ya Allah… Ampuni dan selamatkan kami, ibu bapak kami yaa Allah, anak-anak kami, dari segala bala hidup ini..

Ya Allah, kami ingin merasakan indahnya hidup dekat denganMu,
Kami ingin hari-hari yang tersisa ini menjadi hari-hari yang selalu akrab bersamaMu, kami lelah jauh dariMu ya Allah , kami tidak ingin terpuruk dan terhina karena tenggelam dalam kesesatan.
Berikan kepada kami keMudahan, untuk mengenalMu Ya Allah,.
Berikan kepada kami jalan untuk mendekat kepadaMu,.
Jadikan kami orang-orang yang selalu merasakan kehangatan dan kasih sayangMu.

Ya Allah jadikan sujud kami menjadi sujud yang penuh nikmat KepadaMu,.
Jadikan shedaqah kami menjadi jalan yang membuat kami akrab denganMu,.
Jadikan amal-amal kami sebagai amal-amal yang tulus hanya karenaMu,.
Ya Allah jangan biarkan kesibukkan dunia membutakan hati kami,…
Jangan biarkan pangkat dan jabatan, menjeruMuskan kami,…
Jangan biarkan hawa nafsu membuat kami terperosok dalam maksiat,..

Ampuni Ya Allah..kami para suami yang telah mendzalimi istri-istri kami.. juga ampuni para istri yang kurang dapat melayani keluarganya. Ampuni jikalau kami salah mendidik keluarga dan anak-anak kami Ya Allah..
Utuhkan kami di dunia.. utuhkan kami di surgaMu
Ya Allah.. Selamatkan anak-anak kami, Muliakan akhlaknya .. kuatkan imannya.., berilah mereka yang lebih baik daripada yang kami dapatkan, jadikan mereka hamba-hamba yang Kau banggakan di singgasanaMu yg tinggi itu.

Duhai Allah yang maha Agung
Karuniakanlah kepada kami keindahan Akhlak,
Kelembutan hati, kesejukan qalbu
Pancarkan dari diri kami, keindahan agamaMu ya Allah
Pancarkan dari pribadi diri kami, keagungan agamaMu ya Allah
Jadikan, kehadiran kami di manapun menjadi cahaya bagi ummatMu,
Jadikan, kehadiran kami di manapun menjadi penyejuk bagi ummatMu,
menjadi penggelora semangat bagi hamba-hambaMu..

Ya Allah cegahlah kami dari segala godaan yang menggelincirkan
Lindungilah kami dari tipu daya setan yang menyesatkan
Lindungi kami dari segala sifat Munafiq, ya Allah
Lindungi kami dari segala keMusyrikan
dan lindungi kami dari perbuatan apa pun yang akan menjadi contoh buruk bagi ummatMu

Ya Allah Engkau adalah tujuan kami
Engkau adalah tumpuan harapan kami
Engkau adalah dambaan hati kami
Karuniakan kami kesempatan memperbaiki diri, Ya Allah
Ya Allah jadikanlah kami para pemimpin yang dapat menjadi
contoh kebaikan dan kemuliaan bagi sebanyak-banyaknya umatMu..

Ya Allah, berikan ketaqwaan kepada jiwa-jiwa kami dan sucikanlah kami.
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau Pencipta dan Pelindungnya
Ya Allah, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan dg cahaya rububiyahMu
ya Allah.. Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba yang beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian

Ya Allah, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai yang mengamankan semua yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagiMu melancarkan segala yang susah
Engkau Maha Tahu dan melihatnya

Ya Allah, wahai zat yang Maha Mendengar, sayangilah kami, Berkahi sisa uMur kami ini,
Jadikan uMur yang tersisa ini membawa maslahat bagi orang tua kami, bagi keluarga kami, dan bagi sebanyak-banyakNya umat Mu di bumi ini,

Ya Allah hanya engkaulah Tempat kembali kami.. hanya engkaulah Yang Maha Tahu sisa uMur kami.. berikan kesempatan bagi kami Ya Allah… mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga kami, masyarakat kami, bangsa kami, dan utamanya bagi agamaMu yang lurus..

Ya Allah, limpahkanlah Hidayah dan TaufikMu yaa Allah… jadikan kami hamba-hamba yg shalih hingga akhir hayat kami.. Jadikan akhir hayatnya khusnul khatimah.. Lapangkan kubur kami kelak, Jadikan kami ahli surgaMu..

Digubah oleh: M. Asrori Ar
http://kabar-pendidikan.blogspot.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DOA (dikutip dari kaset Manajemen Qalbu, KH. Abdulah Gymnastiar)

Alhamdulillah Ya Allah, Wahai yang maha menatap, wahai yang maha agung dan maha perkasa.  Ya Allah, wahai yang maha tahu segala lumuran aib dan maksiat, ampunilah
sebusuk apapun diri-diri kami selama ini,  ampuni sekelam apapun masa lalu kami, tutupi seburuk apapun aib-aib kami., ampunilah diri-diri kami Ya Allah, tolonglah kami ya rob.  Bukakan lembaran-lembaran baru yang bersih yang menggantikan lembaran kelam   masa lalu kami.

 Robbana dzolamna anfusanaa wa ilam taghfirlanaa wa tarhamnaa la nakuunanna
minal khaasiriin.

 Ya Allah ampuni dan selamatkan orang tua kami, darah dagingnya melekat pada
tubuh kami.  Ampuni jikalau selama ini kami pernah mendzoliminya, jadikan sisa umur kami  menjadi anak yang tahu balas budi ya alloh.   Rob ampuni kedua orangtua kami, bahagiakan, muliakan sisa umurnya ya alloh.  jadikan akhir hayatnya khusnul khotimah. kami mohon kepadamu ya alloh lindungi  kami dari mati suul khotimah.
cahayai kuburnya, kami benar-benar memohon padamu, lindungi dari siksa kubur ya
alloh.  jadikan doa kami menjadi cahaya bagi hatinya, cahaya bagi kuburnya.  rob balaslah kebaikan orang-orang yang berbuat baik kepada kami.
golongkan kami menjadi makhlukmu yang tahu diri dan tahu balas budi ya alloh.

Ya Allah bukakan hati kami agar dapat merasakan keagunganmu.
jadikan kening ini menjadi kening yang selalu nikmat bersujud kepadamu.
jadikan mata kami menjadi mata yang selalu akrab dengan ayat-ayatmu ya alloh.
golongkan telinga ini, menjadi telinga yang selalu rindu mendengar kebenaranmu. jadikan lisan kami menjadi lisan yang terpelihara, yang selalu basah menyebut
namamu, yang dapat menjadi cahaya ilmu yang dapat menjadi jalan kebaikan,
kemuliaan bagi umatmu.  dan lisan yang dapat pulang dengan menyebut namamu ya alloh.

Ya Allah karuniakan kepada kami jasad yang terpelihara dari maksiat,
terpelihara dari harta haram, makanan haram, perbuatan haram.
ijinkan jasad ini pulang, kelak jasad yang bersih ya alloh.

Ya Allah  karuniakan kepada kami hati yang bening, hati yang tidak pernah bisa
lupa kepadamu, hati yang tidak pernah kesepian karena teringat kepadamu. hati
yang terpesona kepadamu, hati yang selalu tentram karena yakin akan jaminanmu,
hati yang selalu kaya karena yakin akan pemberianmu, hati yang selalu merasa
aman karena yakin akan perlindunganmu yang maha kokoh.
ya allah karuniakan kepada kami hati yang merasakan indahnya cinta, cinta
kepada mu ya alloh.  Golongkan hari-hari kami menjadi hari-hari yang penuh kerinduan, rindu inginbisa pulang berjumpa denganmu ya alloh.

Ya Allah,  jangan biarkan persoalan yang kami hadapi membuat kami mengkhianatimu,
melainkan jadikan apapun yang harus kami hadapi membuat kami semakin dekat
denganmu, semakin bersyukur atas nikmat darimu, semakin ridho dengan ketentuan
apapun darimu. semakin indah dengan kesabaran dan semakin gigih berjuang dijalanmu.  Rob andai suatu saat malaikat maut menjemput kami, ijinkanlah saat kematian kami saat terindah dalam hidup ini dengan bekal yang cukup ya alloh.

Ya Allah ijinkan kami wafat khusnul khotimah.allahuma taubatan nasuha….
allahumma hawwin ‘alainaa fisakaraatil mauti wan najaata minannaar, wal’afwa
indal hisaab.

Ya Allah hanya engkaulah segala-galanya bagi kami, kami hanya sekedar makhlukmu
yang tiada arti bagimu tapi engkau adalah segala-galanya bagi kami.
ijinkan kami pulang dalam ridhomu ya alloh.robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanataan wa fil aakhi rati hasanatan wa qinnaa‘adzaabannaar,  subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashi fuuna wasalaamun ‘alal mursaliina walhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.
(https://cheptandi.wordpress.com/2011/02/07/doa-yang-membuat-saya-menangis/)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pangan dan regenerasi petani

SALAH satu target Presiden Joko Widodo dalam sektor pertanian adalah swasembada pangan dicapai dalam tiga tahun ini.Target yang sangat bagus sebab betapa penting swasembada pangan bagi Indonesia. Akan tetapi, pemerintah perlu merobohkan berbagai kendala. Salah satu kendala itu: regenerasi petani di Indonesia.

Minimnya regenerasi petani akan berdampak pada produktivitas lahan dan berujung pada kesulitan mencapai swasembada pangan. Jangankan swasembada, ketergantungan pada impor bahan pangan bisa lebih besar jika tidak ada regenerasi petani yang berkesinambungan.

Problem regenerasi

Regenerasi petani sudah perlu mendapat perhatian sebab jumlah petani terus turun dalam 10 tahun terakhir. Data statistik menunjukkan dalam kurun 2003- 2013 terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani sekitar 5,10 juta  (16 persen). Rumah tangga petani di Indonesia pada 2003 berjumlah 31,23 juta dan menurun menjadi 26,14 juta pada 2013. Jumlah rumah tangga petani menurun lantaran yang keluar dari sektor pertanian, meninggal, dan berpindah kerja ke sektor lain lebih besar dibandingkan dengan tenaga kerja baru yang menjadi petani.

Tiga provinsi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap penurunan rumah tangga petani adalah Jawa Tengah (1,31 juta), Jawa Timur (1,14 juta), dan Jawa Barat (1,12 juta). Pesatnya urbanisasi di ketiga provinsi itu diduga sebagai penyebab utama penurunan jumlah rumah tangga petani. Urbanisasi berakibat pada beralihnya sebagian lahan pertanian menjadi daerah permukiman dan fasilitas umum. Angkatan kerja baru juga lebih memilih bekerja di sektor nir-pertanian karena merasa lebih menjanjikan dari sisi upah dan kelayakan kerja.

Masalah regenerasi petani semakin kentara jika dilihat dari penurunan jumlah tenaga kerja muda di pertanian. Jumlah petani usia muda (15-24 tahun) mengalami penurunan lebih besar dibandingkan dengan jumlah petani usia tua. Jumlah petani usia muda pada 2004 sebesar 5,95 juta menurun menjadi 5,02 juta pada tahun 2012 (BPS, 2005 dan 2013). Angkatan kerja muda tidak lagi berminat bekerja sebagai petani dan memilih bekerja di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Suatu keputusan logis karena pertanian memang tidak memberikan jaminan kehidupan yang layak bagi pekerja.

Penurunan jumlah tenaga kerja pertanian di Indonesia berkon- sekuensi positif dan negatif bagi pertanian. Konsekuensi positifnya: peningkatan luas lahan dan penurunan jumlah petani gurem. Hasil sensus pertanian menunjukkan rerata luas lahan petani meningkat cukup signifikan. Rerata luas lahan pertanian pada 2003 sebesar 0,35 ha menjadi 0,86 ha pada 2013. Jumlah petani gurem menurun dari 19,02 juta pada 2003 menjadi 14,25 juta pada 2013. Keadaan ini memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan.

Konsekuensi negatifnya: ketahanan pangan terganggu di Indonesia. Meskipun secara kuantitas jumlah tenaga kerja di pertanian masih relatif besar, produktivitas lahan akan menurun. Pertama, sebagian besar petani di perdesaan umumnya sudah berumur tua. Meskipun jumlah mereka besar, produktivitas mereka sudah menurun. Kegiatan pertanian tidak bisa maju karena tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi pertanian.

Kedua, keturunan petani yang memilih bekerja di luar sektor pertanian umumnya adalah keturunan petani yang berhasil. Keberhasilan mereka ditunjukkan dengan kemampuan menyekolahkan anak sampai jenjang pendidikan tinggi. Dengan pendidikan tinggi itu, anak-anak petani tidak mau lagi bertani dan memilih bekerja di sektor lain.

Alternatif terakhir

Yang tetap menjadi petani akhirnya hanya mereka yang berpendidikan rendah dan kalah bersaing mendapat pekerjaan di luar sektor pertanian. Pertanian dijadikan sebagai alternatif terakhir setelah seseorang tidak bisa mendapat pekerjaan di luar sektor pertanian. Kebijakan pemerintah yang kurang mendukung  kemajuan di sektor pertanian menjadi penyebab utama mereka tidak lagi mau bekerja di sektor pertanian. Keengganan ini pun didukung orangtua yang sebagian besar bercita-cita anak mereka tak bekerja di sektor pertanian.

Ketiga, kegiatan pertanian bagi sebagian besar petani dianggap sebagai pekerjaan sampingan meski mereka mengaku bekerja sebagai petani. Alokasi waktu kerja sebagian besar digunakan untuk kegiatan nir-pertanian. Pada waktu panen, petani ini akan menggarap pekerjaan di pertanian. Namun, pada waktu tertentu mereka memilih bekerja sebagai tukang bangunan, pedagang asongan, atau buruh harian di perkotaan. Pekerjaan yang tak fokus ini menjadi penyebab kurang terurusnya lahan pertanian sehingga memiliki produktivitas rendah.

Masalah regenerasi dapat menjadi hambatan utama untuk implementasi program swasembada pangan di Indonesia. Masalah ini berpangkal pada tidak kompetitifnya upah dan pendapatan di sektor pertanian. Upah tenaga kerja di perdesaan tak ada setengahnya dibandingkan dengan upah tenaga kerja nir-pertanian di daerah perkotaan.

Petani juga berhadapan dengan impor produk pertanian yang berharga lebih rendah. Tak ada perlindungan memadai terhadap kehidupan petani agar dapat bersaing dan menangkal membanjirnya produk pertanian dari luar. Petani seperti dibiarkan berjalan sendiri, bahkan subsidi bagi petani kian berkurang.

Oleh sebab itu, kebijakan yang mendukung peningkatan  kelayakan hidup bagi petani mutlak diberikan agar pertanian tetap  menjadi pekerjaan menarik, khususnya bagi generasi muda. Perlindungan terhadap petani dari produk impor, permainan harga tengkulak, ketertinggalan teknologi juga perlu dilakukan. Tanpa regenerasi yang baik, program swasembada pangan canangan Presiden hanya akan jadi wacana yang tak pernah terwujud.

Penulis : Ngadi – Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Sumber : Kompas, 27 November 2014

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perkembangan Ketenagakerjaan Pertanian 2010-2014

Tenaga kerja pertanian mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan pertanian. Pembangunan ketenagakerjaan pertanian untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja pertanian dan peran sertanya dalam pembangunan pertanian serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya.

Produktivitas tenaga kerja di bidang pertanian saat ini tergolong rendah. Hal in terefleksikan dari kondisi penyerapan tenaga kerja sektor pertanian yang tidak sebanding dengan produk domestik bruto (PDB) yang disumbangkan 11,14% pada Triwulan II tahun 2015 (data BPS, Distribusi PDB Seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Perburuhan, dan Jasa Pertanian). Sementara, di sektor lain dalam hal penyerapan tenaga kerja tidak sebesar sektor pertanian.   Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain tingkat pendidikan, penguasaan teknologi, kompetensi, ketersediaan sarana dan prasarana, akses pasar, dan permodalan. Sampai dengan saat ini perbandingan tenaga kerja sektor pertanian dan sektor lain, didominasi oleh para petani yang kurang memiliki keahlian (unskilled farmers), sedangkan sektor lain telah memiliki keahlian tertentu.

Periode sepuluh tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, khususnya dalam periode 2010 – 2014 rata-rata mencapai 31,78% dari total tenaga kerja (data BPS, Angkatan Kerja per Bulan Februari 2015). Namun demikian dalam lima tahun terakhir terjadi trend penurunan penyerapan angkatan kerja di sektor pertanian hanya sekitar 35,76%, atau mengalami penurunan sebesar 4,7%. Penurunan jumlah penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian diiringi dengan peningkatan produktivitas di sektor pertanian. Meskipun mengalami kenaikan produktivitas, namun dibandingkan dengan sektor lain, produktivitas sektor pertanian relatif masih tertinggal. Berdasarkan laporan dari BPS, subsektor yang paling tinggi produktivitasnya pada tahun 2012 adalah subsektor perikanan dan peternakan, masing-masing mencapai Rp.2,9 juta dan Rp.2,6 juta/tenaga kerja/tahun.

Kebutuhan terhadap tenaga kerja bergantung juga pada ketersediaan dan kondisi tenaga kerja yang ada. Persediaan atau penawaran tenaga kerja dapat diidentifikasi melalui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dinamika perubahan jumlah tenaga kerja, sehingga diperlukan perencanaan tenaga kerja yang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kompetensi yang diperlukan.

Keberhasilan pembangunan pertanian khususnya di bidang ketenagakerjaan pertanian salah satunya ditentukan oleh ketersediaan  informasi yang akurat mengenai perkiraan jumlah kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) tenaga kerja pertanian, kelompok umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan,  dan jenis kelamin.

1.    Tenaga Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2010 – 2014 dinyatakan bahwa trend penurunan jumlah tenaga kerja pertanian/petani tingkat Nasional terjadi pada masa 2010 – 2014. Pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja pertanian sebanyak 38.699.043 orang yang terdiri atas laki-laki sebanyak  23.781.233 orang dan perempuan sebanyak 14.917.810 orang. Tahun 2014 menjadi 36.396.184 orang yang terdiri atas laki-laki sebanyak 22.519.115 orang (61,87%) dan perempuan sebanyak 13.877.069 orang (38,13%). Namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi pada tahun 2011-2012. Jumlah tenaga kerja pertanian semula 36.490.617 orang pada tahun 2011 menjadi 37.120.655 pada tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja pertanian dengan tingkat pertumbuhan 1,73%.

Kontribusi di sektor pertanian pada produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku menurun dari 15,19% menjadi 14,43% (BPS, data periode 2003-2013). Bahkan tahun 2014 menurun secara tidak signifikan sebesar 14,33%. Padahal, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih tinggi, yakni 36,40 juta orang dengan komposisi tenaga kerja laki-laki lebih besar. Pertumbuhan di sektor pertanian masih di bawah sektor lainnya padahal, jumlah tenaga kerja paling banyak ada di sektor pertanian.

Jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian tercatat menurun dari tahun ke tahun. Penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian disebabkan oleh pergeseran masa panen yang dialami oleh petani. Panen bergeser dari Maret ke Mei, menyebabkan pada saat survei tenaga kerja nampak sedikit.

Tata-rata tingkat pertumbuhan sebesar -1,69%. Berdasarkan jenis kelamin, rata-rata tingkat pertumbuhan tenaga kerja pertanian laki-laki -1,33%, sedangkan yang perempuan -1,69%. Perkembangan tenaga kerja pertanian tingkat nasional bedasarkan jenis kelamin (Agustus 2010 – Agustus 2014) tervisualisasi pada Gambar 1. Terlihat bahwa Jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki mengalami peningkatan pada tahun 2012 dan 2013. Jumlah tenaga kerja pertanian perempuan hanya mengalami peningkatan pada tahun 2012. Secara umum peningkatan jumlah tenaga kerja hanya terjadi pada tahun 2012 dalam kurun waktu 2010 – 2014.

Fakta dari data tersebut di atas adalah bahwa jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki lebih banyak dari pada tenaga kerja pertanian perempuan. Wanita sebagai tenaga kerja memperoleh lapangan kerja yang terbatas dari pada pria, dan dari segi upah atau gaji yang diterima lebih rendah daripada pria. Dalam hal ini yang ingin diinterpretasikan adalah bahwa dilema wanita pekerja dari tingkat upah yang lebih rendah antara pria dan wanita. Wanita sebagai tenaga kerja ternyata memperoleh lapangan kerja yang lebih terbatas dari pria.

Kondisi tersebut juga menggambarkan bahwa pihak laki-laki cenderung mendominasi pelaksanaan program pembangunan pertanian, sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Walaupun kebijakan pembangunan pertanian bersifat netral, namun dalam implementasinya cenderung bias gender. Hal ini juga disebabkan masih kuatnya pengaruh budaya patriarkhi di kalangan masyarakat petani itu sendiri. Perjalanan sejarah pembangunan pertanian di Indonesia, sumberdaya manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan dinyatakan sebagai sumberdaya insani pembangunan pertanian. Partisipasi laki-laki dan perempuan sangat diharapkan turut serta mewujudkan kesejahteraan nasional.

2.  Tenaga Kerja Berdasarkan Wilayah

Data ketenagakerjaan pertanian (petani) secara Nasional berdasarkan Survai Angkatan Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS), dari tahun 2010 – 2014,  bila diperhatikan jumlah  tenaga kerja pertanian secara Nasional berdasarkan wilayah, tampak bahwa tenaga kerja yang berada dan bekerja  di wilayah Perdesaan lebih banyak jika dibanding dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja di wilayah perkotaan.

Pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja sebanyak 38.699.043 orang, yang berada dan bekerja di wilayah perkotaan sebanyak 3.635.547 orang dan di perdesaan sebanyak 35.063.496 orang.  Tahun 2014 jumlah tenaga kerja pertanian menurun menjadi 36.396.184 orang   yang berada di wilayah perkotaan sebanyak 5.185.862 orang dan di perdesaan sebanyak 31.210.322 orang.

Tenaga kerja pertanian secara nasional cenderung mengalami penurunan rata-rata sebesar -1.49%. Jumlah tenaga kerja di perkotaan mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 10.95% dan tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata sebesar -2.74%.

 Perkembangan tenaga kerja pada tahun 2010 – 2011 terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sebesar -5.71%, namun pada tahun 2011 – 2012 terjadi peningkatan sebesar 1.73%. Sedangkan pada tahun 2012 sd 2014 jumlah tenaga kerja mengalami penurunan yaitu -1.10% dan -0.86%.

Dari perkembangan data, jumlah tenaga kerja di perkotaan mengalami peningkatan dan penurunan selama kurun waktu 5 tahun ini dapat disebabkan karena meningkatnya minat tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian. Sedangkan jumlah tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan, hal ini diasumsikan karena perkembangan teknologi yang memicu tenaga kerja di perdesaan migrasi untuk mengadu nasib di perkotaan

3.  Tenaga Kerja Berdasarkan Kelompok Umur

Data ketenagakerjaan pertanian/petani menurut kelompok umur secara Nasional berdasarkan Survai Angkatan Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS) dalam kurun waktu tahun 2010 – 2014, bahwa jumlah tenaga kerja pertanian selama periode tersebut mengalami sedikit perubahan.  Jumlah tenaga kerja pertanian tahun 2010  sebanyak 23.781.233 orang, dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak     4.629.945  orang, 25 – 54 tahun sebanyak 25.380.341 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 8.688.757 orang. Pada tahun 2014 menurun menjadi 36.396.184 orang dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 3.789.122 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 23.487.918 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 9.119.144 orang.  Dalam kurun waktu 2010 – 2014 tenaga kerja pertanian mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata 1,49%.  Data jumlah tenaga kerja pertanian secara Nasional dalam  kurun waktu 2010 – 2014  dapat dilihat pada tabel berikut.

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tenaga kerja pertanian (laki-laki + perempuan) semua kelompok  umur mengalami penurunan, penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 15 – 24 tahun dengan penurunan rata-rata pertumbuhan 4,77%, diikuti kelompok umur 25-54 tahun sebesar 1,89 dan pada >55 tahun mengalami peningkatan sebesar 1,34%.

Sebaran tenaga kerja pertanian berdasarkan kelompok umur memperlihatkan bahwa sebagian besar berada pada kelompok umur 25-54 tahun (65,58%), kemudian kelompok umur > 55 tahun (22,45%) dan kelompok umur 15-24 tahun (11,96%).   Menurut Iwan Setiawan (2007), mengatakan bahwa pada masa yang akan datang dikhawatirkan akan kekurangan tenaga kerja pertanian.   Tren aging agriculture sudah mulai terlihat pada sektor pertanian yaitu tenaga kerjanya  sudah menunjukkan komposisi penduduk usia lanjut yang semakin besar.  Kondisi ini sudah banyak terjadi seperti yang dikemukakan oleh Collier (1996) dalam Iwan Setiawan (2007)  berdasarkan penelitian di pedesaan Jawa yaitu” Suatu perubahan utama dalam pertanian Jawa berupa kekurangan buruh tani yang lebih besar, bahkan di daerah berpenduduk sangat padat.  Kekurangan ini terjadi karena tarikan orang ke pekerjaan lebih menarik di daerah urban dan perasaan orang-orang muda yang berpendidikan menengah yang tidak tertarik bekerja sebagai petani”. Kondisi tersebut sudah terasa pada masa sekarang, dimana untuk mendapatkan tenaga kerja (buruh) di sektor pertanian sudah sulit mendapatkannya.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin Jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki tahun 2010  sebanyak 23.781.233 orang, dengan rincian kelompok umur 15 – 24 tahun sebanyak   3.216.045  orang, 25 – 54 tahun sebanyak  14.985.908 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 5.579.280  orang.  Pada tahun 2014 menurun menjadi 22.519.115 orang dengan rincian kelompok umur 15 – 24 tahun sebanyak     2.664.750 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 13.926.866 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak     5.927.499  orang.   Dalam kurun waktu 2010-2014 tenaga kerja pertanian (laki-laki) mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata 1,33%.

 Tenaga kerja pertanian (laki-laki) semua kelompok  umur mengalami penurunan, penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 15 – 24 tahun dengan penurunan rata-rata pertumbuhan 4,50%, diikuti kelompok umur 25-54 tahun sebesar 1,79% dan kelompok >55 tahun mengalami peningkatan rata  0,55% per tahun.  Apabila dilihat dari persentase jumlah tenaga kerja umur 15-24 tahun dan umur > 55 tahun  semakin berkurang, sedangkan persentase jumlah kelompok umur 25-55 tahun semakin  meningkat, tetapi jika dilihat dari jumlahnya kelompok umur ini mengalami penurunan.

Sedangkan jumlah tenaga kerja pertanian (perempuan) tahun 2010  sebanyak 14.917.810 orang, dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 1.413.900 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 10.394.433 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 3.109.477 orang. Pada tahun 2014 menurun menjadi 13.877.069 orang dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak     1.124.372 orang, 25 – 54 tahun sebanyak    9.561.052 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 3.191.645 orang.  Dalam kurun waktu 2010-2014 tenaga kerja pertanian mengalami penurunan rata-rata 1,69%.

Tenaga kerja pertanian mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan pertanian. Pembangunan ketenagakerjaan pertanian untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja pertanian dan peran sertanya dalam pembangunan pertanian serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya.

Produktivitas tenaga kerja di bidang pertanian saat ini tergolong rendah. Hal in terefleksikan dari kondisi penyerapan tenaga kerja sektor pertanian yang tidak sebanding dengan produk domestik bruto (PDB) yang disumbangkan 11,14% pada Triwulan II tahun 2015 (data BPS, Distribusi PDB Seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Perburuhan, dan Jasa Pertanian). Sementara, di sektor lain dalam hal penyerapan tenaga kerja tidak sebesar sektor pertanian.   Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain tingkat pendidikan, penguasaan teknologi, kompetensi, ketersediaan sarana dan prasarana, akses pasar, dan permodalan. Sampai dengan saat ini perbandingan tenaga kerja sektor pertanian dan sektor lain, didominasi oleh para petani yang kurang memiliki keahlian (unskilled farmers), sedangkan sektor lain telah memiliki keahlian tertentu.

Periode sepuluh tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, khususnya dalam periode 2010 – 2014 rata-rata mencapai 31,78% dari total tenaga kerja (data BPS, Angkatan Kerja per Bulan Februari 2015). Namun demikian dalam lima tahun terakhir terjadi trend penurunan penyerapan angkatan kerja di sektor pertanian hanya sekitar 35,76%, atau mengalami penurunan sebesar 4,7%. Penurunan jumlah penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian diiringi dengan peningkatan produktivitas di sektor pertanian. Meskipun mengalami kenaikan produktivitas, namun dibandingkan dengan sektor lain, produktivitas sektor pertanian relatif masih tertinggal. Berdasarkan laporan dari BPS, subsektor yang paling tinggi produktivitasnya pada tahun 2012 adalah subsektor perikanan dan peternakan, masing-masing mencapai Rp.2,9 juta dan Rp.2,6 juta/tenaga kerja/tahun.

Kebutuhan terhadap tenaga kerja bergantung juga pada ketersediaan dan kondisi tenaga kerja yang ada. Persediaan atau penawaran tenaga kerja dapat diidentifikasi melalui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dinamika perubahan jumlah tenaga kerja, sehingga diperlukan perencanaan tenaga kerja yang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kompetensi yang diperlukan.

Keberhasilan pembangunan pertanian khususnya di bidang ketenagakerjaan pertanian salah satunya ditentukan oleh ketersediaan  informasi yang akurat mengenai perkiraan jumlah kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) tenaga kerja pertanian, kelompok umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan,  dan jenis kelamin.

4. Tenaga Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2010 – 2014 dinyatakan bahwa trend penurunan jumlah tenaga kerja pertanian/petani tingkat Nasional terjadi pada masa 2010 – 2014. Pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja pertanian sebanyak 38.699.043 orang yang terdiri atas laki-laki sebanyak  23.781.233 orang dan perempuan sebanyak 14.917.810 orang. Tahun 2014 menjadi 36.396.184 orang yang terdiri atas laki-laki sebanyak 22.519.115 orang (61,87%) dan perempuan sebanyak 13.877.069 orang (38,13%). Namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi pada tahun 2011-2012. Jumlah tenaga kerja pertanian semula 36.490.617 orang pada tahun 2011 menjadi 37.120.655 pada tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja pertanian dengan tingkat pertumbuhan 1,73%.

Kontribusi di sektor pertanian pada produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku menurun dari 15,19% menjadi 14,43% (BPS, data periode 2003-2013). Bahkan tahun 2014 menurun secara tidak signifikan sebesar 14,33%. Padahal, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih tinggi, yakni 36,40 juta orang dengan komposisi tenaga kerja laki-laki lebih besar. Pertumbuhan di sektor pertanian masih di bawah sektor lainnya padahal, jumlah tenaga kerja paling banyak ada di sektor pertanian.

Jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian tercatat menurun dari tahun ke tahun. Penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian disebabkan oleh pergeseran masa panen yang dialami oleh petani. Panen bergeser dari Maret ke Mei, menyebabkan pada saat survei tenaga kerja nampak sedikit.

 

 

Rata-rata tingkat pertumbuhan sebesar -1,69%. Berdasarkan jenis kelamin, rata-rata tingkat pertumbuhan tenaga kerja pertanian laki-laki -1,33%, sedangkan yang perempuan -1,69%. Perkembangan tenaga kerja pertanian tingkat nasional bedasarkan jenis kelamin (Agustus 2010 – Agustus 2014) tervisualisasi pada Gambar 1. Terlihat bahwa Jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki mengalami peningkatan pada tahun 2012 dan 2013. Jumlah tenaga kerja pertanian perempuan hanya mengalami peningkatan pada tahun 2012. Secara umum peningkatan jumlah tenaga kerja hanya terjadi pada tahun 2012 dalam kurun waktu 2010 – 2014.

Fakta dari data tersebut di atas adalah bahwa jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki lebih banyak dari pada tenaga kerja pertanian perempuan. Wanita sebagai tenaga kerja memperoleh lapangan kerja yang terbatas dari pada pria, dan dari segi upah atau gaji yang diterima lebih rendah daripada pria. Dalam hal ini yang ingin diinterpretasikan adalah bahwa dilema wanita pekerja dari tingkat upah yang lebih rendah antara pria dan wanita. Wanita sebagai tenaga kerja ternyata memperoleh lapangan kerja yang lebih terbatas dari pria.

Kondisi tersebut juga menggambarkan bahwa pihak laki-laki cenderung mendominasi pelaksanaan program pembangunan pertanian, sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Walaupun kebijakan pembangunan pertanian bersifat netral, namun dalam implementasinya cenderung bias gender. Hal ini juga disebabkan masih kuatnya pengaruh budaya patriarkhi di kalangan masyarakat petani itu sendiri. Perjalanan sejarah pembangunan pertanian di Indonesia, sumberdaya manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan dinyatakan sebagai sumberdaya insani pembangunan pertanian. Partisipasi laki-laki dan perempuan sangat diharapkan turut serta mewujudkan kesejahteraan nasional.

5.Tenaga Kerja Berdasarkan Wilayah

Data ketenagakerjaan pertanian (petani) secara Nasional berdasarkan Survai Angkatan Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS), dari tahun 2010 – 2014,  bila diperhatikan jumlah  tenaga kerja pertanian secara Nasional berdasarkan wilayah, tampak bahwa tenaga kerja yang berada dan bekerja  di wilayah Perdesaan lebih banyak jika dibanding dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja di wilayah perkotaan.

Pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja sebanyak 38.699.043 orang, yang berada dan bekerja di wilayah perkotaan sebanyak 3.635.547 orang dan di perdesaan sebanyak 35.063.496 orang.  Tahun 2014 jumlah tenaga kerja pertanian menurun menjadi 36.396.184 orang   yang berada di wilayah perkotaan sebanyak 5.185.862 orang dan di perdesaan sebanyak 31.210.322 orang.

 

 

Berdasarkan tabel di atas, memperlihatkan bahwa tenaga kerja pertanian secara nasional cenderung mengalami penurunan rata-rata sebesar -1.49%. Jumlah tenaga kerja di perkotaan mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 10.95% dan tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata sebesar -2.74%.

Perkembangan tenaga kerja pada tahun 2010 – 2011 terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sebesar -5.71%, namun pada tahun 2011 – 2012 terjadi peningkatan sebesar 1.73%. Sedangkan pada tahun 2012 sd 2014 jumlah tenaga kerja mengalami penurunan yaitu -1.10% dan -0.86%.

Dari perkembangan data, jumlah tenaga kerja di perkotaan mengalami peningkatan dan penurunan selama kurun waktu 5 tahun ini dapat disebabkan karena meningkatnya minat tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian. Sedangkan jumlah tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan, hal ini diasumsikan karena perkembangan teknologi yang memicu tenaga kerja di perdesaan migrasi untuk mengadu nasib di perkotaan.

6.Tenaga Kerja Berdasarkan Kelompok Umur

Data ketenagakerjaan pertanian/petani menurut kelompok umur secara Nasional berdasarkan Survai Angkatan Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS) dalam kurun waktu tahun 2010 – 2014, bahwa jumlah tenaga kerja pertanian selama periode tersebut mengalami sedikit perubahan.  Jumlah tenaga kerja pertanian tahun 2010  sebanyak 23.781.233 orang, dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak     4.629.945  orang, 25 – 54 tahun sebanyak 25.380.341 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 8.688.757 orang. Pada tahun 2014 menurun menjadi 36.396.184 orang dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 3.789.122 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 23.487.918 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 9.119.144 orang.  Dalam kurun waktu 2010 – 2014 tenaga kerja pertanian mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata 1,49%.  Data jumlah tenaga kerja pertanian secara Nasional dalam  kurun waktu 2010 – 2014  dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tenaga kerja pertanian (laki-laki + perempuan) semua kelompok  umur mengalami penurunan, penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 15 – 24 tahun dengan penurunan rata-rata pertumbuhan 4,77%, diikuti kelompok umur 25-54 tahun sebesar 1,89 dan pada >55 tahun mengalami peningkatan sebesar 1,34%.

Sebaran tenaga kerja pertanian berdasarkan kelompok umur memperlihatkan bahwa sebagian besar berada pada kelompok umur 25-54 tahun (65,58%), kemudian kelompok umur > 55 tahun (22,45%) dan kelompok umur 15-24 tahun (11,96%).   Menurut Iwan Setiawan (2007), mengatakan bahwa pada masa yang akan datang dikhawatirkan akan kekurangan tenaga kerja pertanian.   Tren aging agriculture sudah mulai terlihat pada sektor pertanian yaitu tenaga kerjanya  sudah menunjukkan komposisi penduduk usia lanjut yang semakin besar.  Kondisi ini sudah banyak terjadi seperti yang dikemukakan oleh Collier (1996) dalam Iwan Setiawan (2007)  berdasarkan penelitian di pedesaan Jawa yaitu” Suatu perubahan utama dalam pertanian Jawa berupa kekurangan buruh tani yang lebih besar, bahkan di daerah berpenduduk sangat padat.  Kekurangan ini terjadi karena tarikan orang ke pekerjaan lebih menarik di daerah urban dan perasaan orang-orang muda yang berpendidikan menengah yang tidak tertarik bekerja sebagai petani”. Kondisi tersebut sudah terasa pada masa sekarang, dimana untuk mendapatkan tenaga kerja (buruh) di sektor pertanian sudah sulit mendapatkannya.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin Jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki tahun 2010  sebanyak 23.781.233 orang, dengan rincian kelompok umur 15 – 24 tahun sebanyak   3.216.045  orang, 25 – 54 tahun sebanyak  14.985.908 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 5.579.280  orang.  Pada tahun 2014 menurun menjadi 22.519.115 orang dengan rincian kelompok umur 15 – 24 tahun sebanyak     2.664.750 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 13.926.866 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak     5.927.499  orang.   Dalam kurun waktu 2010-2014 tenaga kerja pertanian (laki-laki) mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata 1,33%.

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tenaga kerja pertanian (laki-laki) semua kelompok  umur mengalami penurunan, penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 15 – 24 tahun dengan penurunan rata-rata pertumbuhan 4,50%, diikuti kelompok umur 25-54 tahun sebesar 1,79% dan kelompok >55 tahun mengalami peningkatan rata  0,55% per tahun.  Apabila dilihat dari persentase jumlah tenaga kerja umur 15-24 tahun dan umur > 55 tahun  semakin berkurang, sedangkan persentase jumlah kelompok umur 25-55 tahun semakin  meningkat, tetapi jika dilihat dari jumlahnya kelompok umur ini mengalami penurunan.

Sedangkan jumlah tenaga kerja pertanian (perempuan) tahun 2010  sebanyak 14.917.810 orang, dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 1.413.900 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 10.394.433 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 3.109.477 orang. Pada tahun 2014 menurun menjadi 13.877.069 orang dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak     1.124.372 orang, 25 – 54 tahun sebanyak    9.561.052 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 3.191.645 orang.  Dalam kurun waktu 2010-2014 tenaga kerja pertanian mengalami penurunan rata-rata 1,69%. Data jumlah tenaga kerja pertanian jenis kelamin perempuan dalam  kurun waktu 2010 – 2014 dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tenaga kerja pertanian (perempuan) kelompok  umur 15 – 24 tahun dan kelompok umur 25-24 tahun mengalami rata-rata penurunan pertumbuhan 5,35% dan 1,96% per tahun, sedangkan pada kelompok umur >55 tahun mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,88% per tahun

Apabila dilihat dari persentase jumlah tenaga kerja umur 15-24 tahun dan kelompok umur 25-55 tahun semakin berkurang,  sedangkan kelompok umur > 55 tahun baik  mengalami peningkatan yang relatif kecil.

6.  Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan

Data ketenagakerjaan pertanian/petani berdasarkan jenis kelamin secara Nasional berdasarkan hasil Survai Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2010 – 2014 menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah dari tahun ke tahun. Jumlah tenaga kerja pertanian tahun 2010 sebanyak 38.699.043 orang, dengan rincian tingkat Pendidikan Tidak/Belum Pernah Sekolah 3.720.759 orang (9.6%), Tidak/Belum Tamat SD 10.280.728 orang (26.6%),  pendidikan SD 14.884.127  orang (38.5%), SLTP 6.281.776 orang (16.2%), SLTA 3.311.859 orang (8.6%), dan Perguruan Tinggi 219.794 orang (0.60 %). Tahun 2014 sebanyak 36.396.184 orang, dengan rincian tingkat Pendidikan Tidak/Belum Pernah Sekolah 3.602.295 orang (9.9%), Tidak/Belum Tamat SD 8.537.959 orang (23.5%),  pendidikan SD 14.687.343 orang (40.4%), SLTP 5.604.088 orang (15.4%), SLTA 3.675.549 orang (10.1%), dan Perguruan Tinggi 288.950 orang (0.80 %).  Jumlah tenaga kerja pertanian berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2010-2014 terlihat pada tabel berikut.

 

Secara umum, jumlah tenaga kerja pertanian menurut tingkat pendidikan tahun 2010 – 2014 mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata sebesar -1.49 %. Penurunan terjadi pada tenaga kerja dengan tingkat pendidikan Tdk/Blm Pernah Sekolah (-0.40%), Tdk/Blm Tamat SD (-4.42%),  SD (-0.28%), dan Tamat SLTP (-2.62%). Sedangkan tingkat pendidikan Tamat  SLTA (2.72%) dan tingkat pendidikan Perguruan Tinggi (9.25%) mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja.

Hal ini menunjukkan bahwa minat untuk bekerja di sektor pertanian dengan tingkat pendidikan tinggi cenderung meningkat. Tenaga Kerja Pertanian menurut wilayah Tahun 2014.

7. Tenaga kerja Berdasarkan Provinsi

Sebagai mana dikemukanan pada bab sebelumnya, bahwa perkembangan tenaga kerja pertanian selama kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2010 – 2014, mengalami penurunan yang semula pada tahun  2010 sebanyak 38.699.043  orang dan pada tahun 2014 sebanyak 36.396.184 orang, dengan penurunan rata-rata sebanyak 1,49 % per tahun. Namun demikian apabila dilihat dari perkembangan jumlah tenaga kerja berdasarkan provinsi  sangat bervariasi perkembangannya.

Berdasarkan tabel tersebut, menunjukkan bahwa perkembangan tenaga kerja yang paling tinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta, disusul oleh provinsi Riau dan Gorontalo masing-masing 13.96%, 4,20%  dan 2,80% per tahun.  Sedangkan yang perkembanganya menurun paling besar terdapat di provinsi Bali, disusul oleh provinsi Banten dan Lampung masing-masing 5,17%, 3,60% dan 3,59% per tahun.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jokowi-JK Beban Utang dan Bunga Menggunung, Bagaimana Mengatasinya?

Bank Indonesia mencatat total utang luar negeri pemerintah Indonesia per Januari 2014 mencapai US$ 269,27 milyar (RimaNews, 13/8/2014). Jika di kurs dengan rupiah Rp 12.000/dollar Amerika Serikat, maka total utang pemerintah Indonesia pada awal tahun 2014 sebesar Rp 323.124 triliun.

Tahun ini pemerintah berencana menarik utang baru senilai Rp 215,4 triliun untuk menutupi defisit anggaran yang mencapai Rp 224,2 triliun. Jika rencana itu direalisasikan, maka jumlah utang pemerintah Indonesia yang diwariskan rezim SBY kepada Jokowi yang akan dilantik menjadi Presiden RI pada 20 Oktober 2014 mencapai sekitar Rp. 323.339,2 triliun.

images dolar Amerika

Jumlah utang tersebut merupakan akumulasi dari warisan utang pemerintah Indonesia sejak zaman Presiden Soekarno sampai zaman Presiden SBY. Rezim SBY yang berkuasa selama 10 tahun lamanya termasuk rezim yang rajin berutang, antara lain sebabnya karena defisit anggaran ditutup dengan utang baru.

Sejatinya defisit anggaran ditutup dengan hidup hemat, memberantas mafia migas dan mafia lainnya, meningkatkan penerimaan negara dari pajak, devisa non migas, migas dan mengurangi subsidi yang tidak tepat sasaran serta mencegah meluasnya korupsi.

Jumlah utang pemerintah bersifat fluktuatif, sangat ditentukan besar kecilnya kurs rupiah terhadap mata uang asing terutama dollar Amerika Serikat. Karena utang pemerintah pada umumnya dalam bentuk mata uang asing. Kalau kurs rupiah sedang melemah seperti sekarang, maka utang pemerintah Indonesia bisa melonjak secara drastis.

Beban Utang Sangat Berat

Cicilan utang pokok dan bunga dari tahun ke tahun terus bertambah besar, yang berarti menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena harus masuk sebagai pengeluaran negara.

Terus bertambahnya pengeluaran untuk membayar cicilan utang pokok dan bunga, memberi implikasi yang luas dalam berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pertama, anggaran pembangunan semakin berkurang karena tersedot untuk bayar utang dan bunga. Itu sebabnya selama 10 tahun SBY menjadi Presiden RI, pembangunan sarana dan prasarana seperti jalan, jembatan, pengairan, bendungan dan lain sebagainya sangat tidak memadai dibanding di masa Orde Baru.

Kedua, kesejahteraan umum tidak meningkat, bahkan ada yang mengatakan semakin merosot. Hal itu terjadi karena pembangunan tidak mengalami kemajuan. Kalau pembangunan tidak meningkat secara siginifikan, maka tidak mungkin meningkat kesejahteraan rakyat, karena melalui pembangunan, masyarakat mendapat menfaat ekonomi dan sosial.

Ketiga, kehidupan rakyat jelata bertambah susah. Penyebabnya antara lain, meningkatnya inflasi untuk 9 (sembilan) bahan pokok mencapai 60 persen dalam lima tahun terakhrr ini. Sementara APBN tidak mampu menjadi instrumen untuk memajukan kesejahteraan rakyat bawah, karena APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sudah tersedot untuk membayar cicilan utang pokok dan bunga, gaji aparatur negara dan pejabat negara serta biaya operasional berbagai kementerian dan lembaga negara lainnya, subsidi yang salah sasaran, biaya pemekaran daerah kabupaten dan kota, serta bantuan ke daerah, sehingga anggaran habis tanpa bisa memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan umum sesuai amanat pembukaan UUD 1945.

Sebagai informasi besar pengeluaran negara untuk membayar cicilan utang pokok dan bunga:

Tahun 2010, total cicilan utang pokok dan bunga Rp 230,33 triliun

Tahun 2011, total cicilan utang pokok dan bunga Rp 247 triliun

Tahun 2012, total cicilan utang pokok dan bunga Rp 261,13 triliun

Tahun 2013, total cicilan utang pokok dan bunga Rp 272,219 triliUn

(sumber: Detik Finance,23/1/2014)

Bagaimana Mengatasinya

Tidak mudah mengatasi beban utang dan bunga yang sudah menggunung. Betapapun beratnya masalah yang dihadapi, harus ditumbuhkan dalam diri bangsa Indonesia bahwa setiap masalah dapat diatasi.

Pertama, harus hidup sederhana, jangan hidup mewah dari utang. Ini harus dicontohkan dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, pajabat negara di eksekutif (pemerintahan), yudikatif (peradilan) dan di legislatif (parlemen).

Kedua, berhenti korupsi. Semua pejabat di pemerintahan, legislatif dan yudikatif di pusat dan daerah, harus berhenti korupsi.

Ketiga, berhenti berutang. Utang lama dan bunga harus dilakukan negosiasi ulang untuk mendapatkan pengurangan dan penghapusan. Jangan menjadi good boy dalam membayar utang, karena utang di masa lalu tidak terlepas dari kongkalingkon antara pemberi utang dan pengutang serta banyak dikorupsi.

Keempat, bekerja keras, sesuai kedudukan dan profesi masing-masing.

Kelima, menumbuhkan semangat dan optimisme bahwa harapan itu masih ada.

Terakhir, untuk keluar dari belitan dan jebatan utang yang merupakan warisan, harus bersatu dan bersama, dengan mendukung pemimpin baru yang dipilih rakyat Indonesia secara demokratis, jangan cakar-cakaran seperti yang sedang dikembangkan sekarang.

Sejatinya sesudah pemilihan presiden, kita kembali bersatu, membangun Indonesia menjadi negara yang hebat, maju dan sejahtera.

Allahu a’lam bisshawab

sumber-link (http://musniumar.wordpress.com/2014/09/)

Posted in Uncategorized | Leave a comment