Perkembangan Ketenagakerjaan Pertanian 2010-2014

Tenaga kerja pertanian mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan pertanian. Pembangunan ketenagakerjaan pertanian untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja pertanian dan peran sertanya dalam pembangunan pertanian serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya.

Produktivitas tenaga kerja di bidang pertanian saat ini tergolong rendah. Hal in terefleksikan dari kondisi penyerapan tenaga kerja sektor pertanian yang tidak sebanding dengan produk domestik bruto (PDB) yang disumbangkan 11,14% pada Triwulan II tahun 2015 (data BPS, Distribusi PDB Seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Perburuhan, dan Jasa Pertanian). Sementara, di sektor lain dalam hal penyerapan tenaga kerja tidak sebesar sektor pertanian.   Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain tingkat pendidikan, penguasaan teknologi, kompetensi, ketersediaan sarana dan prasarana, akses pasar, dan permodalan. Sampai dengan saat ini perbandingan tenaga kerja sektor pertanian dan sektor lain, didominasi oleh para petani yang kurang memiliki keahlian (unskilled farmers), sedangkan sektor lain telah memiliki keahlian tertentu.

Periode sepuluh tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, khususnya dalam periode 2010 – 2014 rata-rata mencapai 31,78% dari total tenaga kerja (data BPS, Angkatan Kerja per Bulan Februari 2015). Namun demikian dalam lima tahun terakhir terjadi trend penurunan penyerapan angkatan kerja di sektor pertanian hanya sekitar 35,76%, atau mengalami penurunan sebesar 4,7%. Penurunan jumlah penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian diiringi dengan peningkatan produktivitas di sektor pertanian. Meskipun mengalami kenaikan produktivitas, namun dibandingkan dengan sektor lain, produktivitas sektor pertanian relatif masih tertinggal. Berdasarkan laporan dari BPS, subsektor yang paling tinggi produktivitasnya pada tahun 2012 adalah subsektor perikanan dan peternakan, masing-masing mencapai Rp.2,9 juta dan Rp.2,6 juta/tenaga kerja/tahun.

Kebutuhan terhadap tenaga kerja bergantung juga pada ketersediaan dan kondisi tenaga kerja yang ada. Persediaan atau penawaran tenaga kerja dapat diidentifikasi melalui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dinamika perubahan jumlah tenaga kerja, sehingga diperlukan perencanaan tenaga kerja yang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kompetensi yang diperlukan.

Keberhasilan pembangunan pertanian khususnya di bidang ketenagakerjaan pertanian salah satunya ditentukan oleh ketersediaan  informasi yang akurat mengenai perkiraan jumlah kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) tenaga kerja pertanian, kelompok umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan,  dan jenis kelamin.

1.    Tenaga Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2010 – 2014 dinyatakan bahwa trend penurunan jumlah tenaga kerja pertanian/petani tingkat Nasional terjadi pada masa 2010 – 2014. Pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja pertanian sebanyak 38.699.043 orang yang terdiri atas laki-laki sebanyak  23.781.233 orang dan perempuan sebanyak 14.917.810 orang. Tahun 2014 menjadi 36.396.184 orang yang terdiri atas laki-laki sebanyak 22.519.115 orang (61,87%) dan perempuan sebanyak 13.877.069 orang (38,13%). Namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi pada tahun 2011-2012. Jumlah tenaga kerja pertanian semula 36.490.617 orang pada tahun 2011 menjadi 37.120.655 pada tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja pertanian dengan tingkat pertumbuhan 1,73%.

Kontribusi di sektor pertanian pada produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku menurun dari 15,19% menjadi 14,43% (BPS, data periode 2003-2013). Bahkan tahun 2014 menurun secara tidak signifikan sebesar 14,33%. Padahal, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih tinggi, yakni 36,40 juta orang dengan komposisi tenaga kerja laki-laki lebih besar. Pertumbuhan di sektor pertanian masih di bawah sektor lainnya padahal, jumlah tenaga kerja paling banyak ada di sektor pertanian.

Jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian tercatat menurun dari tahun ke tahun. Penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian disebabkan oleh pergeseran masa panen yang dialami oleh petani. Panen bergeser dari Maret ke Mei, menyebabkan pada saat survei tenaga kerja nampak sedikit.

Tata-rata tingkat pertumbuhan sebesar -1,69%. Berdasarkan jenis kelamin, rata-rata tingkat pertumbuhan tenaga kerja pertanian laki-laki -1,33%, sedangkan yang perempuan -1,69%. Perkembangan tenaga kerja pertanian tingkat nasional bedasarkan jenis kelamin (Agustus 2010 – Agustus 2014) tervisualisasi pada Gambar 1. Terlihat bahwa Jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki mengalami peningkatan pada tahun 2012 dan 2013. Jumlah tenaga kerja pertanian perempuan hanya mengalami peningkatan pada tahun 2012. Secara umum peningkatan jumlah tenaga kerja hanya terjadi pada tahun 2012 dalam kurun waktu 2010 – 2014.

Fakta dari data tersebut di atas adalah bahwa jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki lebih banyak dari pada tenaga kerja pertanian perempuan. Wanita sebagai tenaga kerja memperoleh lapangan kerja yang terbatas dari pada pria, dan dari segi upah atau gaji yang diterima lebih rendah daripada pria. Dalam hal ini yang ingin diinterpretasikan adalah bahwa dilema wanita pekerja dari tingkat upah yang lebih rendah antara pria dan wanita. Wanita sebagai tenaga kerja ternyata memperoleh lapangan kerja yang lebih terbatas dari pria.

Kondisi tersebut juga menggambarkan bahwa pihak laki-laki cenderung mendominasi pelaksanaan program pembangunan pertanian, sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Walaupun kebijakan pembangunan pertanian bersifat netral, namun dalam implementasinya cenderung bias gender. Hal ini juga disebabkan masih kuatnya pengaruh budaya patriarkhi di kalangan masyarakat petani itu sendiri. Perjalanan sejarah pembangunan pertanian di Indonesia, sumberdaya manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan dinyatakan sebagai sumberdaya insani pembangunan pertanian. Partisipasi laki-laki dan perempuan sangat diharapkan turut serta mewujudkan kesejahteraan nasional.

2.  Tenaga Kerja Berdasarkan Wilayah

Data ketenagakerjaan pertanian (petani) secara Nasional berdasarkan Survai Angkatan Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS), dari tahun 2010 – 2014,  bila diperhatikan jumlah  tenaga kerja pertanian secara Nasional berdasarkan wilayah, tampak bahwa tenaga kerja yang berada dan bekerja  di wilayah Perdesaan lebih banyak jika dibanding dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja di wilayah perkotaan.

Pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja sebanyak 38.699.043 orang, yang berada dan bekerja di wilayah perkotaan sebanyak 3.635.547 orang dan di perdesaan sebanyak 35.063.496 orang.  Tahun 2014 jumlah tenaga kerja pertanian menurun menjadi 36.396.184 orang   yang berada di wilayah perkotaan sebanyak 5.185.862 orang dan di perdesaan sebanyak 31.210.322 orang.

Tenaga kerja pertanian secara nasional cenderung mengalami penurunan rata-rata sebesar -1.49%. Jumlah tenaga kerja di perkotaan mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 10.95% dan tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata sebesar -2.74%.

 Perkembangan tenaga kerja pada tahun 2010 – 2011 terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sebesar -5.71%, namun pada tahun 2011 – 2012 terjadi peningkatan sebesar 1.73%. Sedangkan pada tahun 2012 sd 2014 jumlah tenaga kerja mengalami penurunan yaitu -1.10% dan -0.86%.

Dari perkembangan data, jumlah tenaga kerja di perkotaan mengalami peningkatan dan penurunan selama kurun waktu 5 tahun ini dapat disebabkan karena meningkatnya minat tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian. Sedangkan jumlah tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan, hal ini diasumsikan karena perkembangan teknologi yang memicu tenaga kerja di perdesaan migrasi untuk mengadu nasib di perkotaan

3.  Tenaga Kerja Berdasarkan Kelompok Umur

Data ketenagakerjaan pertanian/petani menurut kelompok umur secara Nasional berdasarkan Survai Angkatan Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS) dalam kurun waktu tahun 2010 – 2014, bahwa jumlah tenaga kerja pertanian selama periode tersebut mengalami sedikit perubahan.  Jumlah tenaga kerja pertanian tahun 2010  sebanyak 23.781.233 orang, dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak     4.629.945  orang, 25 – 54 tahun sebanyak 25.380.341 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 8.688.757 orang. Pada tahun 2014 menurun menjadi 36.396.184 orang dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 3.789.122 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 23.487.918 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 9.119.144 orang.  Dalam kurun waktu 2010 – 2014 tenaga kerja pertanian mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata 1,49%.  Data jumlah tenaga kerja pertanian secara Nasional dalam  kurun waktu 2010 – 2014  dapat dilihat pada tabel berikut.

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tenaga kerja pertanian (laki-laki + perempuan) semua kelompok  umur mengalami penurunan, penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 15 – 24 tahun dengan penurunan rata-rata pertumbuhan 4,77%, diikuti kelompok umur 25-54 tahun sebesar 1,89 dan pada >55 tahun mengalami peningkatan sebesar 1,34%.

Sebaran tenaga kerja pertanian berdasarkan kelompok umur memperlihatkan bahwa sebagian besar berada pada kelompok umur 25-54 tahun (65,58%), kemudian kelompok umur > 55 tahun (22,45%) dan kelompok umur 15-24 tahun (11,96%).   Menurut Iwan Setiawan (2007), mengatakan bahwa pada masa yang akan datang dikhawatirkan akan kekurangan tenaga kerja pertanian.   Tren aging agriculture sudah mulai terlihat pada sektor pertanian yaitu tenaga kerjanya  sudah menunjukkan komposisi penduduk usia lanjut yang semakin besar.  Kondisi ini sudah banyak terjadi seperti yang dikemukakan oleh Collier (1996) dalam Iwan Setiawan (2007)  berdasarkan penelitian di pedesaan Jawa yaitu” Suatu perubahan utama dalam pertanian Jawa berupa kekurangan buruh tani yang lebih besar, bahkan di daerah berpenduduk sangat padat.  Kekurangan ini terjadi karena tarikan orang ke pekerjaan lebih menarik di daerah urban dan perasaan orang-orang muda yang berpendidikan menengah yang tidak tertarik bekerja sebagai petani”. Kondisi tersebut sudah terasa pada masa sekarang, dimana untuk mendapatkan tenaga kerja (buruh) di sektor pertanian sudah sulit mendapatkannya.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin Jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki tahun 2010  sebanyak 23.781.233 orang, dengan rincian kelompok umur 15 – 24 tahun sebanyak   3.216.045  orang, 25 – 54 tahun sebanyak  14.985.908 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 5.579.280  orang.  Pada tahun 2014 menurun menjadi 22.519.115 orang dengan rincian kelompok umur 15 – 24 tahun sebanyak     2.664.750 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 13.926.866 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak     5.927.499  orang.   Dalam kurun waktu 2010-2014 tenaga kerja pertanian (laki-laki) mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata 1,33%.

 Tenaga kerja pertanian (laki-laki) semua kelompok  umur mengalami penurunan, penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 15 – 24 tahun dengan penurunan rata-rata pertumbuhan 4,50%, diikuti kelompok umur 25-54 tahun sebesar 1,79% dan kelompok >55 tahun mengalami peningkatan rata  0,55% per tahun.  Apabila dilihat dari persentase jumlah tenaga kerja umur 15-24 tahun dan umur > 55 tahun  semakin berkurang, sedangkan persentase jumlah kelompok umur 25-55 tahun semakin  meningkat, tetapi jika dilihat dari jumlahnya kelompok umur ini mengalami penurunan.

Sedangkan jumlah tenaga kerja pertanian (perempuan) tahun 2010  sebanyak 14.917.810 orang, dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 1.413.900 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 10.394.433 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 3.109.477 orang. Pada tahun 2014 menurun menjadi 13.877.069 orang dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak     1.124.372 orang, 25 – 54 tahun sebanyak    9.561.052 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 3.191.645 orang.  Dalam kurun waktu 2010-2014 tenaga kerja pertanian mengalami penurunan rata-rata 1,69%.

Tenaga kerja pertanian mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan pertanian. Pembangunan ketenagakerjaan pertanian untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja pertanian dan peran sertanya dalam pembangunan pertanian serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya.

Produktivitas tenaga kerja di bidang pertanian saat ini tergolong rendah. Hal in terefleksikan dari kondisi penyerapan tenaga kerja sektor pertanian yang tidak sebanding dengan produk domestik bruto (PDB) yang disumbangkan 11,14% pada Triwulan II tahun 2015 (data BPS, Distribusi PDB Seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Perburuhan, dan Jasa Pertanian). Sementara, di sektor lain dalam hal penyerapan tenaga kerja tidak sebesar sektor pertanian.   Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain tingkat pendidikan, penguasaan teknologi, kompetensi, ketersediaan sarana dan prasarana, akses pasar, dan permodalan. Sampai dengan saat ini perbandingan tenaga kerja sektor pertanian dan sektor lain, didominasi oleh para petani yang kurang memiliki keahlian (unskilled farmers), sedangkan sektor lain telah memiliki keahlian tertentu.

Periode sepuluh tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, khususnya dalam periode 2010 – 2014 rata-rata mencapai 31,78% dari total tenaga kerja (data BPS, Angkatan Kerja per Bulan Februari 2015). Namun demikian dalam lima tahun terakhir terjadi trend penurunan penyerapan angkatan kerja di sektor pertanian hanya sekitar 35,76%, atau mengalami penurunan sebesar 4,7%. Penurunan jumlah penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian diiringi dengan peningkatan produktivitas di sektor pertanian. Meskipun mengalami kenaikan produktivitas, namun dibandingkan dengan sektor lain, produktivitas sektor pertanian relatif masih tertinggal. Berdasarkan laporan dari BPS, subsektor yang paling tinggi produktivitasnya pada tahun 2012 adalah subsektor perikanan dan peternakan, masing-masing mencapai Rp.2,9 juta dan Rp.2,6 juta/tenaga kerja/tahun.

Kebutuhan terhadap tenaga kerja bergantung juga pada ketersediaan dan kondisi tenaga kerja yang ada. Persediaan atau penawaran tenaga kerja dapat diidentifikasi melalui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dinamika perubahan jumlah tenaga kerja, sehingga diperlukan perencanaan tenaga kerja yang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kompetensi yang diperlukan.

Keberhasilan pembangunan pertanian khususnya di bidang ketenagakerjaan pertanian salah satunya ditentukan oleh ketersediaan  informasi yang akurat mengenai perkiraan jumlah kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) tenaga kerja pertanian, kelompok umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan,  dan jenis kelamin.

4. Tenaga Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2010 – 2014 dinyatakan bahwa trend penurunan jumlah tenaga kerja pertanian/petani tingkat Nasional terjadi pada masa 2010 – 2014. Pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja pertanian sebanyak 38.699.043 orang yang terdiri atas laki-laki sebanyak  23.781.233 orang dan perempuan sebanyak 14.917.810 orang. Tahun 2014 menjadi 36.396.184 orang yang terdiri atas laki-laki sebanyak 22.519.115 orang (61,87%) dan perempuan sebanyak 13.877.069 orang (38,13%). Namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi pada tahun 2011-2012. Jumlah tenaga kerja pertanian semula 36.490.617 orang pada tahun 2011 menjadi 37.120.655 pada tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja pertanian dengan tingkat pertumbuhan 1,73%.

Kontribusi di sektor pertanian pada produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku menurun dari 15,19% menjadi 14,43% (BPS, data periode 2003-2013). Bahkan tahun 2014 menurun secara tidak signifikan sebesar 14,33%. Padahal, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih tinggi, yakni 36,40 juta orang dengan komposisi tenaga kerja laki-laki lebih besar. Pertumbuhan di sektor pertanian masih di bawah sektor lainnya padahal, jumlah tenaga kerja paling banyak ada di sektor pertanian.

Jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian tercatat menurun dari tahun ke tahun. Penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian disebabkan oleh pergeseran masa panen yang dialami oleh petani. Panen bergeser dari Maret ke Mei, menyebabkan pada saat survei tenaga kerja nampak sedikit.

 

 

Rata-rata tingkat pertumbuhan sebesar -1,69%. Berdasarkan jenis kelamin, rata-rata tingkat pertumbuhan tenaga kerja pertanian laki-laki -1,33%, sedangkan yang perempuan -1,69%. Perkembangan tenaga kerja pertanian tingkat nasional bedasarkan jenis kelamin (Agustus 2010 – Agustus 2014) tervisualisasi pada Gambar 1. Terlihat bahwa Jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki mengalami peningkatan pada tahun 2012 dan 2013. Jumlah tenaga kerja pertanian perempuan hanya mengalami peningkatan pada tahun 2012. Secara umum peningkatan jumlah tenaga kerja hanya terjadi pada tahun 2012 dalam kurun waktu 2010 – 2014.

Fakta dari data tersebut di atas adalah bahwa jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki lebih banyak dari pada tenaga kerja pertanian perempuan. Wanita sebagai tenaga kerja memperoleh lapangan kerja yang terbatas dari pada pria, dan dari segi upah atau gaji yang diterima lebih rendah daripada pria. Dalam hal ini yang ingin diinterpretasikan adalah bahwa dilema wanita pekerja dari tingkat upah yang lebih rendah antara pria dan wanita. Wanita sebagai tenaga kerja ternyata memperoleh lapangan kerja yang lebih terbatas dari pria.

Kondisi tersebut juga menggambarkan bahwa pihak laki-laki cenderung mendominasi pelaksanaan program pembangunan pertanian, sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Walaupun kebijakan pembangunan pertanian bersifat netral, namun dalam implementasinya cenderung bias gender. Hal ini juga disebabkan masih kuatnya pengaruh budaya patriarkhi di kalangan masyarakat petani itu sendiri. Perjalanan sejarah pembangunan pertanian di Indonesia, sumberdaya manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan dinyatakan sebagai sumberdaya insani pembangunan pertanian. Partisipasi laki-laki dan perempuan sangat diharapkan turut serta mewujudkan kesejahteraan nasional.

5.Tenaga Kerja Berdasarkan Wilayah

Data ketenagakerjaan pertanian (petani) secara Nasional berdasarkan Survai Angkatan Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS), dari tahun 2010 – 2014,  bila diperhatikan jumlah  tenaga kerja pertanian secara Nasional berdasarkan wilayah, tampak bahwa tenaga kerja yang berada dan bekerja  di wilayah Perdesaan lebih banyak jika dibanding dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja di wilayah perkotaan.

Pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja sebanyak 38.699.043 orang, yang berada dan bekerja di wilayah perkotaan sebanyak 3.635.547 orang dan di perdesaan sebanyak 35.063.496 orang.  Tahun 2014 jumlah tenaga kerja pertanian menurun menjadi 36.396.184 orang   yang berada di wilayah perkotaan sebanyak 5.185.862 orang dan di perdesaan sebanyak 31.210.322 orang.

 

 

Berdasarkan tabel di atas, memperlihatkan bahwa tenaga kerja pertanian secara nasional cenderung mengalami penurunan rata-rata sebesar -1.49%. Jumlah tenaga kerja di perkotaan mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 10.95% dan tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata sebesar -2.74%.

Perkembangan tenaga kerja pada tahun 2010 – 2011 terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sebesar -5.71%, namun pada tahun 2011 – 2012 terjadi peningkatan sebesar 1.73%. Sedangkan pada tahun 2012 sd 2014 jumlah tenaga kerja mengalami penurunan yaitu -1.10% dan -0.86%.

Dari perkembangan data, jumlah tenaga kerja di perkotaan mengalami peningkatan dan penurunan selama kurun waktu 5 tahun ini dapat disebabkan karena meningkatnya minat tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian. Sedangkan jumlah tenaga kerja di perdesaan mengalami penurunan, hal ini diasumsikan karena perkembangan teknologi yang memicu tenaga kerja di perdesaan migrasi untuk mengadu nasib di perkotaan.

6.Tenaga Kerja Berdasarkan Kelompok Umur

Data ketenagakerjaan pertanian/petani menurut kelompok umur secara Nasional berdasarkan Survai Angkatan Tenaga Kerja Nasional (SAKERNAS) dalam kurun waktu tahun 2010 – 2014, bahwa jumlah tenaga kerja pertanian selama periode tersebut mengalami sedikit perubahan.  Jumlah tenaga kerja pertanian tahun 2010  sebanyak 23.781.233 orang, dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak     4.629.945  orang, 25 – 54 tahun sebanyak 25.380.341 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 8.688.757 orang. Pada tahun 2014 menurun menjadi 36.396.184 orang dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 3.789.122 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 23.487.918 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 9.119.144 orang.  Dalam kurun waktu 2010 – 2014 tenaga kerja pertanian mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata 1,49%.  Data jumlah tenaga kerja pertanian secara Nasional dalam  kurun waktu 2010 – 2014  dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tenaga kerja pertanian (laki-laki + perempuan) semua kelompok  umur mengalami penurunan, penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 15 – 24 tahun dengan penurunan rata-rata pertumbuhan 4,77%, diikuti kelompok umur 25-54 tahun sebesar 1,89 dan pada >55 tahun mengalami peningkatan sebesar 1,34%.

Sebaran tenaga kerja pertanian berdasarkan kelompok umur memperlihatkan bahwa sebagian besar berada pada kelompok umur 25-54 tahun (65,58%), kemudian kelompok umur > 55 tahun (22,45%) dan kelompok umur 15-24 tahun (11,96%).   Menurut Iwan Setiawan (2007), mengatakan bahwa pada masa yang akan datang dikhawatirkan akan kekurangan tenaga kerja pertanian.   Tren aging agriculture sudah mulai terlihat pada sektor pertanian yaitu tenaga kerjanya  sudah menunjukkan komposisi penduduk usia lanjut yang semakin besar.  Kondisi ini sudah banyak terjadi seperti yang dikemukakan oleh Collier (1996) dalam Iwan Setiawan (2007)  berdasarkan penelitian di pedesaan Jawa yaitu” Suatu perubahan utama dalam pertanian Jawa berupa kekurangan buruh tani yang lebih besar, bahkan di daerah berpenduduk sangat padat.  Kekurangan ini terjadi karena tarikan orang ke pekerjaan lebih menarik di daerah urban dan perasaan orang-orang muda yang berpendidikan menengah yang tidak tertarik bekerja sebagai petani”. Kondisi tersebut sudah terasa pada masa sekarang, dimana untuk mendapatkan tenaga kerja (buruh) di sektor pertanian sudah sulit mendapatkannya.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin Jumlah tenaga kerja pertanian laki-laki tahun 2010  sebanyak 23.781.233 orang, dengan rincian kelompok umur 15 – 24 tahun sebanyak   3.216.045  orang, 25 – 54 tahun sebanyak  14.985.908 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 5.579.280  orang.  Pada tahun 2014 menurun menjadi 22.519.115 orang dengan rincian kelompok umur 15 – 24 tahun sebanyak     2.664.750 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 13.926.866 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak     5.927.499  orang.   Dalam kurun waktu 2010-2014 tenaga kerja pertanian (laki-laki) mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata 1,33%.

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tenaga kerja pertanian (laki-laki) semua kelompok  umur mengalami penurunan, penurunan terbesar terjadi pada kelompok umur 15 – 24 tahun dengan penurunan rata-rata pertumbuhan 4,50%, diikuti kelompok umur 25-54 tahun sebesar 1,79% dan kelompok >55 tahun mengalami peningkatan rata  0,55% per tahun.  Apabila dilihat dari persentase jumlah tenaga kerja umur 15-24 tahun dan umur > 55 tahun  semakin berkurang, sedangkan persentase jumlah kelompok umur 25-55 tahun semakin  meningkat, tetapi jika dilihat dari jumlahnya kelompok umur ini mengalami penurunan.

Sedangkan jumlah tenaga kerja pertanian (perempuan) tahun 2010  sebanyak 14.917.810 orang, dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 1.413.900 orang, 25 – 54 tahun sebanyak 10.394.433 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 3.109.477 orang. Pada tahun 2014 menurun menjadi 13.877.069 orang dengan rincian kelompok umur 15-24 tahun sebanyak     1.124.372 orang, 25 – 54 tahun sebanyak    9.561.052 orang dan kelompok umur  >55 tahun sebanyak 3.191.645 orang.  Dalam kurun waktu 2010-2014 tenaga kerja pertanian mengalami penurunan rata-rata 1,69%. Data jumlah tenaga kerja pertanian jenis kelamin perempuan dalam  kurun waktu 2010 – 2014 dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tenaga kerja pertanian (perempuan) kelompok  umur 15 – 24 tahun dan kelompok umur 25-24 tahun mengalami rata-rata penurunan pertumbuhan 5,35% dan 1,96% per tahun, sedangkan pada kelompok umur >55 tahun mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,88% per tahun

Apabila dilihat dari persentase jumlah tenaga kerja umur 15-24 tahun dan kelompok umur 25-55 tahun semakin berkurang,  sedangkan kelompok umur > 55 tahun baik  mengalami peningkatan yang relatif kecil.

6.  Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan

Data ketenagakerjaan pertanian/petani berdasarkan jenis kelamin secara Nasional berdasarkan hasil Survai Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2010 – 2014 menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah dari tahun ke tahun. Jumlah tenaga kerja pertanian tahun 2010 sebanyak 38.699.043 orang, dengan rincian tingkat Pendidikan Tidak/Belum Pernah Sekolah 3.720.759 orang (9.6%), Tidak/Belum Tamat SD 10.280.728 orang (26.6%),  pendidikan SD 14.884.127  orang (38.5%), SLTP 6.281.776 orang (16.2%), SLTA 3.311.859 orang (8.6%), dan Perguruan Tinggi 219.794 orang (0.60 %). Tahun 2014 sebanyak 36.396.184 orang, dengan rincian tingkat Pendidikan Tidak/Belum Pernah Sekolah 3.602.295 orang (9.9%), Tidak/Belum Tamat SD 8.537.959 orang (23.5%),  pendidikan SD 14.687.343 orang (40.4%), SLTP 5.604.088 orang (15.4%), SLTA 3.675.549 orang (10.1%), dan Perguruan Tinggi 288.950 orang (0.80 %).  Jumlah tenaga kerja pertanian berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2010-2014 terlihat pada tabel berikut.

 

Secara umum, jumlah tenaga kerja pertanian menurut tingkat pendidikan tahun 2010 – 2014 mengalami penurunan pertumbuhan rata-rata sebesar -1.49 %. Penurunan terjadi pada tenaga kerja dengan tingkat pendidikan Tdk/Blm Pernah Sekolah (-0.40%), Tdk/Blm Tamat SD (-4.42%),  SD (-0.28%), dan Tamat SLTP (-2.62%). Sedangkan tingkat pendidikan Tamat  SLTA (2.72%) dan tingkat pendidikan Perguruan Tinggi (9.25%) mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja.

Hal ini menunjukkan bahwa minat untuk bekerja di sektor pertanian dengan tingkat pendidikan tinggi cenderung meningkat. Tenaga Kerja Pertanian menurut wilayah Tahun 2014.

7. Tenaga kerja Berdasarkan Provinsi

Sebagai mana dikemukanan pada bab sebelumnya, bahwa perkembangan tenaga kerja pertanian selama kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2010 – 2014, mengalami penurunan yang semula pada tahun  2010 sebanyak 38.699.043  orang dan pada tahun 2014 sebanyak 36.396.184 orang, dengan penurunan rata-rata sebanyak 1,49 % per tahun. Namun demikian apabila dilihat dari perkembangan jumlah tenaga kerja berdasarkan provinsi  sangat bervariasi perkembangannya.

Berdasarkan tabel tersebut, menunjukkan bahwa perkembangan tenaga kerja yang paling tinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta, disusul oleh provinsi Riau dan Gorontalo masing-masing 13.96%, 4,20%  dan 2,80% per tahun.  Sedangkan yang perkembanganya menurun paling besar terdapat di provinsi Bali, disusul oleh provinsi Banten dan Lampung masing-masing 5,17%, 3,60% dan 3,59% per tahun.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jokowi-JK Beban Utang dan Bunga Menggunung, Bagaimana Mengatasinya?

Bank Indonesia mencatat total utang luar negeri pemerintah Indonesia per Januari 2014 mencapai US$ 269,27 milyar (RimaNews, 13/8/2014). Jika di kurs dengan rupiah Rp 12.000/dollar Amerika Serikat, maka total utang pemerintah Indonesia pada awal tahun 2014 sebesar Rp 323.124 triliun.

Tahun ini pemerintah berencana menarik utang baru senilai Rp 215,4 triliun untuk menutupi defisit anggaran yang mencapai Rp 224,2 triliun. Jika rencana itu direalisasikan, maka jumlah utang pemerintah Indonesia yang diwariskan rezim SBY kepada Jokowi yang akan dilantik menjadi Presiden RI pada 20 Oktober 2014 mencapai sekitar Rp. 323.339,2 triliun.

images dolar Amerika

Jumlah utang tersebut merupakan akumulasi dari warisan utang pemerintah Indonesia sejak zaman Presiden Soekarno sampai zaman Presiden SBY. Rezim SBY yang berkuasa selama 10 tahun lamanya termasuk rezim yang rajin berutang, antara lain sebabnya karena defisit anggaran ditutup dengan utang baru.

Sejatinya defisit anggaran ditutup dengan hidup hemat, memberantas mafia migas dan mafia lainnya, meningkatkan penerimaan negara dari pajak, devisa non migas, migas dan mengurangi subsidi yang tidak tepat sasaran serta mencegah meluasnya korupsi.

Jumlah utang pemerintah bersifat fluktuatif, sangat ditentukan besar kecilnya kurs rupiah terhadap mata uang asing terutama dollar Amerika Serikat. Karena utang pemerintah pada umumnya dalam bentuk mata uang asing. Kalau kurs rupiah sedang melemah seperti sekarang, maka utang pemerintah Indonesia bisa melonjak secara drastis.

Beban Utang Sangat Berat

Cicilan utang pokok dan bunga dari tahun ke tahun terus bertambah besar, yang berarti menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena harus masuk sebagai pengeluaran negara.

Terus bertambahnya pengeluaran untuk membayar cicilan utang pokok dan bunga, memberi implikasi yang luas dalam berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pertama, anggaran pembangunan semakin berkurang karena tersedot untuk bayar utang dan bunga. Itu sebabnya selama 10 tahun SBY menjadi Presiden RI, pembangunan sarana dan prasarana seperti jalan, jembatan, pengairan, bendungan dan lain sebagainya sangat tidak memadai dibanding di masa Orde Baru.

Kedua, kesejahteraan umum tidak meningkat, bahkan ada yang mengatakan semakin merosot. Hal itu terjadi karena pembangunan tidak mengalami kemajuan. Kalau pembangunan tidak meningkat secara siginifikan, maka tidak mungkin meningkat kesejahteraan rakyat, karena melalui pembangunan, masyarakat mendapat menfaat ekonomi dan sosial.

Ketiga, kehidupan rakyat jelata bertambah susah. Penyebabnya antara lain, meningkatnya inflasi untuk 9 (sembilan) bahan pokok mencapai 60 persen dalam lima tahun terakhrr ini. Sementara APBN tidak mampu menjadi instrumen untuk memajukan kesejahteraan rakyat bawah, karena APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sudah tersedot untuk membayar cicilan utang pokok dan bunga, gaji aparatur negara dan pejabat negara serta biaya operasional berbagai kementerian dan lembaga negara lainnya, subsidi yang salah sasaran, biaya pemekaran daerah kabupaten dan kota, serta bantuan ke daerah, sehingga anggaran habis tanpa bisa memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan umum sesuai amanat pembukaan UUD 1945.

Sebagai informasi besar pengeluaran negara untuk membayar cicilan utang pokok dan bunga:

Tahun 2010, total cicilan utang pokok dan bunga Rp 230,33 triliun

Tahun 2011, total cicilan utang pokok dan bunga Rp 247 triliun

Tahun 2012, total cicilan utang pokok dan bunga Rp 261,13 triliun

Tahun 2013, total cicilan utang pokok dan bunga Rp 272,219 triliUn

(sumber: Detik Finance,23/1/2014)

Bagaimana Mengatasinya

Tidak mudah mengatasi beban utang dan bunga yang sudah menggunung. Betapapun beratnya masalah yang dihadapi, harus ditumbuhkan dalam diri bangsa Indonesia bahwa setiap masalah dapat diatasi.

Pertama, harus hidup sederhana, jangan hidup mewah dari utang. Ini harus dicontohkan dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, pajabat negara di eksekutif (pemerintahan), yudikatif (peradilan) dan di legislatif (parlemen).

Kedua, berhenti korupsi. Semua pejabat di pemerintahan, legislatif dan yudikatif di pusat dan daerah, harus berhenti korupsi.

Ketiga, berhenti berutang. Utang lama dan bunga harus dilakukan negosiasi ulang untuk mendapatkan pengurangan dan penghapusan. Jangan menjadi good boy dalam membayar utang, karena utang di masa lalu tidak terlepas dari kongkalingkon antara pemberi utang dan pengutang serta banyak dikorupsi.

Keempat, bekerja keras, sesuai kedudukan dan profesi masing-masing.

Kelima, menumbuhkan semangat dan optimisme bahwa harapan itu masih ada.

Terakhir, untuk keluar dari belitan dan jebatan utang yang merupakan warisan, harus bersatu dan bersama, dengan mendukung pemimpin baru yang dipilih rakyat Indonesia secara demokratis, jangan cakar-cakaran seperti yang sedang dikembangkan sekarang.

Sejatinya sesudah pemilihan presiden, kita kembali bersatu, membangun Indonesia menjadi negara yang hebat, maju dan sejahtera.

Allahu a’lam bisshawab

sumber-link (http://musniumar.wordpress.com/2014/09/)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DUA HEKTAR YANG MENDUNIA

LM3 MODEL  PURA SUBAK WONGAYA BETAN

Segelas teh manis sore itu, seolah segera menggantikan tenaga yang terkuras saat mencapai lokasi Subak Wongaya Betan di Desa Mangesta, Kecamatan Panebel, Kabupaten Tabanan, Bali ini. Tak hanya jaraknya yang 55 kilometer dari Denpasar, situasi jalannya pun berliku dan naik turun. Tak heran jika pertama kali menuju lokasi ini, energi seolah tersedot. Ketika minuman itu dihirup ternyata aromanya sangat khas. Ternyata ‘teh’ yang disajikan itu bukan sembarang teh. Tapi minuman yang terbuat dari seduhan beras merah.

“Ini hasil inovasi terbaru kami pada 2009 ini,” ujar I Nengah Suarsana dari Subak Wongaya Betan. Beras merah dari Kecamatan Panebel memang terkenal di negeri ini. Kandungan vitamin B nya yang tinggi, aromanya yang khas, rasanya pun sangat pulen. Tak heran jika ada petinggi di negeri ini menjadi pelanggan tetap beras khas Panebel ini. Sejak awal dibentuk, Subak yang satu ini memang mengunggulkan beras merah. Istimewanya cara tanamnya menggunakan konsep pertanian alami yang berkelanjutan dengan sistem subak. Subak sendiri dikenal sebagai suatu organisasi pemakai air di Bali dan terkait dengan aspek pertanian.

Subak telah dikenal sejak pertengahan abad XI Masehi dengan filosofi Tri Hita Karana (THK). Yaitu tiga sumber penyebab kesejahteraan dan kebahagiaan atau kerahayuan dalam kehidupan semua machluk Tuhan. Karena itulah Subak bukanlah sekadar ‘lukisan’ hamparan sawah yang memesona dengan sistem teraseringnya. Tapi juga memiliki nilai manajemen, musyawarah, demokrasi, partisipasi, keuletan, keadilan, dan ketebalan rasa kebersamaan.

Sewajarnya, jika sistem pertanian alami yang berkelanjutan ini sudah ada dalam subak itu. Karena seperti yang disebut Nengah konsepnya menyatu dengan Agama Hindu, yang ada hubungannya dengan alam, dengan manusia, dan dengan Tuhan. “Tiga hal itu pada hakekatnya adalah pertanian berkelanjutan,” ujarnya. Sayangnya, sistem itu kemudian dilupakan, apalagi saat penggunaan pupuk kimia mulai menyeruak. “Saat itu saya merasakan ada yang dilupakan. Terutama menyangkut perhatian pada alamnya,” ujar Nengah. Pada 2004, Nengah menyaksikan kondisi alam di sekitarnya begitu memprihatinkan garagara penggunaan pestisida.

“Tak ada lagi katak, cacing di sawah kami,” kisah Nengah. Tanda itu, menurutnya berarti tanahnya sudah kritis, tak ada lagi rantai kehidupan yang menyuburkan tanah tempatnya mencari hidup. Tak gampang, mengubah pola pikir yang sudah terlanjur dibentuk para rekan sesama petani di daerahnya. Akhirnya pada 2004 bersama I Nyoman Suarya, seorang pensiunan TNI yang kini menjadi petani, dan dua teman lainnya, Nengah kemudian mengolah sawah mereka seluas dua hektar.

Bersamaan dengan itu, pada tahun 2005, wilayah tempatnya tinggal menghadapi masalah menyangkut limbah peternakan ayam ras petelur yang mencemari lingkungan di Dusun Wongaya Betan. Di daerahnya, ternak juga merupakan komoditas pertanian yang menjadi andalan bagi masyarakat Wongaya Betan. Tak heran jika hampir setiap rumah tangga memiliki ternak, terutama sapi, ayam dan babi. Ayam ras petelur milik masyarakat menghasilkan limbah terutama feses yang sangat banyak. Yaitu sekitar 3-4 ton per hari (hanya di dusun Wongaya Betan). Jumlah yang cukup banyak dan menimbulkan berbagai masalah lingkungan.

Untuk mengatasi masalah lingkungan yang berimbas pada masalah  kesehatan, sosial dan ekonomi itu,  pada tahun 2005 mereka berusaha mencari teknologi untuk jalan keluarnya. Akhirnya bertemu dengan seorang Penyuluh Pertanian dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Wayan Alit Artha Wiguna.

Sosok yang akrab dipanggil Pak Alit inilah yang kemudian mengajarkan beberapa anggota subak Wangaya Betan mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik dan memanfaatkannya dalam sistem budidaya padi. “Ketika itu hanya empat orang petani, termasuk saya, yang bersedia melakukan-nya,” ujar Nengah. Beruntung percobaan yang mereka lakukan hasilnya sangat memuaskan.

Produksi padi meningkat cukup tajam, dari rata-rata 4 ton menjadi 5,2 ton per ha. Pada awal tahun 2006, jumlah petani yang mengikuti jejak Nengah menjadi 10 orang, hasilnya pun sangat mengembirakan, bahkan beberapa anggota subak mampu menghasilkan 6,7 ton per ha Gabah Kering Panen (GKP). Kelompok tani mulai terbentuk, termasuk jalur permintaan bantuan pada pemerintah.

Sambil terus bergerak, kelompok tani ini membangun secara swadaya sebuah ruangan kelas di atas tanah bekas kandang ayam. Ruang yang luasnya 16 x 6 meter ini menjadi prioritas karena menurut Nengah, diperlukan untuk menjadi tempat berlatih para generasi tua yang menaruh perhatian konsep bertani alami yang dicanangkan di desa tersebut. Untuk melengkapi kelasnya itu, kemudian Nengah mengajukan bantuan melalui LM3. LM3 atau Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat adalah dasar pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis dari Kementerian Pertanian yang sudah dilaksanakan beberapa tahun lalu untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran di pedesaan.

Pada akhir tahun 2006, tepatnya bulan Nopember  2006 LM3 Subak Wongaya Betan mendapatkan bantuan dana dari Badan SDM Pertanian melalui Balai Diklat Pertanian NTT, untuk pengadaan 90 ekor sapi, sehingga seluruh anggota LM3 memiliki sapi dalam rangka pengembangan pertanian organik. Selain itu juga diberikan bantuan dana dari sumber yang sama dalam rangka pengadaan fasilitas belajar, berupa komputer, meja, kursi, LCD, perpustakaan dan lainnya. Arah menuju produk pertanian organik, pun segera disiapkan. Antara lain dengan mengembangkan Internal Control System (ICS) melalui kerjasama dengan Bali Organic Association (BOA). Hal yang dipantau adalah tanah sawah, air irigasi, pupuk organik yang dibuat petani baik yang padat maupun yang cair (biourine) serta beras yang dihasilkan. Pada awal kajian yang dilakukan BPTP kandungan bahan organik tanah sawah rata-rata kurang dari satu persen.

Tapi, kini setelah hampir tiga tahun atau enam musim tanam menggunakan pupuk organik, ternyata bahan organik tanah sawah meningkat menjadi lebih dari 2-3 persen. Selain itu hasil analisis pada September 2008, yang dilakukan BPTP di Laboratorium Scofindo, mendapatkan bahwa semua jenis padi lokal yang dihasilkan di kasawan LM3 Subak Wongaya Betan telah bebas dari residu pestisida organochlorine. Kondisi tersebut mampu memberikan nilai tambah dalam pengembangan agribisnis padi organik bagi LM3 Subak Wongaya Betan Waktu pun berjalan, perilaku yang dicontohkan para pendiri subak ini kemudian dalam waktu relatif cepat mulai menular dari dusun ke desa, antar kabupaten, provinsi, bahkan ke luar sendiri. Tercatat, ada LM3 di Banten, Goa, Biak bahkan Timor Leste. Pelatihan di kelas itu berlangsung, paling tidak 6 kali setiap bulannya. Ini belum termasuk kunjungan dan petani yang langsung datang sendiri-sendiri untuk melakukan konsultasi.

Semua yang datang belajar dan berkunjung mengaku puas. Ini terlihat dari respon bahwa banyak yang datang mengundang anggota LM3 subak ini sebagai pembicara atau nara sumber di daerah mantan para peserta yang pernah dilatih di Subak Wongaya Betan ini. Belum lagi, dibanggakan oleh mantan peserta di sebuah forum resmi. Seperti yang terjadi pada 2008 saat menjadi narasumber di sebuah seminar yang digelar di Gedung Bappeda Provinsi Bali.

Seorang peserta berkomentar jika ingin pertanian Bali maju seharusnya datang ke Subak Wongaya Betan. “Bangga hati saya mendengar komentar itu,” katan Nengah yang saat itu menjadi narasumber . Respon lain dari mantan peserta ada di daerah Banten, ternyata juga membangun

kelas, meski di atas kolam ikan. Ukuran dan bentuknya sama persis engan ruang kelas di Wongaya Betan. Kini, konon pertanian/perikanannya di Banten itu sudah maju.

Di Timor Leste, pesertanya pun yang sudah belajar sampai Korea mengakui puas dengan cara pelatihan yang digelar di Wangaya Betan. Proses teknologinya dengan mudah diaplikasikan di daerah yang pernah bergabung dengan negeri ini Kepuasan itu pun dibuktikan dengan para peserta yang berkali-kali datang untuk mempelajari lagi teknologi lain yang diaplikasikan di sini, bahkan beberapa bupati dari Timor Leste pun ikut datang ke berkunjung ke Tabanan ini. Yang menarik, subak ini juga sering menjadi proyek percontohan para peneliti dari luar negeri, seperti Australia, New Zealand, Filipina, Korea, juga Amerika. Bahkan, kini bekerjasama dengan Universitas Amazona untuk teknologi pertanian alami ini.

Tentu selain karena bantuan yang ada, subak ini pun beruntung memiliki petani unggul yang tahan banting dan piawai dalam menerapkan teknologi baru dan menjaga konsistensi konsep pertanian berkelanjutan ini. Jadi selain sudah berpengalaman, Nengah dan Nyoman, misalnya, selalu melakukan penyegaran soal teknologi baru dengan cara tak bosan mengikuti pelatihan dari BPTP (Badan Pengkajian Teknologi Pertanian) Bali, juga Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, bahkan dengan Lembaga Swadaya masyarakat atau LSM yang memiliki minat serupa, juga dengan sesama LM3 Model yang ada di daerah lain.

Dari sisi fisik, konsep yang diterapkan secara konsisten itu pun hasilnya telah terlihat nyata. Hasil panen misalnya, kini telah berhasil mencapai angka 10-12 ton per hektar, (sebelumnya kurang dari empat ton per hektar). Sementara itu lahan yang dikelola langsung pun meluas dari hanya dua hektarsawah kini ada 45 hektar.  Istimewanya, kini hampir seluruh Bali sudah mengaplikasikannya. bahkan di seluruh Indonesia. Yaitu Bogor, Aceh, Sulawesi, Kalimantan, juga Papua, bahkan negara tetangga Timor Leste).

Meski konsep pelatihan ini ada ‘ruh’ Balinya tapi ternyata cocok digunakan di mana-mana, walaupun aplikasinya kemudian ke perikanan, palawija, juga tanaman sagu.  Perkembangan fantastis ini, tak lepas dari peran pelatihan yang dilakukan LM3 itu. Awalnya yaitu dengan digelar Sekolah Lapang atau SL. Teknologi yang diajarkan adalah soal pembagian air di lahan pertanian yang dibagikan secara adil. Ini mulai soal bagaimana mengatur air, cara membaginya. Topik inilah yang paling banyak diberikan pada peserta pelatihan, dan lalu berlanjut pada pembuatan kompos, pupuk yang berasal dari kotoran hewan ternak.

Inovasi pun terus bergulir di sini. Antara lain pembuatan teh dari beras merah. Poses produksinya tak sulit, hanya dengan menyangrai — atau menggoreng tanpa minyakberas merahnya lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik. Ongkos produksinya tak begitu mahal, tapi harga jual beras merah yang satu ini kemudian berlipat dua. Sementara itu, harga beras merah kini beranjak naik dari Rp 6000 per kilogram, menjadi 10 ribu -Rp 12 ribu per kilogramnya. Sementara teh beras merah untuk teh menjadi  25 ribu per kilogram.

Inovasi lain juga digulirkan Kelompok Wanita Tani (KWT)nya. Yaitu kopi beras merah. Meski pembuatannya adalah perpaduan kopi dan beras merah 50-50persen, ternyata kelezatan kopi beras merah itu sama dengan nikmatnya kopi tulen

Bidang peternakan, pun menjadi perhatian istimewa. “Ini karena pertanian berkelanjutan yang alami selalu. Kondisi tersebut memberikan keyakinan pada anggota subak Wongaya Betan, bahwa pupuk organik mampu memberikan hasil lebih baik. Selain hasilnya meningkat, penggunaan pupuk kimia juga semakin berkurang, bahkan beberapa anggota subak sama sekali tidak memakai pupuk anorganik dalam budidaya padi.

Tapi perjalanan memang tak semulus yang dibayangkan. Konsep bertani yang menantang arus itu sempat membuat mereka di’musuhi’ rekan-rekan petani yang sudah terlanjur yakin dengan keampuhan pestisida. Bahkan juga oleh para pejabat setempat yang takut gara-gara konsep bertani kembali ke alam itu membuat produktivitas pertanian menurun. Para pejabat tak ada yang mau datang ke tempat kami, kata Nengah dan Nyoman berkisah. Belum lagi, bahan baku untuk pembuatan pupuk mulai kritis. “Karena ‘pabrik’ pupuk alias sapinya terbatas jumlahnya,” tambahnya.

Nengah tak putus asa. Adalah Forum Koordinasi Nasional (Fornas) 2006 di Malang, Jawa Timur yang ikut mengenjot Subak di Desa Panebelan ini. Dari pertemuan itu, Nengah tahu bahwa padi produksinya sangat berharga. Dari sana pulalah, kemudian jaringanterkait pada peternakan yang nota bene adalah penghasil pupuk alam,” ujar Nyoman. Selain poduksi kompos yang terus meningkat, urusan pakan pun terus dilakukan pembaharuan meski tetap berbasis pada alam sekitar. Kini sedang digulirkan proses fermentasi basah. Dengan pakan ternak basah itu, ternak bisa menyerap makanan secara lebih cepat, sehingga cepat kenyang, dan penghematan jumlah pakan ternak bisa 25persen lebih hemat.

Sebelumnya, Subak ini pun telah melakukan terobosan besar dalam pembuatan konsentrat. Bahannya bukan menunggu impor dari luar negeri, tapi memanfaatkan limbah yang ada di sekitar. Seperti kulit kopi, tongkol  jagung, serbuk kelapa, kulit kacang, bungkil kelapa, Efeknya pun tak kalah populer, yaitu berat potongnya meningkat 0,7persen.

Dengan adanya konsentrat ini akan memudahkan petani dari sisi pembuatannya. Sehingga kini setiap petani bisa memelihara 10 ekor, sebelumnya kurang dari empat ekor. Selain ternak potong, kini mereka juga sedang mengembangkan pembibitan sapi. Untuk teknologi ini, Nengah dan Nyoman berlatih di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Provinsi Bali.Dengan proses pemeliharaan yang serius, dari breeding sampai pola makan ternaknya, maka tak heran jika ternak sapi di Tabanan ini menyabet gelar juara nasional (kriterianya pakan ternak kering, basah, juga pembuatan konsentratnya) pada 2007. Sekarang karena terganjal proses administrasi cukup termasuk pada 10 besar saja. Tak heran jika subak ini pun terpilih menjadi LM3 model di Tabanan. Seperti kita tahu bahwa LM3 Model adalah LM3 unggulan yang memiliki potensi untuk menjadi Pusat Informasi dan Pembelajaran dalam pengembangan agribisnis (Centre of excelence) bagi LM3 lainnya dan masyarakat sekitar dan didirikan, dimiliki, dan dikelola oleh pengelola LM3 secara swadaya.

LM3 MODEL yang terbentuk dari, oleh dan untuk masyarakat lebih menekankan pada kemandirian dan pemberdayaan serta keswadayaan potensi masyarakat. Proses penumbuhan LM3 MODEL merupakan serangkaian kegiatan untuk memotivasi dan  mendorong terbentuknya LM3 MODEL melalui berbagai kegiatan bimbingan dan pelatihan.

Efek positif dari keberhasilan ini. ama daerahnya kini telah terkenal di mana-mana. Bahkan salah seorang peserta yang pernah dilatihnya memasukan Subak Wongaya Betan ini di internet. Tak heran jika subak di Desa  Panebelan ini sering dijadikan tempat untuk studi banding dari luar negeri. Bahkan jurnalis dari Swiss pernah meliput kegiatan LM3 ini. “Paling tidak, desa ini juga akhirnya punya peran untuk dunia pariwisata di negeri ini,” ujar Nengah sedikit bangga. Hamparan sawah yang subur dan indah dengan teraseringnya, memang terlalu sayang dilewatkan bagi para turis yang datang ke Bali. Semua keberhasilan boleh jadi sudah ada dalam genggaman. Paling tidak efeknya bagi anak-anak yang ada di dusun tersebut kini tak ada lagi yang putus sekolah. Rumah tinggal penduduk sekitar pun pelanpelan sudah berubah lebih permanen.

Acara keagamaan seperti ngaben yang dulu jarang diadakan, kini hampir setiap warga mampu melakukannya jika ada kerabatnya yang meninggal dunia. Padahal biayanya tak murah, minimal Rp25 juta. Selain krisis  moneter yang membuat hasil perkebunan dinilai lebih mahal dan membuat kehidupan masyarakat lebih sejahtera. tapi LM3 membuat kesejahteraan itu meningkat lebih cepat, terutama kearifaan para penduduk desa ini pada alam lingkungannya. “LM3 membuat semuanya berubah lebih cepat,” ujar Nengah.

Satu hal yang masih menjadi ganjalan adalah pemasaran, pasca produksi dan modal. Contohnya pemasaran teh beras merah ini, sejauh ini, baru bisa dilakukan di daerah Bali saja. Tapi, bukan berarti mereka berdiam diri, Kini mereka mencoba bekerjasama dengan rekan sesama LM3, pemerintah juga dengan swasta seperti BOA (Bali Organic Association) dan salah sat perusahaan Jerman yang memang memiliki minat untuk memajukan pertanian organik. “November ini, hasil pertanian kami full organik. tak lagi menggunakan pupuk berimbang,” ujar Nengah

Impian lain adalah menciptakan produk pasca produksi lainnya. “Saya kagum pada teman-teman di Jawa yang telah mengolah pasca produksinya dengan baik. Seperti kripik apel dan lain sebaganya,” katanya. Kelak mungkin selain teh dan kopi beras merah, bakal ada juga kripik cokelat, tanaman palawija yang mula dikembangkan.Kini, yang pasti

subak ini sedang berusaha menggoalkan cita-citanya untuk mendapatkan hak paten pada produksi beras merah organiknya. “Mudah-mudahan November ini keluar sertifikasinya, ujar Nyoman dan Nengah. Semoga saja segera harapan itusegera terlaksana, sehingga kekayaan warisan leluhur ini tak diambil alih negara lain. Nah sertifikasi ini pun selain memberikan berkah tapi ada konsekuensi lain, yaitu harus mampu  menyediakan dana untuk membeli setiap hasil panennya. Usaha mencari bantuan sudah digulirkan. Ini diakui Nengah sebagai kendala klasik yang selalu menghambat usaha seperti agribisnis ini. Tapi tak ada kata putus asa, Nengah dan teman-temannya punya strategi lain yaitu menggulirkan

sistem kontrak pada penjual dan pembelinya. “Mungkin itu jalan yang bisa dilakukan tanpa menggantungkan pada orang atau pihak lain. Tak hanya satu kan jalan menuju Roma, hahaha.,” ujarnya.

Paling tidak, kini yang sedang dijalankan adalah pengembangan penelitian yang dilakukan dengan BPTP Bali terutama dalam pemanfaatan berbagai limbah pertanian menjadi produk yang memiliki nilai tambah yang tinggi, seperti pakan ternak dan pupuk organik. Lalu pengembangan teknologi pembibitan sapi melakukan kerjasama dengan Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Bali, yang kini menjadikan Wangaya Betan sebagai Village Breeding Centre.

Berikutnya adalah pemasaran pupuk organik dilakukan kerjasama dengan Perwakilan PT. Lembah Hijau Multi Farm, Solo yang ada di Bali.  Selanjutnya menuju ke  sertifikasi produk organik tadi yang dilakukan kerjasama dengan Bali Organic Association (BOA) dan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan. Juga melakukan pengembangan pemasaran beras organik dengan PT. Management Subak Bali. Tak dilupakan adalah pengembangan energi Bio-gas bersama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Tabanan.

Cara lain dan inovasi memang terus digulirkan. Keuntungan yang diperoleh pun tak digunakan untuk hal yang tak penting. Terakhir, subak ini telah berhasil memperbaharui mesin penggilingannya. Kalau dulu hanya mampu 2 ton per hari, kini mereka siap menggiling padi sebanyak 10 ton per hari. Kalau sudah begitu, Subak Wongaya Betan dari Dusun Panebelan ini, memang pantas menjadi LM3 MODEL.

Tak hanya  penularan teknologinya yang sudah mendunia (karena tak digenggamnya sendiri), proses kreatif dan inovasinya pun pantas dicontoh.Tak heran jika kemajuan yang meniupkan angin segar di negeri ini, menjadikan teh beras merah sore itu, membuat tenggorokan siapapun yang meminumnya menjadi hangat dan lega.

(sumber directory LM3, 2009)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cetak Generasi Religius Kuasai Teknologi

Pondok Pesantren Sunan Drajat mempunyai unit usaha–unit usaha yang dikelola secara profesional  dan produk yang dihasilkan didistribusikan untuk masyarakat luas.

Usianya sudah 63 tahun, namun Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Drajat (PPSD) Lamongan, Dr  KH Abdul Ghofur, masih tampak gesit. “Mari saya antar keliling pondok,” ujarnya mengajak penulis. Kiai Ghofur sendiri yang mengemudikan mobilnya. Sementara saya duduk di sampingnya, dan di  jok belakang ada sekretaris pondok dan seorang ustadz. Sembari mengemudi, Kiai menjelaskan  obyek-obyek yang tampak di depan kami.

“Pondok ini dibangun dengan kemandirian. Nggak perlu minta bantuan kepada wali santri,” ujar  Kiai Ghofur mengawali ‘ekspedisi’ menyusuri pesantren seluas 60 hektar dengan santri lebih dari  9.000 orang. Saat merintis pesantren peninggalan Sunan Drajat –salah satu dari Walisongo—pada  tahun 1985, lahan milik pesantren cuma seperempat hektar dan santri hanya lima orang.

Sasaran pertama yang dituju adalah pabrik air minum dalam kemasan bermerek “Aidrat” (Air Asli Sunan Drajat). Ia menjelaskan, seluruh kebutuhan air minum pesantren, termasuk untuk para  tamu, disuplai dari sini. Kebutuhan untuk  masyarakat sekitar pondok juga dicukupi dari pabrik ini.  Aidrat bahkan merambah pasar di Lamongan dan Kabupaten Tuban. “Dari Aidrat inilah kami bisa  membayar gaji untuk guru,” papar Kiai Ghofur. Selain memproduksi air minum dalam  kemasan gelas dan botol, Aidrat juga memproduksi dalam kemasan galon. Sortiran kemasan gelas dan botol dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri, termasuk untuk menjamu para tamu.

Kendaraan pick-up dan truk milik pondok hilir  mudik mengangkut Aidrat untuk didistribusikan  ke luar pondok. “Di sini Aqua saya ‘haramkan’ karena itu yang punya orang asing,” tandas Kiai Ghofur.

Selain pabrik air minum dalam kemasan, Pondok Pesantren Sunan Drajat juga  memiliki beberapa unit usaha. Antara lain pabrik pupuk, jus mengkudu (pace), garam beryodium, madu asma, usaha penggemukan sapi dan kambing, dan koperasi pondok pesantren yang menyediakan aneka bahan kebutuhan sehari-hari untuk santri dan masyarakat sekitar.

Kiai Ghofur kemudian membawa kami ke “Kisda” (Kawasan Industri Sunan Drajat). Letaknya tak jauh dari kompleks pemakaman Sunan Drajat yang selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah bahkan dari mancanegara. Ini adalah kawasan seluas sekitar 50 hektar yang menyimpan bahan baku untuk pupuk (phospat dan nitrogen). Penambangan bahan baku ini dilakukan oleh para santri. “Itu dulunya preman kemudian kita bina dan bekerja di sini,” ujar Kiai sembari menunjuk ke arah laki-laki yang berdiri di atas truk besar pengangkut galian tambang.  PPSD bekerjasama dengan PT Sang Hyang Seri untuk memproduksi pupuk phospat dan nitrogen.

Selain itu, PPSD juga memiliki stasiun radio, stasiun televisi, majalah dan percetakan.  Media ini sangat efektif membantu pesantren menjalankan program-program dakwahnya. Tak hanya itu, PPSD juga memiliki pabrik  bakso Nurjat (Nur Sunan Drajat) dan restoran Jasudra (Jasa Sunan Drajat) di Malaysia. Ketika ditanya mengapa membuka bisnis rumah makan di negeri jiran, Ghofur menjawab, “Di Malaysia itu banyak orang Lamongan dan Tuban.”

LM3

 Di bidang peternakan, PPSD memiliki unit usaha penggemukan kambing dan sapi. Saat ini ada sekitar 100 ekor sapi dan sekitar 500 ekor kambing. Kotoran ternak itu, dicampur dengan kangkung dan rumput gajah yang telah dikeringkan, digunakan untuk pupuk. “Kami membutuhkan 20-40 ton kangkung per bulan,” terang Kiai Ghofur yang mengharamkan rokok untuk para santrinya. Tak hanya rokok yang diharamkan, para santri juga tidak boleh memiliki handphone. Kecuali para mahasiswa.

Lokasi peternakan itu sekitar 70 km dari pondok, tepatnya di daerah Trawas. Unit usaha peternakan itu berada di areal seluas 20 hektar. Peternakan ini bekerjasama dengan PT Agrindo yang direkturnya lulusan PPSD. Setiap tahun PPSD menghasilkan lulusan sebanyak 2000 orang. “Sudah banyak alumni PPSD yang menjadi pejabat,” aku Kiai Ghofur.  Sedangkan di bidang pertanian, PPSD mengembangkan budidaya kemiri sunan yang bisa hidup  ratusan tahun. Kemiri ini dimanfaatkan untuk energi alternatif pengganti bahan bakar minyak  (BBM). “Kami memiliki jutaan bibit kemiri sunan,” ujar Kiai Ghofur.

Menurutnya, kandungan minyak kemiri sunan lebih banyak ketimbang buah jarak dan kelapa sawit. Karena itu kemiri sunan sangat layak dikembangkan sebagai tanaman penghasil energi.  PPSD juga menanam mengkudu dan buahnya dimanfaatkan untuk obat herbal (Javanoni). Ada  100 hektar lahan untuk mengkudu ini.  Bagi Kiai Ghofur menanam sama dengan ibadah. “Menanam itu merupakan amal jariah yang pahalanya terus mengalir,” paparnya.

Sembari mengutip sebuah hadis ia mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk umat. “Saya ingin menjadi orang seperti itu,” ujarnya.  PPSD, lanjutnya, ingin membantu pemerintah mengembangkan pertanian dan siap menjadi percontohan. Karena alasan itu pula PPSD memiliki sekolah pertanian. Menurut Kiai Ghofur, PPSD mengembangkan pertanian karena 70 persen wali santri hidup dari pertanian.

Pada tahun 2006 PPSD mendapat bantuan dari program LM3 (Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat) Kementerian Pertanian sebesar Rp 230 juta. Bantuan ini dibelikan 34 ekor sapi, dan sekarang sudah berkembang menjadi 55 ekor.

Tahun 2011 PPSD kembali menerima bantuan dari Kementerian Pertanian sebesar Rp 100 juta. Kali ini bantuan untuk program LM3 Model. Dengan bantuan ini PPSD menggelar sejumlah pelatihan pertanian. Peserta pelatihan dari dalam pondok pesantren sendiri.

Kiai Ghofur mengatakan, sudah selayaknya pemerintah banyak membantu pondok pesantren. Sebab, bantuan kepada pesantren akan tepat sasaran dan bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat. Apalagi jika bantuan itu dalam bentuk uang (fresh money). Karena itulah pihaknya  sangat senang jika menerima bantuan dalam bentuk uang, bukan barang, agar sesuai dengan kebutuhan. “Pondok pesantren itu kurang uang, jadi sangat pas kalau bantuan dalam bentuk uang,”  papar ayah tujuh anak itu.

Ia pernah menerima bantuan berupa mesin pembuat roti. Tapi, ternyata mesin tersebut tidak bisa dipakai. Di lain waktu ia juga pernah menerima bantuan berupa peralatan yang harganya telah di-mark-up. Tentu saja ia tidak mau menerima bantuan seperti itu. “Peralatan itu biar kami beli sendiri saja, nanti kalau uang dari bantuan itu kurang, akan saya tambah dari kantong sendiri,” tandasnya.

 Sejarah Pesantren

 Berawal dari obsesi besar untuk membangun kembali pondok pesantren peninggalan Sunan  Drajat, dan dengan orientasi menciptakan pesantren berkualitas yang mempunyai kemampuan  multidimensi, pada tahun 1985 Ghofur mulai merintis didirikannya tempat untuk mengkaji dan  mendalami ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Ia mendekati masyarakat dengan media seni  dan budaya. Salah satunya dengan cara mengajarkan seni bela diri (pencak silat) dan permainan

musik tradisional. Lambat laun orang-orang yang belajar semakin banyak dan  atang dari berbagai daerah.

Seiring dengan bertambahnya santri, dibangunlah asrama-asrama permanen yang dapat menampung ribuan santri. Dua bangunan besar berlantai dua untuk santri putra berdiri kokoh di antara taman-taman yang asri. Asrama-asrama itu diberi nama Al-Hambali, Al-Hanafi, Al-Maliki,  As-Syafi’i, Al-Ghozali, dan Walisongo.  Sedangkan untuk santri putri ada asrama Al-Fatimah, Az- Zahro, Al-Lathifiyah, Al-Khumairo’, dan Az-Zakiyah.

Selain itu juga ada aula besar yang dapat menampung ribuan santri. Di tengah komplek pondok pesantren berdiri megah Masjid Agung Sunan Drajat sebagai pusat peribadatan santri.  PPSD kemudian dilengkapi dengan lembaga-lembaga pendidikan formal seperti TK Al-Mu’awanah, MI Al-Mu’awanah, MTs Al-Muawanah, Madrasah Mu’alimin-Mu’alimat, Madrasah Aliyah Ma’arif 07 (ada tiga jurusan: IPA, IPS dan Bahasa, termasuk bahasa Jepang), SMP Negeri Sunan Drajat, SMK dengan 14 jurusan seperti multimedia, otomotif, teknik komputer dan jaringan, dan pelayaran,  Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM), dan STAIRA (Sekolah Tinggi Agama Islam Raden Qosim) dengan jurusan Ekonomi Syariah, Bahasa Arab, dan Tarbiyah.

Setiap santri hanya dipungut biaya Rp 200 ribu per bulan. Ini sudah termasuk biaya untuk pendidikan, uang asrama, dan makan dua kali sehari. Namun, santri yang tidak mampu secara ekonomi, dibebaskan dari biaya apapun. Saat ini terdapat sekitar 700 santri yang dibebaskan dari kewajiban membayar alias gratis.

Tidak hanya mereka yang tidak mampu yang gratis, santri-santri dari daerah tertentu seperti Papua dan Kalimantan juga gratis. “Orang-orang Papua dan Dayak juga gratis kalau mau nyantri di sini,” ujar Ghofur.

Para santri menjalani aktivitas penuh selama 24 jam sehari di pondok. Aktivitas harian santri PPSD seperti disajikan dalam Tabel berikut: Selain aktivitas harian, santri juga memiliki aktivitas mingguan, bulanan, dan tahunan. Aktivitas mingguan meliputi: istighatsah, pengajian umum, khitobiyah, dhibaiyah, qori’ah Qur’an, musyawarah kitab, pencak silat, sepak bola, kaligrafi, meeting bahasa asing, Jumat bersih, dan seni shalawat. Sedangkan aktivitas bulanan meliputi jamaah manaqib, musyawarah kubro (khusus untuk para guru), dan kegiatan Orda. Aktivitas tahunan meliputi haul akbar, peringatan hari besar Islam/nasional, milad pesantren, penerimaan santri baru, dan orientasi.

PPSD dirancang sebagai sarana pendidikan yang mempunyai cita–cita luhur. Selain mendidik para santri di kelas dengan berbagai ilmu pengetahuan agama dan umum, PPSD juga membekalinya dengan berbagai keterampilan sekaligus mengembangkan unit-unit usaha milik pondok. Sebagai kiai yang berpandangan luas, Ghofur menginginkan agar para santri nantinya mendapatkan bekal agama yang kuat serta dapat mengikuti kemajuan teknologi. Ia ingin mencetak generasi religius yang menguasai teknologi modern.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEUTAMAAN BERJEMAAH DAN PERTANIAN ORGANIK

LM 3 MODEL PONDOK PESANTREN PABELAN

Sulit mencari kotoran sapi,” ujar Triyandono, wakil ketua Kelompok Tani  “Rukun Tani” Desa Baturono, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Padahal, paparnya, kotoran sapi sangat diperlukan untuk pupuk dalam sistem pertanian organik. Triyandono dan sekitar 30 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani “Rukun Tani” dengan luas hamparan sekitar 17 hektar, sudah sejak setahun lalu menerapkan pertanian organik dengan metode SRI (System of Rice Intensification). Ini setelah ia dan kawan-kawannya bergabung dengan LM3 Pondok Pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang.

Begitu vitalnya kotoran sapi bagi mereka. Karena itu tidak berlebihan jika mereka berharap pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian (Deptan), memberi bantuan sapi kepada mereka. “Kami ingin memperoleh bantuan sapi,” kata Ketua Kelompok Tani “Rukun Tani”, Sukisno, polos.

Triyandono menyebutkan, sebelum menerapkan SRI rata-rata lahannya menghasilkan 5 kw padi per 1.000 m2 (1 kiso). Dengan SRI  produktivitasnya meningkat menjdi 6 kw. “Satu kiso saya biasanya memperoleh Rp 1,25 juta, sekarang bisa Rp 1,6 juta,” paparnya.

Hal senada dikatakan Muslichun. Menurut Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Hijau Kuning Desa Kalijoso, Kecamatan Secang, itu para petani yang dipimpinnya sudah menerapkan metode SRI dan pertanian organik sejak tiga tahun silam. Sejak itu hasil padi petani meningkat. Jika sebelumnya produksi petani cuma 4 kw per kiso, sekarang menjadi 5-6 kw. “Pengetahuan dan pengalaman kami juga bertambah,” ujar Muslichun yang memimpin lima kelompok tani –satu kelompok 10-15 petani.

Ia menyebutkan, dari 150 hektar hamparan sawah petani, baru 25 hektar yang bergabung dengan LM3 Pabelan. Awalnya hanya 15 petani yang bergabung, sekarang sudah ada 70 petani. “Makin lama makin banyak yang bergabung karena pertanian menjadi lebih gampang dan lebih menguntungkan,” papar Muslichun.

Tidak hanya penghasilan yang meningkat. Dengan SRI pemakaian benih padipun bisa dihemat. Selain itu, karena pertanian organik, petani tidak lagi membutuhkan pupuk-pupuk kimia seperti urea, TSP, dan lain-lain. Juga tidak membutuhkan obat-obat kimia seperti pestisida, hermisida, insektisida, dan lainnya. Dengan kata lain ongkos produksi bisa ditekan. “Kebutuhan urea yang biasanya 50 kg, kini jadi 10 kg,” terang Triyandono yang mengaku belum bisa sepenuhnya menerapkan sistem organik. Tapi ia yakin lambat laun dirinya akan beralih sepenuhnya ke pertanian organik.  Muslichun menambahkan, kebutuhan benih padi yang semula 35 kg per hektar, kini cuma 10 kg per hektar.

Menurut Sukisno, LM3 Pabelan telah mengajari petani cara membuat pupuk cair, kompos, dan obatanobatan organik. “Kami banyak memanfaatkan buah mojo yang rasanya pahit untuk campuran membuat obat,” ujarnya penuh semangat. Gadung dan mahkota dewa juga kerap dijadikan campuran untuk obat-obatan organik.

Sukisno merasa beruntung telah bergabung dengan LM3 Pabelan. Melalui pertemuan rutin yang diadakan tiap bulan di hari Rabu yang mereka namakan selapanan itu,para petani banyak memperoleh tambahan ilmu dan pengetahuan. “Wawasan kami makin terbuka. Tidak hanya soal cara bertani organik, kami juga memperoleh pengetahuan tentang pascapanen, cara beternak, memelihara ikan,” aku Sukisno.

Menurutnya, ia dan kawan-kawan beralih ke pertanian organik dan sekaligus menerapkan metode SRI karena melihat keberhasilan LM3 Pabelan mengembangkan teknologi ini. “Saat pertama kali menerapkan cara ini memang sulit, tapi setelah terbiasa petani kok malah ketagihan,” tuturnya sembari tertawa.

Hal ini tak lepas dari tradisi petani yang secara turun temurun telah menerapkan pertanian sistem konvensional. Misalnya: menanam padi dengan jarak rapat (20×20 cm2), sawah harus selalu tergenang air, dan satu lubang bisa diisi 5 bibit. Karena itu mereka tidak gampang menerima begitu saja ketika teknologi SRI diperkenalkan oleh Nunun Nuki Aminten, manajer LM3 Pabelan.

“Tidak gampang mengubah perilaku dan kebiasaan petani,” ujar Nunun Nuki Aminten yang akrab disapa Nuki.  Menurut Nuki, cara cepat dan jitu mengubah perilaku petani adalah dengan contoh. Jika ada petani yang berhasil dengan teknologi baru, maka serta merta petani akan menirunya.

Metode SRI

LM3 Pondok Pesantren Pabelan, Desa Pabelan,  Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, dengan motor penggeraknya Nuki, adalah pelopor sistem penanaman padi dengan metode SRI. Awalnya hanya 11 kelompok tani yang mengikuti jejak Nuki. Sekarang sudah ada sekitar 30 kelompok tani yang menerapkan metode SRI.  Semuanya petani yang berdomisili di Kabupaten  Magelang. “Mereka bergabung dengan LM3 setelah  melihat keberhasilan petani lain,” ujar istri salah satu Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan, KH Ahmad  Musthofa.

Tidak hanya petani atau kelompok tani yang  mengikuti jejak Nuki menerapkan metode SRI. Para PPL  (Penyuluh Pertanian Lapangan) dan PPS (Penyuluh  Pertanian Swadaya) juga mengikuti jejak putri sastrawan Ajip Rosyidi ini.

Sebelum mengajak orang lain (petani lain), Nuki  sendiri telah menanam padi dengan metode SRI. Dengan  metode ini bibit padi sudah ditanam saat berumur muda  (6-8 hari) -–petani biasanya menanam setelah bibit tua  (lebih dari 12 hari, bahkan ada yang menanamnya setelah  bibit berumur 30-35 hari)—, tanam dangkal, jarak tanam  lebar (25×25 cm2 atau 30×30 cm2) –petani biasanya  menanam dengan jarak 20×20 cm2, dan air tidak  menggenang (macak-macak) – petani biasanya menggenangi sawahnya. Eksperimen Nuki ini sukses.  Kesuksesan inilah yang membuatnya gampang mengajak  petani lain menerapkan teknologi/metode serupa.

Dari 369 desa/21 kecamatan yang ada di  Kabupaten Magelang, sebanyak 20 desa/6 kecamatan telah  menerapkan metode SRI plus pertanian organik. “Saya  ingin 50% desa di Magelang sudah mengadopsi pertanian  organik,” harap wanita yang ramah tapi tegas itu. Nuki  optimis pertanian organik makin diminati petani. Apalagi  jika terbukti memberikan hasil lebih kepada petani. Untuk  itu Nuki tak segan-segan membantu petani.

LM3 yang dipimpinnya memberikan penyuluhan  dan pembinaan kepada para petani. Bahkan ia  menyediakan modul-modul pelatihan/cara bertani dengan  metode SRI, cara pertanian organik, cara membuat pupuk  cair, kompos, dan obat-obatan organik.   Uniknya, Nuki rajin mendatangi petani untuk  memastikan bahwa petani menerapkan secara benar  metode SRI dan pertanian organik malai panjang petani  untung yang diperkenalkannya. Ia juga mengajak para PPL  dan PPS untuk bersatu padu menyejahterakan petani.

Menurutnya, Islam mengajarkan umatnya untuk  berjamaah. Shalat berjamah lebih afdhol ketimbang shalat  sendiri-sendiri. Ini maknanya segala aktivitas, termasuk  bertani lebih bagus kalau dilakukan secara bersama-sama.  “Keutamaan berjamaah tidak hanya untuk shalat, tapi juga  untuk pertanian. Bertani dengan berkelompok lebih baik  dan lebih barokah,” ujar wanita kelahiran Majalengka, 20  April 1956, itu.

Nuki menuturkan, jika kita menanam padi dan  berhasil memanennya, itu tentu bagus. Tapi, andaikata  tidak berhasil, misalnya karena padinya dimakan wereng,  kita harus ikhlas sebab wereng juga makhluk Allah.  “Bertani itu penuh dengan barokah karena ada hal-hal yang  tidak bisa dikalkulasi dengan rasio kita,” terang wanita yang  menjadi santri Pabelan selepas SMP.

Nuki yang mengaku mengenal metode SRI dan  pertanian organik dari buku-buku/majalah yang pernah  dibacanya itu, mengatakan kendala bagi pengembangan  metode SRI dan pertanian organik adalah ketersediaan modal dan pembimbingan. Karena itulah ia meminta  kepada petani yang sukses untuk menularkan ilmunya  kepada petani yang lain.

Menurut Nuki, petani harus peduli dengan  kesuburan tanah yang menjadi tempat bercocok tanam  sepanjang masa. Sebelum ada LM3, ia sudah 2-3 kali  mencoba menanam dengan sistem organik agar petani juga  mau mencobanya. Dan hasil ujicobanya ini baru terlihat  beberapa tahun kemudian. Setelah berhasil, barulah para petani menirunya.

“Di pesantren, kita mengajarkan hal-hal yang praktis dan nyata. Tadinya mereka tidak percaya menanam satu bibit bisa tumbuh anak sampai 30,” kenang Nuki.

Mantan Kepala Desa (Kades) Pabelan, 1989-2007,  itu juga membuat pupuk organik, obat-obatan organik, dan  juga membuat starter pupuk organik yang diberi nama  Power. Pengalaman ini kemudian ia tularkan kepada petani, baik secara individu maupun melalui kelompok tani binaan seperti yang terdapat di Desa Baturono.

Nuki mengaku tidak gampang mengubah perilaku  petani yang sudah puluhan tahun menerapkan metode  pertanian konvensional. Karena itulah ia tidak  mengharuskan petani binaannya untuk mengikuti semua ketentuan yang berlaku dalam metode SRI. Penggunaan pupuk urea, misalnya, tidak perlu langsung dihilangkan sama sekali.

Tapi sedikit demi sedikit dikurangi. Baru setelah  3-5 kali musim tanam, pupuk organik diterapkan sepenuhnya. Selain itu, jarak tanam juga tidak perlu langsung jarang. Jika petani merasa jarak tanam yang ia anjurkan (30×30 cm2) dinilai masih meninggalkan ruang ‘kosong’, petani tak mengapa menanam dengan jarak tanam 20×20 cm2. Sebab Nuki yakin kalau petani sudah menerapkan tanam tunggal dengan air macak-macak,

maka petani akan melihat rumpun padi yang banyak dan saling  berdesakan’ sehingga pada musim tanam berikutnya petani akan menjarangkan jarak tanamnya.

Upaya Nuki menyebarkan teknologi pertanian yang ramah lingkungan didukung oleh para PPL dan PPS  yang ada di wilayah itu. Demikianlah usaha keras dan dilakukan bersama-sama akan menuai hasil.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DENGAN TELUR MEMBERDAYAKAN DAN MENCERDASKAN GENERASI MUSLIM LM3 AL MUNIROH

LM3 yang beralamat di Jalan Pendidikan No.1 Pangkah Wetan-Ujung Pangkah-Gresik- Jawa Timur dengan jarak 30 Km dari ibukota kabupaten ini mempunyai Program Mulia yaitu “Mencerdaskan anak Bangsa melalui Jum’at Bergizi Santri”.  Setiap dua minggu sekali, di minggu kedua, menyediakan telur gratis bagi santri Pondok Pesantren Al Muniroh yang jumlahnya 105 orang.  Program ini diimplementasikan dalam rangka turut mencerdaskan anak bangsa.  Dengan telur, kualitas generasi muslim terus meningkat.

Sebelum LM3 Al Muniroh didirikan pada tahun 2011, Pondok Pesantren Al Muniroh sudah menjalankan usaha peternakan kecil-kecilan, yaitu dengan memanfaatkan lahan yang tersedia seluas 1,55 Ha melalui beternak ayak buras (50 ekor), kambing (15 ekor), ayam Arab (100 ekor), ikan patin (1000 benih) dan ikan lele (1000 benih).  Tujuannya adalah selain untuk memberikan pembelajaran ekonomi di bidang peternakan kepada santri sebagai bekal hidup sehingga “zikir, pikir dan amal sholeh” terus menerus diamalkan juga memberi motivasi kepada masyarakat sekitar untuk mengkonsumsi hasil ternak dalam rangka memenuhi kebutuhan protein keluarga.

 

Dengan rekomendasi dari Dinas Kelautan, Perikanan,  dan Peternakan Kabupaten Gresik, dalam hal ini Bidang Peternakan, LM3 Al Muniroh mengajukan proposal bantuan dana untuk usaha peternakan ayam petelur yang dikelola santri Pondok Pesantren Al Muniroh ke Direktorat Jenderal Peternakan – Kementerian pertanian.   

 

Pertimbangan ayam petelur dipilih sebagai usaha khusus LM3 ini adalah karena ayam petelur merupakan “usaha hari ini” dalam artian setiap hari bisa memberikan hasil atau panen dan jangkauan masyarakat yang memanfaatkan hasilnya lebih banyak dari ternak lainnya. 

 

Dalam perkembangan usaha ayam petelurnya, LM3 Al Muniroh memulainya dengan 850 ekor ayam siap bertelur pada tahap pertama, yaitu pada Oktober minggu ke III-IV tahun 2011.  Pada Januari minggu ke IV tahun 2012, ayam petelur tahap pertama ini mulai bertelur sebesar 10%, kemudian meningkat menjadi 30% pada Februari minggu I tahun 2012.  Selanjutnya meningkat menjadi 50% di minggu III Februari 2012, dan menjadi 75% setelah minggu III Februari sampai dengan minggu II Maret 2012.  Pada April minggu II tahun 2012, pembelian ayam siap bertelur dilakukan sebanyak 325 ekor sementara produktivitas ayam petelur pada pembelian tahap pertama naik turun di kisaran 50% sampai dengan 75% dari bulan Maret sampai dengan Desember minggu ke II tahun 2012.  Pada bulan September minggu II tahun 2012, LM3 Al Muniroh melakukan pembelian ayam siap bertelur tahap III sebanyak 275 ekor.

Dalam rangka menghemat biaya pakan untuk ayam petelurnya, LM3 Al Muniroh melakukan uji coba pembuatan ransum sendiri pada minggu II Oktober 2012 dan memberikannya kepada ayam petelur kelompok pertama.  Ternyata, pakan hasil uji coba yang diberikan kepada ayam-ayam ini tidak berhasil, dimana mulai minggu III Oktober 2012 sampai dengan Januari minggu III tahun 2013 ayam-ayam tersebut tidak ada yang bertelur.  Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, sebagian besar ayam petelur kelompok pertama yang tidak bertelur ini diafkir, sebagian besar dijual dalam bentuk pedaging pada Januari minggu IV tahun 2013 dan sebagian lagi dipotong untuk memenuhi kebutuhan makan santri.  Dengan memaksimalkan kelompok ayam yang ada yaitu ayam-ayam dari hasil pembelian tahap II dan III serta sisa-sisa ayam kelompok I yang masih dapat diselamatkan, usaha ayam petelur LM3 Al Muniroh yang berjumlah 700 ekor terus berlangsung dari Februari minggu I tahun 2013 sampai sekarang (September 2013).

Dengan adanya pendampingan dari Mantri Ternak wilayah Unjung Pangkah dan Sidayu (Bapak Sucipto) serta Penyuluh Pertanian Desa Ujung Pangkah Wetan (Bapak Sugeng Mulyadi), LM3 Al Muniroh sudah dapat membuat ransum sendiri setiap 10 hari sekali.  Bahan pakan berupa jagung dan dedak dibeli dari petani setempat, sedangkan konsentrat dan mineral dibeli sudah dalam bentuk jadi untuk campuran jagung dan dedak tersebut.  Produksi yang dihasilkan perhari dari 700 ekor petelur adalah 600 butir atau 85,71%

 

Usaha ayam petelur yang dikelola oleh LM3 Al Muniroh ini sangat bermanfaat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, mengingat masyarakat yang merasakan manfaatnya sudah tak terhitung jumlahnya.  Hal ini ditunjukkan dengan permintaan telur ke LM3 Al Muniroh yang cukup tinggi.  Untuk kebutuhan telur Ujung Pangkah sendiri, LM3 ini belum bisa memenuhi karena sebagian besar produksi sudah mengalir ke 25 kios pedagang.  Kemitraan LM3 Al Muniroh dengan pedagang ini tidak diikat dengan MoU, melainkan atas dasar saling percaya.

 

Selain memproduksi telur ayam, usaha ekonomi LM3 Al Muniroh adalah menjual kotoran ternak ayam untuk petani tambak yang perlu pupuk (3 orang petani) yang diambil setiap 15 hari sekali sebanyak 15 sak @ 60 Kg.

 

Dalam usaha ayam petelur ini, Alumni dan Santri Senior Pondok Pesantren Al Muniroh serta masyarakat sekitar dilibatkan dalam mengelola ternak ayamnya.  Setiap harinya ada 5 orang yang kegiatannya antara lain memberi makan pada waktu pagi dan siang hari, mengambil telur dan membersihkan kandang pada sore hari serta mencampur pakan setiap sepuluh hari sekali.   Atas jasa mereka, masing-masing menerima bayaran sebesar Rp. 600.000,- per bulan dari usaha ayam petelur ini.

 

Dalam upaya memberdayakan santri dan masyarakat sekitar, LM3 Al Muniroh memotivasi mereka untuk beternak ayam petelur.  Dari pertengahan tahun 2012 sampai saat ini (September 2013) sudah ada peternak ayam petelur yang berusaha sendiri dimana sebelumnya belajar usaha dari LM3 ini.

 

Keberhasilan LM3 Al Muniroh tidak lepas dari pendampingan Mantri Ternak (Bapak Sucipto) dan Penyuluh Pertanian (Bapak Sugeng Mulyadi) dengan mengingatkan pengelolanya untuk selalu memperhatikan kebersihan, dan vaksinasi ayam petelur.   Dalam rangka mengurangi biaya produksi melalui proses perhitungan yang lebih baik, LM3 ini ke depan berencana membeli Day Old Chicks (DOC) sebagai bibit ayam petelur yang akan diusakan.  Jadi tidak lagi membeli Pullet (ayam dara siap bertelur) karena biaya dengan membesarkan DOC lebih rendah dibandingkan dengan harga pullet.  LM3 ini juga berencana membuat kompos dari kotoran ayam dengan dibantu petugas dari Dinas dan Penyuluh Pertanian. 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Semangat Meng-Update Jiwa Kewirausahaan

Kegiatan  profesionalisme staf yang diselenggarakan oleh Pusat Pelatihan, yang bertema “Road Map To Success, yang disampaikan oleh Dr. Abdul Basit,  Beliau menyampaikan materi yang penuh dengan makna dan motivasi selama  3 jam, mulai pukul 10.00 sampai jam 13.00. pada tanggal 21 Mei 2012. Biasanya Dr. Abdul Basit dapat menyampaikan materi tersebut sekitar 6 jam. Salahsatu buku yang ditulis beliau adalah grafik-gafik kehidupan.
Penilaian terhadap dinamika kehidupan setiap orang akan berbeda. Agar grafik kehidupan dari masing-masing diri meningkat dapat dilakukan selalu membaca, mengikuti pelatihan motivasi dan mengenal orang-orang yang sukses.

Posted in Uncategorized | Leave a comment